Menjaga Marwah Santri


Oleh: Multazam Ahmad

MENURUT rencana Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 22 Okober 2020 akan menghadiri Hari Santri Nsional (HSN) ke-6 di Jakarta secara virtual. Tema yang diusung “Santri Sehat Indonesia Kuat” Menurut KH Abdul Ghafar Rozin Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama ( RMI NU ), untuk peneguhan semangat kemandirian santri dan menjaga NKRI.

Ada tiga sehat dan kemandirian dalam prayaan yang diusung di Hari Santri Nasional (HSN). Pertama , mandir dalam tradisi, yakni tradisi keilmuan dan budaya pesantren yang harus dijaga dan tidak boleh luntur termakan zaman. Dalam catatan sejarah mengingatkn pula berdirinya sebuah pondok pesantren yang saat ini mencapai lebih dari 27.230 pondok pesantrendi Indonesia ( data Kementerian Agama 2013).

Pimpinan pondok pesantren atau kiyai memilki tugas sangat strategis.Di samping jumlah santri yang sangat banyak,mereka dituntut menjdi agen-agen pembangunan dan pembaharuan di bergagai bidang kehidupan,seperti bidang pendidikan,mencetak kader ulama, ekonomi dan juga agen-agen yang lain.

Kiyai dan santri memiliki tugas pokok yang mulya untuk memahami agama secara mendalam dan benar untuk menjawab persoalan-persoalan keumatan. Artinya santri dan masyarakat adalah dual hal yang tidak boleh terpisahkan.

Spirit ini sebagaimana di jelaskan “ Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”(QS.At- taubah: 122).

Kedua, secara politik santri atau pondok pesantren untuk tidak menjadi obyek politisasi lima tahunan, terlebih dalam saat pileg maupun pilpres yang akan berlangsung.Kita bisa mencontoh kemandirian dan loyalitas santri terhadap bangsa Indonesia tempo dulu yang tidak pernah lekang walaupun dalam kondisi darurat . Kita saksikan, ketika kaum muslimin Indonesia menghadapi delima sebuah kepentingan agama dan dan kebangsaan ,para kiyai dan santri mampu mengambil sikap yang tegas untuk kemaslahatan umat.

Sebagai langkah konkrit sikap tegas para kiyai setelah beberapa bulan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945,pemerintah kolonial Belanda lewat organisasi Netherlands Indies Civil Administration ( NICA) yang berusaha melaksanakan misinya kembali untuk menjajah lagi Indonesia dengan licik membonceng tentara sekutu.Melihat belagat ini KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) bersama para ulama yang lainya di seluruh Jawa dan Madura berkumpul di Surabaya pada 22 Oktober 1945 untuk tetap memertahankan kemerdekaan sebagai perang suci alias jihad yang lebih populer disebut deklarasi “Resolosi Jihad”.

Isinya menegskan bahwa membela Tanah Air hukumnya fardhu ain ( kewajiaban perorangan) untuk setiap muslim Indonesia wajib untuk ikut berperang melawan penjajah mempertahankan kemerdekaan. Menurut Gunaji (2009) Resolosi Jihad yang dipelopori KH Hasyim Asy’ari dan kaum santri lainya merupakan penentu berlanjut atau tidaknya kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan kedaulatan NKRI.

Kemandirian kiprah santri untuk mengurus bangsa tidak diragukan lagi,bahkan kita melihat pada era sebelum kemerdekaan mengenal tokoh-tokoh ternama yang notebene dari kalangan santri.Seperti, KH Mas Mansur,KH Hasyim Asy’ari,KH Ahmad Dahlan,Ki Bagus Hadikusumo,KH Kahar Muzakkir,Abdul Hamid Hakim,HOS Cokroaminoto dan lain-lain. Bisa jadi apresiasi pemerintah Presiden Jokowi dengan pertimbangan tersebut ditetapka 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Ketiga, kemandirian secara ekonomi. Kehidupan pesantrensejak dulu swadaya masyarakat untuk menghidupi pendidikan pesantren.Karena pesantren tidak ada yang negeri semua swasta dan tidak bergantung pada APBD maupun APBN. Saat sekarang upaya kemandirian pesantren melalui unit-unit usaha cukup menggembirakan meski tidak semua pondok pesantren memiliki unit usaha.

Misalnya, pondok pesantren Sidogiri Pasuruhan Jawa Timur,memilki banyak unit usaha MBT UGT,Ritel Basmalah, yang sangat signifikan untuk menopang kehidupan pesantren. Ada lagi unit usaha pondok Pesantren Pertanian Bogor Jawa Barat,yang memilki unit usaha pertanian dan peternakan.

Unit-unit usaha tersebut sangat besar kontribusinya dalam kemandirian pondok pesantren.Potensi pengembangan usaha di kalangan pesantren sangat setrategis . Ada dua hal yang menjadi catatan dalam menghidupi lembaga pesanten. Pertama, perlu managemen yang baik dalam pengelolaan pondok pesantren untuk mencari alternatif membentuk unit usaha. Kedua, mengoptimalkan peran Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama ( RMI NU ) sebagai wadah pesantren untuk melihat keberhasilan pesantren yang telah memilki usaha. Harus membangun kebersamaan antar pesantren ,jangan sampai ada istilah pesantren kurus dan gemuk.


Di Kancah Politik
Sejak era reformasi bergulir, tokoh-tokoh besar yang notabene dari dunia pesantren bermunculan dan ikut mewarnai di kancah politik. Seperti Gus Dur,Amin Rais, Hidayat Nur Wahid, dan lainya tampil sebagai sebagai pemimpin bangsa baik di legislatif maupun eksekutif.Bahkan yang paling mutakhir KH Ma’ruf Amin menjadi Wapres untuk mendamping Presiden Jokowi dari kalangan santri.

Ada beberapa pertanyaan yang sering menggoda dilontarkan ke penulis setiap kita ngobrol di warung kopi membicarakan tentang eksistensi santri di kancah politik. Bisakah marwah santri di kancah politik tetap terjaga?
Pertanyaan tersebut bukan tidak beralasan. Merujuk SP Huntington(1968) ,bahwa kehidupan berbangsa dan bernegara selalu diikuti dengan rasionalisasi kekuasaan.

Kekuasaan yang semula bercorak religius akan di ambil alih kekuasaan yang bercorak sekuler. Lebih jauh lagi menurut Biingham Powell (1978) ,bahwa sekularisai dalam pengelolaan negara akan menghilangkan etika politik. Inilah tantangan kaum santri dewasa ini yang harus kita renungkan bersama.Sehingga marwah santri terjaga eksistensinya.

Dalam memperingati HSN ini, pertanyaan tersebut dijadikan pintu masuk untuk meneguhkan kelompok santri mampu menjawab tantangan zaman dan bisa berkiprah untuk bangsa dan negara sebagaimana santri zaman dulu. HSN jadikan sebagai kekuatan moral sebagai misi santri untuk amar makruf nahi mungkar. Wallahu a’lam bishawab.

Dr.H Multazam Ahmad,MA Alumni Pesantren APIK Muhammadun,Kajen –Pati. Sekretaris MUI Jawa Tengah dan Ketua Bidang Takmir Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah. Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here