Bonus Demografi Jawa Tengah, Peluang atau Ancaman


Oleh Nurul Kurniasih SST
Statistisi Muda pada Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekalongan

JANUARI lalu Badan Pusat Statistik baru saja merilis data Sensus Penduduk 2020. Agenda besar negara yang dilaksanakan 10 tahun sekali ini dimaksudkan untuk menyediakan data, komposisi, distribusi dan karakteristik penduduk di Indonesia.

Meskipun sedang dikepung pandemi COVID-19, Sensus Penduduk 2020 tetap harus dilaksanakan karena data ini sangat penting sebagai dasar penentuan kebijakan dalam berbagai bidang. Penduduk merupakan titik sentral pembangunan, karena perannya sebagai subjek sekaligus objek dalam proses pembangunan.

Dalam rilis hasil Sensus Penduduk 2020, BPS mencatat bahwa jumlah penduduk Indonesia pada bulan September 2020 berjumlah 270,20 juta jiwa. Bertambah 32,56 juta jiwa dibandingkan hasil Sensus Penduduk 2010.

Masih berdasarkan data rilis dari BPS, Sensus Penduduk 2020 mencatat penduduk Jawa Tengah pada bulan September 2020 ada sebanyak 36,52 juta jiwa. Jika dibandingkan dengan hasil sensus sebelumnya, jumlah penduduk Jawa Tengah mengalami peningkatan yang cukup berarti. Dalam jangka waktu sepuluh tahun yaitu tahun 2010 hingga 2020, jumlah penduduk Jawa Tengah mengalami penambahan sekitar 4,1 juta jiwa atau rata-rata 400 ribu jiwa setiap tahun.

Laju pertumbuhan penduduk di Jawa Tengah per tahun sebesar 1,17 persen selama kurun waktu 2010 hingga 2020. Dilihat dari sebaran penduduk, kabupaten/kota di Jawa Tengah dengan jumlah penduduk paling banyak tercatat dipegang oleh Kabupaten Brebes, yaitu sebanyak 1,98 juta jiwa dan jumlah penduduk paling sedikit tercatat di Kota Magelang yaitu sebanyak 122 ribu jiwa.

Hal lain yang tak kalah menarik untuk dicermati dari hasil Sensus Penduduk 2020 di Jawa Tengah adalah jumlah Generasi Z atau penduduk yang lahir tahun 1997-2012. Jumlah penduduk di Jawa Tengah yang sekarang berusia 8-23 tahun ini, tercatat mencapai 25,31 persen atau seperempat dari total penduduk Jawa Tengah, dan menempati proporsi kelompok usia terbesar. Proporsi terbesar kedua adalah generasi milenial, yaitu mereka yang lahir tahun 1981–1996 (perkiraan usia sekarang 24-39 tahun) dimana jumlahnya mencapai 24,93 persen. Sementara itu, generasi X menempati proporsi terbesar ketiga dari total penduduk Jawa Tengah. Generasi yang lahir tahun 1965-1980 (perkiraan usia sekarang 40-55 tahun) ini jumlahnya mencapai 22,53 persen.

Jika dikelompokkan berdasarkan usia, penduduk usia produktif atau mereka yang berada pada rentang usia 15-64 tahun ada sebanyak 70,6 persen. Sementara itu penduduk usia non produktif yaitu lansia (usia 65 tahun ke atas) dan penduduk usia 0-14 tahun hanya sebanyak 29,39 persen. Jumlah penduduk usia produktif yang jauh melampaui penduduk usia non produktif mengindikasikan bahwa Jawa Tengah sedang mengalami fenomena bonus demografi.
Bonus Demografi

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa Bonus Demografi adalah kondisi ketika penduduk usia produktif lebih banyak daripada penduduk  usia non produktif.  Usia produktif yang dimaksud ialah mereka dengan rentang usia 15-64 tahun. Sedangkan, penduduk usia non produktif adalah mereka yang berusia 0-14 tahun dan 65 tahun ke atas. Para pakar demografi memprediksikan bahwa pada 2020 hingga 2030 Indonesia akan mengalami fenomena bonus demografi.

Dalam ilmu ekonomi kependudukan, bonus demografi dimaknai sebagai keuntungan ekonomis yang disebabkan oleh semakin besarnya jumlah tabungan dari penduduk produktif sehingga dapat memicu investasi dan pertumbuhan ekonomi (Jati, 2015). Fenomena bonus demografi ditandai dengan penurunan rasio ketergantungan (dependency ratio) yang disebabkan oleh transisi demografi. Semakin tinggi persentase rasio ketergantungan menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk usia produktif untuk membiayai hidup penduduk usia belum produktif (usia 0-14 tahun) dan penduduk tidak produktif lagi (usia 65 tahun ke atas).

Berdasarkan hasil SP2020 rasio ketergantungan di Jawa Tengah sebesar 41,63 persen. Artinya setiap 100 penduduk usia produktif harus menanggung 41 penduduk usia non produktif. Angka ini menurun 8,69 persen dari rasio ketergantungan 2010 yang sebesar 50,32 persen. Penurunan rasio ketergantungan akan berdampak positif pada penurunan besarnya biaya pemenuhan kebutuhan penduduk usia non produktif sehingga sumber daya yang ada dapat dialihkan untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan penduduk.
Peluang atau Ancaman
Bonus demografi ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi membawa peluang bagi akselerasi pembangunan dan peningkatan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah. Namun di sisi lain justru menjadi ancaman ketika gelombang pasang pengangguran sudah tak mampu dibendung lagi. Jika hal ini terjadi tentunya makin menambah beban anggaran negara. Tingginya jumlah penduduk usia produktif berbanding lurus dengan jumlah angkatan kerja, yang artinya pada masa bonus demografi Jawa Tengah membutuhkan lapangan kerja dalam jumlah besar. Jika lapangan kerja yang tersedia tidak mencukupi, maka akan terjadi ledakan pengangguran di Jawa Tengah. Disinilah bonus demografi justru berbalik arah menjadi ancaman bencana demografi.

Perlu adanya pengelolaan sumber daya manusia usia produktif yang baik agar momen bonus demografi benar-benar bisa dipetik keuntungannya dalam melesatkan pembangunan Jawa Tengah. Pemerintah memiliki tugas besar untuk menangkap peluang emas bonus demografi, jangan sampai momen ini terlewatkan begitu saja. Sektor pendidikan menjadi kunci apakah Jawa Tengah siap menyongsong era bonus demografi atau justru tergilas oleh canggihnya peradaban baru. Sayangnya, wabah Covid-19 menjadi tantangan hebat dalam pengelolaan sumber daya manusia, salah satunya sektor pendidikan.

Pendidikan berbasis daring telah dipilih sebagai solusi pencegahan semakin merebaknya virus Covid-19. Akan tetapi, keputusan ini bukan tanpa resiko. Masih adanya guru maupun siswa yang tidak memiliki sarana dan prasarana untuk sekolah daring, akses internet yang terbatas serta pemahaman kemajuan teknologi informasi yang tidak merata juga kejenuhan siswa maupun guru menjadi tantangan dalam pelaksanaan pendidikan jarak jauh di masa pandemi ini. Perlu perjuangan dan solusi yang baik agar pengelolaan sumber daya manusia, bidang pendidikan terutama dapat dijalankan dengan lebih baik di masa pandemi ini agar bisa menciptakan kualitas sumber daya manusia (SDM) unggul untuk menyongsong era bonus demografi.

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk menyongsong fenomena bonus demografi adalah dengan meningkatkan dukungan pemerintah Jawa Tengah terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Stimulus permodalan di sektor industri terutama untuk skala UMKM sangat dibutuhkan terutama di masa pandemi. Besarnya kucuran dana desa sebaiknya tidak hanya fokus pada pembangunan infrastruktur, tapi dimanfaatkan untuk menggerakkan lagi roda perekonomian masyarakat yang lesu akibat serangan Corona.

Membangun kreativitas dan inovasi menjadi modal penting dalam menghadapi bonus demografi. Infrastruktur yang maju dan modern tanpa dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang mumpuni akan menjadi sia-sia. Kucuran stimulus permodalan diharapkan tidak hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. Membangun kreativitas dan inovasi penduduk usia produktif harus disesuaikan dengan perkembangan generasi mereka agar upaya ini akan berdampak positif terhadap penyerapan tenaga kerja sehingga angka pengangguran dapat ditekan. Besarnya populasi penduduk usia produktif diharapkan memiliki kapasitas dalam skala ekonomi sebagai motor penggerak perekonomian Jawa Tengah.

Bonus demografi mungkin tidak akan terulang kembali atau kalaupun terulang dibutuhkan jarak waktu yang sangat lama. Oleh karenanya kesempatan ini harus benar-benar dikelola serta diupayakan secara maksimal dengan memanfaatkan kesempatan yang ada. Investasi sumber daya manusia dan menciptakan lapangan kerja serta menggerakkan ekonomi kreatif menjadi titik penting yang harus dipersiapkan. Jika momentum ini berhasil diraih maka fenomena bonus demografi di Jawa Tengah akan menghasilkan peluang yang menguntungkan, bukan ancaman. Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here