BTS Meal dan Pergeseran Pola Konsumsi

Dwi Agus Styawan, S.Si., M.Sc.
Statistisi Pertama BPS Kabupaten Kebumen

BERBAGAI linimasa media sosial pada Rabu (9/6/2021) dibanjiri postingan tentang BTS Meal. Tagar tentang BTS Meal pun bergema di ruang udara maya. BTS Meal adalah produk makanan terbaru yang diluncurkan oleh salah satu gerai makanan cepat saji berkolaborasi dengan BTS, grup idola dari Korea.

Makanan instan ini langsung menjadi buruan para BTS Army, sebutan fans BTS, yang memang terkenal fanatik. Berbagai gerai makanan cepat saji tersebut sontak ramai dipenuhi BTS Army dan driver ojek online yang kebanjiran order BTS Meal. Mereka rela berjubel, menunggu berjam-jam, hingga mengabaikan protokol kesehatan untuk mendapatkan BTS Meal yang dikemas dalam kemasan khusus berwarna ungu tersebut.

Fenomena BTS Meal ini tentu menarik dari berbagai perspektif. Pada satu sisi, dalam perspektif industri musik dan marketing, fenomena ini membuktikan kekuatan hebat industri musik dalam menjual suatu produk. Kekuatan ini ditambah dengan dukungan media sosial mempercepat sekaligus memperluas gaung suatu produk hingga sudut-sudut kota.

Pada sisi lain, dalam perspektif demografi atau kependudukan, antusiasme BTS Army ini menunjukkan dua hal menarik, yaitu dominasi Generasi Z-Milenial dalam struktur penduduk Indonesia dan pergeseran pola konsumsi penduduk yang cenderung mulai menggemari makanan/minuman jadi.

Hasil Sensus Penduduk 2020 (SP2020) yang telah dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat mayoritas penduduk Indonesia merupakan Generasi Z dan Milenial. Proporsi Generasi Z di Indonesia sebanyak 27,94 persen atau 74,93 juta jiwa, sedangkan proporsi Generasi Milenial sebesar 25,87 persen atau 69,38 juta jiwa.
Kedua generasi inilah yang juga mendominasi BTS Army bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Hal ini tercermin dari hasil Sensus BTS Army 2020 yang mencatat bahwa lebih dari separuh BTS Army berusia kurang dari 18 tahun, dan hampir 43 persen BTS Army berusia 18 – 29 tahun (https://www.btsArmycensus.com/results). Dengan demikian, lebih dari 90 persen fans BTS di dunia berusia relatif muda yakni kurang dari 30 tahun.

Dominasi generasi muda ini menjadi pasar potensial bagi para pelaku industri, terutama industri kreatif, dalam memasarkan berbagai produknya. Para pelaku industri benar-benar mengoptimalkan karakteristik Generasi Z dan Milenial yang selalu lekat dengan gawai serta tidak bisa jauh dari media sosial. Mereka menggunakan media sosial sebagai media promosi dan pemasaran berbagai produk. Media sosial yang tidak terbatas ruang dan waktu menyebabkan penyebaran produk semakin meluas dan massif.

Hal ini secara tidak langsung mengakibatkan BTS Meal bukan hanya diserbu oleh BTS Army, tetapi juga oleh orang-orang non BTS Army yang secara psikologis cenderung penasaran dengan berita/informasi di media sosial. Dominasi Generasi Z dan Milenial ini menjadi ceruk pasar baru di Indonesia yang berusaha direbut oleh gerai makanan cepat saji tersebut. Bahkan gerai tersebut rela mengganti kemasan yang identik dengan warna merah menjadi ungu sesuai dengan warna ikonik BTS.

Strategi membidik Generasi Z dan Milenial ini bukan hanya untuk mendapatkan pasar baru pada masa sekarang, tetapi juga pada masa mendatang. Seiring dengan transisi demografi di Indonesia, kedua generasi ini pada masa mendatang akan cenderung meningkat. Sejalan dengan hal ini, Generasi Z dan Milenial juga akan menjadi segmen pasar yang terus tumbuh pada tahun-tahun mendatang.

Fenomena BTS Meal ini seharusnya juga membuka sudut pandang kita bahwa Generasi Z dan Milenial merupakan aktor potensial untuk menggerakkan perekonomian nasional pada masa kini dan nanti. Kedua generasi ini termasuk dalam usia produktif yang dapat menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Generasi Milenial yang saat ini berusia 24 – 39 tahun seluruhnya merupakan usia produktif, sehingga harus dioptimalkan sebagai motor penggerak pembangunan pada masa kini.

Adapun Generasi Z yang saat ini berusia 8 – 23 terdiri dari penduduk usia belum produktif dan produktif. Sekitar tujuh tahun lagi, seluruh Generasi Z akan berada pada kelompok penduduk usia produktif. Hal ini merupakan peluang dan tantangan bagi Indonesia, karena generasi inilah yang berpotensi menjadi aktor dalam pembangunan yang akan menentukan masa depan Indonesia.

Pergeseran Pola Konsumsi
Terlepas dari loyalitas dan antusiasme BTS Army terhadap grup idolanya, fenomena BTS Meal ini juga menyuguhkan gambaran pergeseran pola konsumsi penduduk Indonesia. Hal ini terlihat dari perubahan proporsi pengeluaran makanan dan nonmakanan berdasarkan kelompok komoditas.

Pada tahun 1998, secara umum mayoritas pengeluaran rumah tangga terbesar adalah untuk kelompok padi-padian sebesar 15,56 persen, sedangkan kelompok makanan/minuman jadi hanya 6,19 persen. Namun, setelah 22 tahun kemudian terjadi perubahan yang mendasar dalam pola pengeluaran, yaitu dari dominan kelompok padi-padian menjadi kelompok makanan/minuman jadi.

Pada tahun 2020, kelompok makanan/minuman jadi mendominasi struktur pengeluaran rumah tangga yakni sebesar 16,87 persen, sedangkan kelompok padi-padian hanya 5,45 persen. BTS Meal yang terdiri dari nugget ayam, kentang goreng, dan minuman bersoda ini termasuk dalam kelompok makanan/minuman jadi.

Pergeseran pola konsumsi penduduk yang terjadi setelah lebih dari dua dekade ini menggambarkan bahwa penduduk Indonesia semakin memiliki kecenderungan berpola hidup praktis. Mereka cenderung memilih membelanjakan pendapatannya untuk konsumsi makanan/minuman jadi.

Hal ini terjadi seiring dengan semakin meningkatnya jumlah generasi muda di Indonesia yang cenderung lebih menyukai makan di luar rumah (eating out) baik di kafe, restoran, foodcourt, ataupun warung makan pinggir jalan. Terlebih dengan kehadiran teknologi wifi di berbagai gerai makanan cepat saji membuat mereka semakin betah duduk berjam-jam, bermain media sosial, walaupun hanya ditemani secangkir kopi atau teh.

Pada satu sisi perubahan pola konsumsi ini menunjukkan adanya peningkatan pendapatan penduduk, sehingga mereka mampu membeli dan menikmati makanan/minuman siap saji. Akan tetapi pada sisi lain perubahan ini juga menggambarkan semakin terbatasnya waktu untuk menyiapkan/memasak makanan dan minuman di rumah.

Keterbatasan waktu ini antara lain disebabkan oleh jarak rumah ke sekolah/tempat bekerja yang relatif semakin jauh, kepadatan lalu lintas sehingga waktu tempuh perjalanan semakin meningkat, dan peningkatan persentase perempuan bekerja.

Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang diselenggarakan oleh BPS mencatat bahwa selama periode 2005 – 2021, partisipasi angkatan kerja perempuan meningkat dari 50,65 persen menjadi 54,03 persen. Sementara itu pada periode yang sama, partisipasi angkatan kerja laki-laki justru cenderung menurun dari 85,55 persen menjadi 82,14 persen. Hal ini mengindikasikan perempuan di Indonesia cenderung semakin aktif secara ekonomi, baik bekerja atau mencari pekerjaan.

Butuh Perhatian Serius
Perubahan pola konsumsi penduduk ini tentu harus menjadi perhatian serius pemerintah dan semua pihak terutama terkait aspek kesehatan, sebab makanan/minuman siap saji ini cenderung menimbulkan penyakit degeneratif seperti diabetes, darah tinggi, stroke, dan jantung koroner. Mercola, dalam artikelnya 9 Ways That Eating Processed Food Made the World Sick and Fat, menyatakan bahwa makanan/minuman jadi merupakan hasil dari proses kimia dengan menggunakan bumbu-bumbu yang mengandung bahan tambahan temasuk bahan pengawet.

Makanan/minuman jadi umumnya juga memiliki kandungan gula atau fruktosa, zat pengawet, dan lemak yang relatif tinggi. Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan pengawasan secara kontinu terhadap industri makanan/minuman, termasuk gerai-gerai makanan cepat saji, agar makanan/minuman yang disajikan tidak berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat.

Terlepas dari itu semua, kehebohan yang dibawa BTS Meal membuka mata kita mengenai terjadinya pergeseran pola konsumsi dan dominasi Generasi Z-Milenial dalam struktur penduduk Indonesia. Pergeseran pola konsumsi harus direspon secara bijak oleh pemerintah terkait dengan aspek kesehatan masyarakat.

Demikian pula dengan dominasi Generasi Z-Milenial harus dioptimalkan melalui perluasan kesempatan kerja dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Generasi merekalah yang akan menentukan wajah Indonesia pada masa depan.

Bagaimanapun juga kehadiran mereka dengan gawai di tangan tidak dapat diabaikan. Termasuk dalam jangka pendek ini, mereka juga yang akan meramaikan pesta politik 2024. Suara mereka tidak dapat dipandang sebelah mata. Mereka adalah kantong-kantong suara potensial yang layak diperjuangkan, sehingga selain moncer di lapangan, maka aktif di media sosial adalah pilihan yang tidak dapat dinafikan. Jatengdaily.com/yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here