Dwi Sula Urbanisasi

Oleh: Laeli Sugiyono
Statistisi Ahli Madya
BPS Prov Jawa Tengah

HINGGA kini, masalah umum yang dihadapi kota- kota besar seperti Kota Semarang ialah kesenjangan antara yang berkecukupan dan yang berkekurangan. Sementara itu, kemajuan ekonomi perkotaan (antara lain berkat kehadiran bonus demografi) mendahului daerah, bukan perkotaan. Kehadiran bonus demografi di perkotaan terutama oleh faktor pendatang yang umumnya berusia produktif sehingga menurunkan angka beban tanggungan penduduk di perkotaan.

Kehadiran bonus demografi di Kota Semarang akibat angka beban tanggungan penduduk yang rendah. Pada 2020, angka beban tanggungan penduduk Kota Semarang, berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), sebesar 38,89. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun) menanggung beban 38-39 jiwa penduduk usia nonproduktif (usia di bawah 15 tahun dan di atas 65 tahun).

Penurunan angka beban tanggungan penduduk sebagai dampak pertambahan penduduk usia produktif berpotensi kian meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Studi Zang Monan (2012) di Tiongkok menunjukkan bahwa setiap 1 persen penurunan angka beban tanggungan penduduk akan meningkatkan 0,115 persen pertumbuhan ekonomi.

Secara agregat kehadiran bonus demografi di Tiongkok menyumbang sepertiga pertumbuhan ekonomi di negara itu. Namun, kehadiran pendatang di perkotaan akibat urbanisasi bak pedang dwi sula. Jika diarahkan dan dikelola dengan baik, pendatang akan berkontribusi bagi kemajuan perekonomian kota. Namun, jika terabaikan, pendatang berpotensi meningkatkan aneka masalah di perkotaan.

Telah Terdeteksi
Dampak positif kehadiran pendatang hingga menambah jumlah penduduk perkotaan atas kemajuan ekonomi di perkotaan terdeteksi di banyak negara. Secara global, diungkapkan oleh Razali Ritonga (2019) sekitar 80 persen produk domestik bruto (PDB) dunia, menurut PBB, dihasilkan dari 54 persen penduduk perkotaan. Diperkirakan kelengkapan infrastruktur perekonomian dan perkembangan teknologi yang berjalan seiring pertambahan penduduk usia produktif menjadi motor penggerak ekonomi perkotaan.

Namun, padatnya penduduk perkotaan yang tak baik dikelola berpotensi meningkatkan aneka masalah di perkotaan: meluasnya wilayah tempat tinggal yang bukan peruntukannya seperti perkampungan liar dan kumuh, serta minim fasilitas penunjang kehidupan seperti air bersih, sanitasi, dan kebersihan lingkungan. Tumbuhnya perkampungan liar meningkatkan kerawanan keamanan dan ketertiban.

Perkampungan kumuh di perkotaan kini menjadi kantong kemiskinan dan pengangguran. Kondisi seperti ini menjadi tantangan pemerintah kota mewujudkan kota pintar dalam penggunaan teknologi informasi untuk meningkatkan perekonomian dan menyelesaikan aneka permasalahan sosial.

Buruknya perkampungan kumuh perkotaan pada gilirannya mendistorsi kualitas hidup penduduk, khususnya anak-anak di daerah itu. UNICEF (2016) menyebutkan kehidupan anak di perkampungan kumuh lebih buruk dari- pada kehidupan anak di perde- saan. Mereka rentan berinteraksi dengan tindak kriminal.

Daya Dukung
Aspek lain yang perlu diperhatikan ialah meski pendatang dapat memberikan kontribusi peningkatan ekonomi perkotaan, pemerintah juga perlu serius mencermati kemampuan daya dukung perkotaan dalam menampung penduduk yang kian padat. Kepadatan penduduk Kota Semarang semakin meninggi. Berdasarkan publikasi BPS Kota Semarang 2019, kepadatan penduduk Kota Semarang mencapai 4.855 jiwa per kilometer persegi.

Perhatian atas kemampuan daya dukung perkotaan sepatutnya jadi domain pemerintah provinsi Jawa Tengah. Bagi daerah kota dengan daya dukung yang menipis, pemerintah porovinsi Jawa Tengah perlu menyiapkan strategi agar pendatang terdistribusi ke kota lainnya.

Dalam konteks itu, kerja sama pengembangan Kawasan Industri Kendal (KIK) menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), pembangunan Kawasan Industri Brebes tidak hanya pemacu pertumbuhan ekonomi alternatif sebagai pemacu selain berasal dari Kota Semarang. Bagi Provinsi Jawa Tengah sekaligus pemecah konsentrasi penduduk yang menyebar ke daerah lain selain Kota Semarang atau dengan kata lain strategi ini dapat menekan laju urbanisasi ke Kota Semarang. Wallahu bisawab. Jatengdaily.com-yds