By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: FOTO: Masih Terjaga, Kearifan Lokal Usir Hama Burung
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Foto

FOTO: Masih Terjaga, Kearifan Lokal Usir Hama Burung

Last updated: 22 Januari 2021 08:40 08:40
Jatengdaily.com
Published: 22 Januari 2021 08:40
Share
SHARE

DI TENGAH maraknya peralatan pertanian modern yang kekinian, sebagian petani masih bertahan dengan cara lama untuk mengusir hama burung pipit atau emprit menjelang panen. Seperti yang dilakukan sejumlah petani di kawasan Gagaksipat dan Dibal, Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah ini.


Sejak pagi hari sejumlah petani sudah mendatangi areal tanaman padinya, untuk mengusir burung yang memangsa bulir padi jelang panen. Di antara petani itu, Karman, Slamet dan lainnya masih bertahan dengan model lama mengusir burung, seperti dengan memasang orang-orangan sawah atau memedi sawah, bunyi-bunyian kaleng, membawa bendera putih, hingga melempari burung menggunakan lumpur.


Pemandangan yang ada, ada keramaian di tengah sawah saat mereka mengusir burung. Mulai bunyi dari kaleng-kaleng yang dipasang dengan tali plastik, hingga teriakan petani dengan mengibaskan bendera putihnya. Sebuah kearifan lokal yang masih mereka pertahankan.


Para petani di Ngemplak Boyolali ini mengakui memang sekarang sudah banyak petani memakai jaring, pita berkelip atau pita perak bahkan suara ultrasonik untuk mengusir burung. Namun mereka memilih cara lama karena memang ini sudah dijalani turun temurun sejak zaman dulu. Dengan jaring kadang menjerat burung dan membuat burung itu mati. Sedangkan mereka cuma ingin mengusir burung tersebut.


Mengusir burung dengan cara konvensional ini diakui petani cukup melelahkan. Karena harus berkeliling sawah membawa bendera plastik atau sejenisnya agar burung takut. Hanya saja burung tersebut terkadang cuma berpindah tempat saat diusir dan tetap dikejar lagi oleh petani, inilah yang membuat petani harus bekerja keras.


Melempari burung dengan lumpur cuma bermodalkan bambu dan tenaga. Ini dianggap cara murah namun efektif meskipun harus memeras keringat dan tentu juga kesabaran, karena burung akan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.


Cara-cara tradisional mengusir burung yang masih dijaga pera petani Boyolali ini ternyata juga semakin membuat guyub petani. Karena mereka saling membantu mengusir burung di areal yang berdekatan dengan lahannya dan selalu berinteraksi di sawah, sembari ngobrol ngalor ngidul kalau kata mereka. Foto-foto: Jatengdaily.com/yanuar

You Might Also Like

FOTO: Fenomena Tahunan, Desa Ditenggelamkan Waduk Muncul Lagi
FOTO: Ketenangan Warga Lereng Gunung Merapi Sepanjang 2019
FOTO: Cerita Lalu Pit Onthel Hero, Pahlawan bagi Slamet
FOTO: Menjemput Rezeki di Waduk Cengklik
FOTO: Deretan Masjid Kuno di Solo Raya
TAGGED:burung pipitkearifan lokalmemedi sawahpengusir hama burungpetani boyolali
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?