By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Kemungkinan Nobel Sastra untuk Sastrawan Indonesia
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Kemungkinan Nobel Sastra untuk Sastrawan Indonesia

Last updated: 28 Desember 2021 17:32 17:32
Jatengdaily.com
Published: 28 Desember 2021 17:32
Share
SHARE

Oleh: Nia Samsihono

PENGHARGAAN Nobel Sastra selama ini menjadi berita yang lewat begitu saja dan tidak menjadi keinginan yang sangat bagi para sastrawan Indonesia untuk dapat terlibat pada ajang pemberian penghargaan itu. Penghargaan itu diberikan secara tahunan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia, Institut Karolinska, dan Komite Nobel Norwegia kepada individu dan organisasi yang membuat jasa-jasa menakjubkan dalam bidang kimia, fisika, sastra, perdamaian, dan fisiologi atau kedokteran.

Penghargaan-penghargaan tersebut dimulai pada 1895 atas kehendak Alfred Nobel. Beliau mendelegasikan pengurusan kegiatan pemberian penghargaan kepada Yayasan Nobel. Setiap penerima Nobel diberi sebuah medali emas, sertifikat, dan sejumlah uang yang diberikan Yayasan Nobel secara tahunan. Nobel Kesusastraan adalah satu dari lima penghargaan yang diberikan pada orang yang paling giat melaksanakan hubungan yang bersifat internasional, pendiri pergerakan perdamaian, atau berusaha mengurangi/melenyapkan peperangan.

Sejak tahun 1901, tidak pernah satu pun sastrawan Asia Tenggara yang memenangkan nobel Sastra. Tulisan Irsyad Mohammad yang berjudul Mengapa Hanya Dua Sastrawan Indonesia Yang Secara Resmi Pernah Dicalonkan Nobel? menarik untuk kita baca. Pada tulisannya ia mengatakan hanya Pramoedya Ananta Toer dan Denny JA yang menjadi calon peraih Nobel hingga tahun 2021 ini.

Mengapa hanya ada dua sastrawan yang baru dicalonkan menjadi peraih nobel di Indonesia? Ini menarik. Irsyad pada tulisannya menyatakan bahwa masyarakat sastra terpana mengetahui berita ini. Sudah diketahui bahwa publik atau individu mana pun tak dapat mencalonkan sastrawan untuk Nobel Sastra. Nomine peraih nobel sastra adalah sastrawan yang dipertimbangkan oleh panitia nobel dan diundang oleh The Swedish Academy.

Panitia nobel memiliki kriteria yang sangat ketat mengenai siapa yang diundang. Setiap tahun panitia Nobel hanya mengundang sekitar 300 tokoh/komunitas di seluruh dunia. Pada tulisan Irsyad Mohammad diinformasikan bahwa pada tahun 2021 Komunitas Puisi Esai Indonesia diundang panitia Nobel untuk menominasikan sastrawan Indonesia.

Irsyad Mohammad menuliskan bahwa undangan itu ada setelah Denny JA menulis esai mengenai Hadiah Nobel Sastra pada bulan Maret 2021. Pada esai itu, Denny JA menulis “Sejak 1901 hingga 2020, sudah 117 tokoh mendapatkan penghargaan Nobel Sastra. Mengapa tak satu pun dari 117 tokoh itu berasal dari Kawasan ASEAN?” Bukankah 10 negara ASEAN yang berpenduduk sekitar 660 miliar memiliki sastrawan-sastrawan berbakat?

Pertanyaan itu dapat kita jawab bahwa komunikasi atau informasi tentang karya sastra Indonesia ke masyarakat dunia sangat kurang. Banyak karya sastra Indonesia yang menginformasikan kehidupan budaya masyarakat Indonesia tidak diketahui oleh dunia karena ditulis dalam bahasa Indonesia, tidak diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

Kendala bahasa asing masih dimiliki sebagian besar penduduk Indonesia. Sehingga para penulis karya sastra Indonesia sulit menulis langsung dalam bahasa Inggris atau bahasa lainnya. Karya Pramoedya Ananta Toer sudah tersebar di masyarakat dunia dalam bahasa asing. Demikian juga buku-buku karya Denny JA sudah banyak diterjemahkan dalam bahasa Inggris.

Tidak hanya buku, kegiatan Denny JA bersifat sosial menggerakkan kehidupan sastra di Indonesia dan menginformasikannya ke masyarakat dunia dalam bahasa asing (Inggris) telah menarik perhatian. Penguasaan dan penginformasian karya sastra oleh Denny JA ke dalam bahasa asing melalui media massa secara daring juga sangat mendukung diketahuinya kiprah dan karya sastra Indonesia oleh masyarakat dunia.

Begitu gencarnya Denny JA menginformasikan kegiatan sastranya telah membuat Panitia Nobel meliriknya. Selamat kepada Komunitas Puisi Esai Indonesia yang mencalonkan Denny JA sebagai peraih penghargaan Nobel, semoga nama Indonesia tercatat dalam sejarah pemberian penghargaan Nobel dunia.

Penghargaan karya sastra di tingkat ASEAN juga ada, yaitu diinisiasi oleh Kerajaan Thailand. Kegiatan itu adalah pemberian Penghargaan Penulis The S.E.A Write Award di bidang sastra. The S.E.A Write Award diberikan kepada sastrawan berprestasi di tingkat Asia Tenggara yang telah menghasilkan karya sastra berupa kumpulan puisi, cerita pendek, novel, drama, cerita rakyat, hingga karya-karya ilmiah.

Dalam hal ini, semenjak tahun 1979, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan rapat penjurian untuk mengirim sastrawan Indonesia yang layak diikutkan ke pemberian Penghargaan The S.E.A Write Award. Berbeda dengan penghargaan Nobel. Penentuan calon penerima Nobel dipilih langsung oleh Yayasan Nobel. Berkat usaha Denny JA dengan menulis esai tentang penghargaan Nobel yang tidak pernah sampai ke ASEAN, Yayasan Nobel mulai melihat potensi sastrawan di Indonesia.

Gerak aktif Komunitas Puisi Esai yang dipimpin Denny JA dengan menerjemahkan karya-karyanya dibaca oleh Yayasan Nobel. Karya Denny JA sekitar 100 buku diterjemahkan dalam bahasa Inggris telah membuat orang asing dapat membaca pemikiran dan kehidupan rakyat Indonesia. Apa yang dilakukan Denny JA sangat positif. Semoga hal itu dapat memotivasi penulis atau komunitas sastra lainnya di Indonesia untuk membuat karya mereka terbaca masyarakat dunia. Karya-karya yang berkualitas dari para sastrawan Indonesia diharapkan dapat bersaing dengan karya para sastrawan di tingkat internasional.
Nia Samsihono adalah sastrawan, tinggal di Jakarta. Jatengdaily.com-st

You Might Also Like

Hari Ibu, Momentum untuk Berbakti
Menuju Petani Sejahtera di Tengah Pandemi
Ekonomi Berbasis Konsumsi
Pelaut Sang Penjaga Lingkungan
Quo Vadis Ranperpres Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama?
TAGGED:Nobel Sastra untuk Sastrawan IndonesiaPenghargaan karya sastra di tingkat ASEAN
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?