Menuju Petani Sejahtera di Tengah Pandemi

Oleh: Moh Fatichuddin
ASN BPS Provinsi Bengkulu

SEJAHTERA menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan), sedangkan kesejahteraan merupakan hal atau keadaan sejahtera; keamanan, keselamatan, ketenteraman; kesehatan jiwa; keadaan sejahtera masyarakat. Dari makna sejahtera dalam KBBI maka dapat dikatakan bahwa dimensi sejahtera itu luas meliputi seluruh aspek kehidupan manusia, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, keamanan dan sebagainya.

Berangkat dari dimensi sejahtera tersebut maka dalam lingkungan masyarakat, istilah sejahtera atau kesejahteraan biasanya disandingkan dengan kemiskinan, pengangguran dan Pendidikan. Semakin sejahtera seseorang maka dia tidak berada dalam kemiskinan, tidak dalam kondisi menganggur dan biasanya memiliki tingkat pendidikan tinggi.

Selanjutnya pada saat berbicara kesejahteraan yang rendah maka hampir semua mata akan mengarah pada pertanian. Karena selama ini rendahnya kesejahteraan, kemiskinan dan rendahnya pendidikan terindikasi berada di perdesaan atau pada penduduk yang bekerja di sektor pertanian. Tidak mungkinkah seorang petani itu merasakan sejahtera?

BPS Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 5 Mei 2021 menyampaikan bahwa kondisi pada bulan Februari 2021 dari 17,7 juta orang penduduk Jawa Tengah yang bekerja sebanyak 27,72 persen nya bekerja di sektor pertanian. Di Jawa Tengah sektor pertanian menjadi sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar, diikuti industri pengolahan sekitar 19,78 persen dan perdagangan mencapai 18,74 persen.

Jika kondisi Februari 2021 dibandingkan dengan kondisi Februari 2020 dan Agustus 2020, tingkat penyerapan tenaga kerja sektor pertanian mengalami kenaikan 1,96 persen dibanding kondisi Februari 2020 dan 1,44 persen di Agustus 2020. Kenaikan ini sangat mungkin sebagai cerminan efek domino dari merebaknya COVID-19.

Tingginya angka pemutusan kerja oleh perusahaan akibat harus menutup sementara atau tidak berproduksi, menyebabkan tingginya arus “balik” penduduk kota ke kampung halamannya dalam status “pengangguran”. Sesampainya di kampung halaman mereka terjun ke dunia pertanian untuk melanjutkan hidupnya, sehingga terjadilah peningkatan tenaga kerja di pertanian.

Menurut status pekerjaan utama di Februari 2021, status pekerja bebas di pertanian berada di angka 4,19 persen, lebih rendah 0,22 persen jika dibandingkan saat Februari 2020 dan lebih rendah 0,45 persen dibandingkan Agustus 2020.

Semoga angka ini sebagai indikasi adanya perubahan positif di status pekerjaan di sektor pertanian. Indikasi ditunjukkan oleh kenaikan jumlah tenaga kerja yang terserap di pertanian dibandingkan dengan penurunan angka status pekerja bebas di pertanian berbanding terbalik.

Kekuatan Pertanian
Indikator makro pertanian lainnya adalah peranan sektor pertanian dalam perekonomian di Jawa Tengah. Pada triwulan 2 tahun 2021 peranan sektor pertanian dalam struktur ekonomi Jawa Tengah sebesar 13,58 persen. Meski angka ini lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan 1 yang mencapai 14,73 persen. Namun sektor pertanian masih masuk dalam kelompok tiga besar lapangan usaha yang berperan dalam ekonomi Jawa Tengah.

Bertahannya peranan sektor pertanian dalam perekonomian Jawa Tengah menunjukkan kekuatan bertahannya di bawah gangguan pandemic COVID-19. Penurunan peranan di triwulan 2 tahun 2021 ini mungkin disebabkan mulai terbukanya kegiatan di sektor industry dan perdagangan. Ditunjukkan dengan kenaikan peranan kedua sektor pada triwulan 2 tahun 2021 ini.

Untuk melihat tingkat kesejahteraan petani, salah satu indicator yang biasa digunakan adalah nilai tukar petani (NTP), merupakan perbandingan antara indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks yang dibayar petani (Ib). Selama kurun waktu 2021 NTP Jawa Tengah dapat dikatakan mengikuti pola COVID-19 yang terjadi.

Pada awal tahun 2021 NTP Jawa Tengah berada pada posisi di atas 100 namun mulai menurun di triwulan 2 seiring munculnya kebijakan terkait COVID-19, di Februari 2021 angka NTP berada pada 100,37 hingga di akhir triwulan 2 bulan Juni 99,47 dan kembali berada di atas 100 di bulan September 2021 yakni 100,95.

Indikator lain yang mungkin menarik juga untuk mendekati bagaimana kesejahteraan petani adalah ekspor nonmigas komoditi pertanian. Bersamaan dengan peringatan hari kemerdekaan RI ke 76 Agustus 2021 kemarin pemerintah meluncurkan adanya merdeka ekspor untuk pertanian.

Merdeka Ekspor diinisiasi oleh Kementerian Pertanian (Kementan) dibuka langsung Presiden RI Joko Widodo pada 17 pintu ekspor Indonesia tanggal 14 Agustus tahun 2021. Dengan merdeka ekpor diharapkan produk pertanian dari petani dapat terdistribusi lebih luas dan lebih menguntungkan bagi petani.

Pada bulan Agustus 2021 BPS mencatat ekpor pertanian Jawa Tengah mencapai nilai US $15,10 naik 4,33 persen dibanding posisi ekspor di bulan Juli 2021. Namun angka ekspor di Agustus 2021 tersebut lebih rendah -24,16 persen jika dibandingkan Agustus 2020, fenomena menarik untuk ditelaah lebih lanjut.

Apakah di bulan Agustus 2020 saat COVID-19 relatif lebih tinggi statusnya dan mungkin tenaga kerja “korban covid-19” masuk di sektor pertanian, sehingga produksi pertanian lebih tinggi. Ataukah kondisi Agustus 2021 merupakan akumulasi penurunan kemampuan akibat dampak COVID-19, ataukah ada fenomena lain yang mungkin akan menjelaskan kondisi tersebut.

Menuju Petani Sejahtera
Beberapa indakator yang diungkap di atas dapat menjadi petunjuk awal bagaimana kondisi pertanian dan petani saat ini. Optimisme menuju petani sejahtera masih ada di balik angka-angka indikator tersebut. Faktor lain yang terjadi saat era COVID-19 ini dan sangat mungkin dapat meningkatkan optimisme yakni kemungkinan terjadinya peningkatan kebutuhan pangan.

COVID-19 yang mengharuskan masyarakat lebih lama di rumah, bisa memicu peningkatan kebutuhan pangan. Waktu yang sebelumnya dimanfaatkan di luar untuk bektivitas, dipaksa bergeser untuk melakukan aktivitas di rumah. Kahadiran anggota rumah tangga (ART) di kediaman lebih lama, menyebabkan kenaikan pangan yang dibutuhkan oleh rumah tangga.

Peningkatan jumlah ART yang berdiam diri tentunya akan menambah variasi dari makanan yang dikonsumsi. Artinya berdiam lebih lama di kediaman akan memicu terjadinya peningkatan konsumsi pangan, dan ini menjadi peluang bagi petani untuk meningkatkan produksi pertaniannya.

Faktor alam sangat mungkin meningkatkan optimisme, musim kemarau yang masih dihiasi oleh curah hujan di atas normal akan sangat mungkin menurunkan tingkat kekeringan lahan pertanian yang sering terjadi sebelumnya. Kondisi cuaca yang positif ini bisa memicu petani sebelumnya hanya menanam sekali dalam setahun menjadi lebih. Peningkatan frekwensi tanam panen ini tentunya akan meningkatkan pendapatan petani.

Namun demikian petani juga jangan hanya bergantung pada alam, karena alam berupa iklim atau cuaca adalah hal yang tidak dapat dikendalikan karena itu perlu strategi jitu untuk mengeliminir dampak negatif alam. Salah satunya teknologi, berbagai teknologi telah dihasilkan oleh peneliti baik di bangku akademik maupun di pusat penelitian pertanian. Teknologi sangat diyakini dapat memunculkan keyakinan diri pertanian untuk meningkatkan produksinya.

Teknologi telah mampu memperpendek umur tanaman untuk memproduksi buah/hasilnya. Padi biasanya baru dipanen pada umur sekitar 120 hari, dengan teknologi dapat diperpendek hingga hanya sekitar70-90 hari. Hilangnya hasil panen akibat proses pasca panen pun sangat mungkin diminimalkan dengan memanfaatkan teknologi.

Setelah faktor alam kemudian faktor ekonomi berupa peningkatan permintaan atau kebutuhan pangan di era covid-19 dan teknologi yang dapat memperpendek umur serta mengurangi hilangnya hasil panen. Selanjutnya yang mungkin dapat menunjang faktor-faktor tersebut optimal adalah adanya regulasi dari pemerintah.

Contoh regulasi yang mungkin menunjang optimisme menuju petani sejahtera adalah merdeka ekspor seperti diungkap di atas. Pengendalian harga-harga yang dibayar petani baik dari sisi input usaha petani tapi juga harga yang dikonsumsi sehari-hari oleh petani. Hendaknya harga yang terjadi di pasar adalah pertemuan antara harga yang menguntungkan produsen tapi sangat terjangkau oleh konsumen.

Sehingga selaku produsen petani dapat menikmati keuntungan dari hasil jerih taninya, tapi juga masih bisa menabung untuk masa depannya dari keterjangkauannya membeli barang-barang konsumsi. Serta regulasi-regulasi lain yang sangat mungkin dilahirkan oleh pemerintah untuk kesejahteraan petani.

Semua faktor dan regulasi pemerintah akan tidak bermakna tatkala para pihak, organisasi yang berkutat dalam pertanian tidak komitmen untuk bersinergi. Pemerintah menghasilkan regulasi yang berpihak pada petani, akademisi dan peneliti berhasil menelorkan teknologi untuk peningkatan produksi.

Investor berkenan meluncurkan modal untuk membantu petani sehingga petani tidak terjerat tengkulak. Pelaku bisnis memiliki nurani sehingga petani dapat menikmati lezatnya keringat bertani, dengan membeli produk pertanian dengan harga wajar dan menguntungkan petani namun juga tidak membebankan konsumen akhir.
Dengan tangguh dan tumbuhnya sinergi dalam kegiatan pertanian akan mengantarkan tercapainya perwujudan petani sejahtera. Petani Sejahtera, Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh. Jatengdaily.com-yds