Kirab Malam 1 Suro di Kota Solo Kembali Ditiadakan

Kirab kebo bule pada malam 1 Suro tahun 2019. Foto: yanuar

SOLO (Jatengdaily.com) – Kirab pusaka malam 1 Suro yang menjadi tradisi di Kota Solo kembali ditiadakan. Baik Pura Mangkunegaran maupun Keraton Kasunanan Surakarta yang bisa menggelar prosesi tersebut meniadakannya, karena masih masa pandemi dan Solo juga memberlakukan PPKM level 4.

Pada tahun 2020 lalu, prosesi kirab 1 Suro di Solo juga ditiadakan, karena saat itu juga sudah masuk masa pandemi COVID-19. Peniadaan kegiatan tersebut untuk menghindarkan kerumunan dan penularan COVID-19 yang masih marak. Seharusnya tahun ini malam 1 Suro jatuh pada Senin (9/8/2021) malam.

Juru bicara Pura Mangkunegaran Surakarta, Joko Pramudya menyatakan seperti tahun sebelumnya kirab pusaka ditiadakan karena pandemi. Ia menjelaskan alasan meniadakan kirab itu karena pemerintah masih menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4 untuk mencegah penularan COVID-19.

Namun, kata dia, beberapa kegiatan lainnya dalam memperingati malam 1 Sura atau Senin (9/8/2021) malam, seperti jamasan pusaka dan wilujengan masih diadakan secara internal dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) ketat.

Kepala Lembaga Dewan Adat ( LDA) Keraton Kasunanan Surakarta, Gusti Kanjeng Ratu (GKR), Wandansari senada menyatakan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningkrat kembali mediniadakan Kirab Pusaka Malam 1 Suro. Apalagi peringatan bertepatan dengan hari Senin (9/8) malam, dimana Kota Solo masih berstatus PPKM level 4.

Seperti Pura Mangkunegaran, Keraton Kasunanan Surakarta tetap akan menggelar beberapa kegiatan seperti doa bersama agar pandemi segera berlalu serta jamasan pusaka. Semuanya dilakukan secara internal tanpa mengundang tamu untuk menghindari kerumunan.

Tradisi Tahunan
Kirab 1 Suro merupakan prosis tardisi budaya tahunan di Kota Solo. Di Pura Mangkunegaran setelah serangkaian acara seperti jamasan pusaka, dilanjutkan kirab pusaka memutari tembok keraton. Yang unik dari prosesi ini, masyarakat akan mengikuti jalannya kirab di belakang rombongan pembawa pusaka.

Saat prosesi inilah, peserta kirab tanpa menggunakan alas laki dan tak mengeluarkan sepatah kata pun, sering disebut tapa bisu atau laku bisu. Konon tapa bisu ini sebagai simbol bentuk introspeksi diri terhadap hal-hal yang selama ini kurang baik

Rombongan pembawa pusaka hanya sekali memutari tembok keraton. Namun warga terus melanjutkan prosesi memutari tembok keraton, baik sendirian maupun berkelompok. Saat prosesi ini mereka masih menjalankan tapa bisu, yakni tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sedangkan itu prosesi di Keraton Kasunanan Surakarta biasanya digelar pukul 00.00 WIB, yang unik adalah diikutkannya kebo bule keturunan Kyai Slamet, hewan piaraan keraton sejak zaman dulu kala. Kerbau tersebut menjadi pengiring pusaka-pusaka yang dikirab sepanjang jalan.

Para prosesi dinihari tadi, kerbau Kyai Slamet berjalan di awal rombongan. Dan beberapa menit kemudian baru rombongan pembawa pusaka dari para abdi dalem. Masyarakat yang menyaksikan kirab ini relatif lebih banyak, karena rute yang dilewati juga lebih panjang sekitar tujuh kilometar mengitari kawasan Keraton Kasunanan. yds