Membangun Roh Menulis

6 Min Read

Oleh: Usman Roin *

PENULIS yang tidak produktif menulis, seakan-akan purnalah status penulisnya. Ungkapan tersebut, hakikatnya adalah renungan kecil penulis, yang saben pagi berusaha sekuat tenaga menulis catatan harian atau dalam istilah ngetren lazim dinamakan diary.

Hakikatnya memang benar, bila gelar penulis sudah disematkan, tentu produktivitas menulisnya harus dijaga. Jika hanya menulis secara temporer, seakan-akan penyematan gelar “penulis” belumlah relevan disampirkan kepadanya.

Lalu kenapa sebagai penulis harus tetap menulis? Pertanyaan ini tentu menarik untuk diulas. Karena jangan sampai, status “penulis” yang sudah disematkan kemudian semu oleh produktivitas yang tidak nyata. Ibaratnya dalam bahasa Dr. H. Mahfud Junaedi, M.Ag. (2017:330), teori saja tanpa ada kelanjutan berwujud praktek nyata hanyalah sebuah kesia-siaan (mubadzir). Alhasil, menurut penulis, hanya akan menjadi alumnus penulis, atau pernah menulis, dan sudah cukup hingga tidak perlu lagi menulis.

Perlu diketahui, penulis yang konsisten menulis digambarkan oleh Zainal Arifin Thoha (2009:15), sebagai orang yang pandai menghargai bakat diri. Hanya saja, bakat bukan menjadi faktor penentu bagi kita yang ingin menjadi penulis. Bakat menulis lahir dari bentukan kultur (Ahmad Faizin Karimi, 2018:3), atau stimulasi (Bambang Trim, 2011:3), yang harus dikonstruk.

Oleh karenanya, jika mulai dari pendidikan keluarga, sekolah dan masyarakat, konstruk kultur membaca, menulis, atau kedua-duanya terwujud nyata, tentu sosok inspiratif cinta membaca (love to read) dan cinta menulis (love to write) akan mudah didapatkan.

Konsistensi penulis dalam menulis, juga akan membangun jati diri menjadi penulis profesional. Terlebih, lowongan kerja menjadi penulis tidak banyak peminatnya. Suara yang santer, mengalahkan animo pendaftar CPNS atau PPPK yang hari ini sangat ditunggu jutaan calon pelamar.

Jika loker “penulis” sepi peminat, tentu peluang kerjanya terbuka lebar. Bahkan dalam analisa penulis, menjadi “penulis” itu sama dengan membuka lapangan kerja mandiri. Hanya saja, loker yang sudah terbuka lebar, masih saja banyak yang ogah belajar nulis menjadi penulis profesional.

Menjadi penulis, selain karena hal di atas, dari sisi “modal” yang diperlukan relatif mudah, murah, dan bisa dilakukukan siapa saja, ternyata juga kondisioning. Artinya, waktunya kitalah yang mengatur atau mengagendakan. Sebagai contoh, kenapa modal menulis itu mudah? Bila zaman dahulu seorang wartawan untuk menulis berita meskilah lekat dengan buku tulis kecil (blocknotes). Namun kini, hal itu bukan zamannya lagi.

Para jurnalis yang konsen menulis berita, cukup menggunakan android yang mereka miliki sebagai sarana menulis. Yakni, pada aplikasi Microsoft yang didalamnya sudah dilengkap “Word” sebagai papan ketik menulis atau aplikasi sejenis lainnya. Alhasil, menulis tidak selalu harus kudu memiliki laptop dahulu. Atau, harus membeli PC dengan spesifikasi yang tinggi.

Roh Menulis
Bangunan utama untuk menulis, hingga kemudian etos kerja menulisnya senantiasa muncul bisa dilakukan melalui hal berikut: Pertama, perbanyak membaca. Membaca adalah modal dasar untuk menulis.

Bahkan menurut Dr. H. Ikhrom, M.Ag, yang selain dosen penulis juga ahli dalam penelitian, pernah menyampaikan saat mata kuliah Review Jurnal, bahwa dasar utama menulis itu adalah membaca. Membaca kata beliau, seperti mengoneksikan pikiran dan sumber informasi ataupun pengetahuan di dalam bacaan.

Karenanya, tidak ayal bila Bambang Trim (2011:32), menyebut membaca sebagai “kompetensi awal” dalam menulis. Atau dalam bahasa M. Mufti Mubarok (2011:21), membaca diibaratkan “menginstal otak”. Maknanya, otak yang memiliki kecerdasan, kreatifitas linguistik, akan mewujudkan pengembangan potensi diri bila senantiasa di instal dengan aktivitas membaca.

Jika demikian, membaca haruslah menjadi kebiasaan yang disukai bila roh menulis ingin muncul. Mulai dari membaca media cetak (koran), online, buku, kitab, jurnal, diktat, website, blog, atau media lainnya yang bisa dijadikan rujukan menulis secara sahih.

Kedua, senantiasa memotivasi diri. Maknanya, menulis akan berhasil dituntaskan, bila kita pandai memotivasi diri. Motivasi yang penulis maksud adalah, meliarkan dahulu ide tulisan yang muncul, maupun saat proses menulis berlangsung, hingga kemudian selesai. Sebuah adigium mengatakan, bahwa pekerjaan baik adalah yang selesai.

Begitupula dengan tulisan yang baik, adalah yang dialirkan dahulu seliar-liarnya. Kemudian setelah selesai, baru diedit. Jika hal itu dilakukan, akan muncullah sugesti dalam diri, bahwa menulis itu mudah. Semudah menumpahkan apa saja yang ada di otak berwujud tulisan.

Ketiga, bergabung dengan para penulis. Roh menulis akan muncul dan tumbuh dalam diri, bila kita berkumpul dengan teman yang memiliki kesamaan hobi. Terlebih zaman now, untuk menyatukan pertemanan yang memiliki hobi menulis sangatlah mudah. Bisa melalui WA, telegram, facebook, dan lain sebagainya. Kehadiran grup penulis, akan memberikan penguatan antar sesama anggota tergerak melahirkan karya tulis.

Sebagai contoh, bila dalam group penulis ada salah satu tulisan yang terpublis media (cetak atau online), tentu yang lain akan meradang, panas dingin, tergerak untuk melahirkan karya tulis. Dari group penulis pula, saling menghargai, memberi emoji tercipta. Bahkan, mengingatkan untuk tidak lupa melahirkan karya tulis di tengah kesibukan yang mendera.

Gambaran simpel di atas, adalah resep minimalis agar roh menulis kita senantiasa tumbuh. Tentu, pembaca juga memiliki perspektif berbeda. PR bersamanya adalah, apapun profesi kita, konsistensi menulis perlu diciptakan. Konten tulisan menyejukkan perlu kita tebarkan. Sehingga aktifitas menulis yang kita lakukan meningkatkan kita pada level penulis profesional. Dan itu, sangat mungkin bisa kita lakukan. Jatengdaily.com-yds

* Penulis adalah Alumnus Magister PAI UIN Walisongo Semarang, pengurus Pergunu Jateng, dan penulis buku 50 Status Inspiratif (Semarang: YAPAPB Semarang, 2020), Menjadi Guru: Sehimpun Catatan Guru Menulis (Kendal: Pelataran Sastra Kaliwungu, 2019), Langkah Itu Kehidupan (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2013).

0
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.