Nilai Tukar Petani dan Harga Gabah Jawa Tengah

Oleh: Laeli Sugiyono
Statistisi Madya pada BPS
Provinsi Jawa Tengah

POLEMIK impor beras berimbas pada turunnya harga gabah di tingkat petani dan konsekuensinya telah menurunkan tingkat kesejahteraan petani. Ini dapat dideteksi dari ukuran nilai tukar petani. Berdasarkan Permendag Nomor 24 Tahun 2020, Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani sebesar Rp 4.200 per kilogram (kg).

Harga gabah petani sudah di bawah HPP. Seperti di Blora hanya Rp 3.300 per kilogram (kg), di Kendal Rp 3.600 per kg dan di Ngawi Rp 3.400 per kg.

Turunnya harga gabah di tingkat petani tersebut telah memerosotkan Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah Maret 2021 sebesar 99,30 atau turun -1,06 persen dibanding NTP bulan sebelumnya sebesar 100,37. Penurunan NTP disebabkan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) mengalami penurunan -1,05 persen sementara Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) meningkat sebesar 0,01 persen.

Subsektor yang mengalami penurunan NTP antara lain Subsektor Tanaman Pangan sebesar -2,58 persen, dan subsektor Perikanan sebesar -0,47 persen, Sementara, subsektor yang mengalami kenaikan indeks meliputi subsector Hortikultura sebesar 2,12 persen, subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,13 persen, dan subsektor Peternakan sebesar 0,29 persen.

Penurunan NTP sub sektor Tanaman Pangan yang tercatat paling besar tentu sudah dapat diduga karena merosotnya harga gabah di tingkat petani, dampak rencana pemerintah mengimpor beras satu juta ton tahun 2021.

BPS merilis bahwa Pada Maret 2021, komoditas pertanian yang mengalami penurunan harga, antara lain gabah, ketela pohon, buncis, ketimun, kacang panjang, petsai, kol, lada, telur ayam ras, gurame, bawal, gabus, kembung, dan tenggiri. Sedangkan komoditas yang mengalami kenaikan harga, antara lain kacang tanah, cabai rawit, tomat, bawang merah, kacang merah, pala biji, teh, sapi perah, ayam kampung, kepiting, belanak, kuniran, kerapu, dan kepiting laut.

Fakta dan data berbicara tidak sekadar argumen narasi yang masih tercatat dalam rencana pemerintah akan mengimpor beras satu juta ton tahun 2021 pada saat fenomena panen raya padi tengah berlangsung, meski belum terealisasi tapi gaung impor ini nyata telah memperburuk situasi di lapangan, sontak direspon harga gabah di tingkat petani anjlok.

Kenyataan ini memberikan pembelajaran yang sangat berharga dalam tata kelola informasi yang harus dilakukan dengan penuh kehati hatian dan bijaksana agar tidak timbul gejolak bak bola salju. Menggelinding sangat dahsyat yang ujungnya merugikan petani. Wallahu alam bisawab. Jatengdaily.com-yds