Oleh: Ahmad Fahrur Rohim, S.ST, MM
Statistisi Ahli Muda BPS Kabupaten Jepara
VIRUS COVID-19 varian baru B.1.1.529 atau Omicron akhir-akhir ini mengagetkan masyarakat dunia. Bagaimana tidak, menurut Epidemiolog Griffifth University, Dicky Budiman virus yang ditemukan pertama kali di Afsel ini mempunyai kemampuan 5 kali lebih menular dibandingkan virus corona yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China tahun 2019 lalu.
World Health Organization (WHO) menjelaskan berdasarkan bukti awal bahwa peningkatan risiko infeksi ulang dengan varian Omicron, dibandingkan dengan Variant of Concern (VOC) lainnya. Kondisi tersebut sontak membuat dunia menjadi waspada kembali. Banyak negara di dunia seperti Inggris, Australia, Jepang dan lainnya yang menutup pintu masuk negaranya dari warga asing, yang utamanya berasal dari Afrika Selatan dan negara lain yang sudah ditemukan kasus Omicron.
Tidak terkecuali Indonesia, kabar tersebut juga membuat beberapa bandar udara di Indonesia yang merupakan salah satu pintu masuk warga asing ke Indonesia ikut hati-hati. Menurut Manajemen Angkasa Pura 2, Bandar Udara Sukarno Hatta Jakarta telah memperketat penjagaan pada pintu kedatangan luar negeri dan membatalkan penerbangan dari negara yang masuk daftar hitam varian Omicron.
Sedangkan menurut Juru Bicara Satgas Covid-19 Jatim, dr. Makhyan Jibril Alfarabi pihaknya melakukan penutupan Bandar Udara Internasional Juanda dari masuknya warga asing ke Jatim.
Kondisi tersebut sebenarnya berpotensi menurunkan wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk Indonesia. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa terjadi penurunan tipis sebesar 0,83 persen wisman bulan Oktober 2021, jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Namun pada sisi lain, terjadi peningkatan wisman periode Oktober 2021 dibandingkan bulan September 2021 sebesar 21,73 persen. Wisman yang berkunjung Indonesia pada Oktober 2021 melalui moda angkutan udara sebanyak 15,72 ribu kunjungan, moda angkutan laut sebesar 375,02 ribu kunjungan dan melalui angkutan darat mencapai 95,52 ribu kunjungan.
Namun, dengan adanya kasus varian Omicron di atas, maka masyarakat Indonesia maupun warga asing tentu juga akan mengurungkan niatnya untuk ke luar negeri. Hal tersebut tentu akan membuat menurunnya kunjungan wisman, padahal pariwisata tanah air sudah mulai menggeliat beberapa bulan terakhir pasca Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat.
Adanya varian Omicron di beberapa negara di atas cukup membuat masyarakat agak kaget. Hal tersebut mengingat beberapa bulan terakhir kasus COVID-19 yang terjadi di Indonesia cukup mereda. Wajar memang pemerintah Indonesia juga cukup waspada dengan varian baru ini. Selain siap di pintu masuk bandara, sebaiknya pemerintah juga perlu mewaspadai pintu masuk lewat pelabuhan dan jalur darat.
Pengetatan warga asing yang masuk ke Indonesia, sebaiknya juga tidak hanya sekadar menyasar yang berasal dari negara yang sudah ada kasus varian Omicron. Namun, perlu juga memeriksa apakah beberapa minggu terakhir pernah melakukan kunjungan ke negara-negara berkasus melalui pemeriksaan paspor.
Dengan adanya kewaspadaan tinggi dan antispasi sejak awal, semoga virus Omicron tidak singgah di tanah air. Selain itu upaya pemerintah yang terus meningkat capaian vaksin, diharapkan juga semakin mempercepat negara kita ini terbebas dari virus Covid-19. Dengan demikian, pariwisata semakin menggeliat dan ekonomi dapat menjadi tumbuh. Jatengdaily.com-yds


