Oleh : Ahmad Rofiq
ALHAMDULILLAH atas pertolongan dan kasih sayang Allah, kita menjalani ibadah puasa selama satu minggu ini dengan suasana hati gembira. Ini karena bukti-bukti (burhan) keimanan dalam hati dan fikiran kita, mampu menangkap sinyal dan keindahan nilai perintah puasa di bulan suci Ramadhan. Bulan penuh keberkahan, kenikmatan, dan sekaligus bulan untuk muhasabah (introspeksi diri) agar selesai kita berpuasa, suasana hati dan fikiran kita terasa lebih jernih, kembali kepada kesucian (fithrah) karena insyaa Allah dosa kita telah mendapat siraman maghfirah dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Bahwa dalam kenyataan keseharian, kita masih menyaksikan dalam jumlah banyak, saudara-saudara kita yang dengan tanpa beban, makan, minum, dan merokok, di tempat terbuka, warung-warung juga masih buka seperti biasa, kita maknai itu sebagai “instrument ujian” yang dapat meningkatkan pahala ibadah puasa kita. Tentu, apabila kita masih mampu mempertahankan puasa kita terhadap pancaindra kita, tidak “mengotori” lisan kita, karena kita mampu menahan diri.
Puasa sejatinya adalah mempererat tali persaudaraan yang hakiki. Selain karena di dalam bulan Ramadhan, pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka lebar, pintu neraka ditutup rapat, syetan-syetan dibelenggu. Karena dengan menahan diri dari makan, minum, hubungan seksual, dan hal lain yang dapat membatalkan puasa, juga kita musti mempuasakan pancaindra dan bahkan hati dan fikiran kita. Karena itulah, Rasulullah saw memisalkan, “wanginya aroma mulut orang yang berpuasa, itu lebih wangi (harum) dari pada wanginya minyak misik (kasturi)”, adalah karena perjuangan dan kesabaran kita, untuk tidak “melumuri” dan “mengotori” lisan kita, dengan omongan yang sia-sia dan kotor (al-laghwi wa r-rafats).
Ini masih bisa diperbanyak pahalanya, melalui tidur, karena niat untuk menghindari sikap dan perilaku membully, nyinyir, dan lain sebagainya.
Allah ‘Azza wa Jalla menegaskan: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah bersaudara, karena itu damaikanlah mereka, dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kalian dilimpahi kasih sayang” (QS. Al-Hujurat (49): 10). Pada ayat sebelumnya, Allah Ta’ala sudah mengingatkan, “agar apabila ada orang fasik membawa berita, maka periksalah secara teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaan yang sebenarnya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu” (QS. Al-Hujurat (49): 6).
Karena itu, berita apapun di medsos, harus disaring sebelum disharing, tabayyun atau klarifikasi, termasuk di dalamnya informasi tipu-tipu melalui “kedok” hadiah, termasuk kalau ada hacker berulah dengan “membajak” foto atau nomor orang-orang terkenal, untuk kepentingan penipuan. Menilai kebaikan teman atau sahabat, tentu tidak bisa dengan serta merta. Jika selama berteman atau bersaudara, tidak pernah ada masalah, apalagi pinjam uang, atau lainnya, jika tiba-tiba mengirim whatsapp, apalagi bahasanya tidak seperti biasanya, jangan buru-buru direspon, lakukan Langkah menelpon kepada saudaramu atau teman. Kasih tahu, bahwa nomor dan/atau foto Anda sedang dihack atau dibajak orang.
Al-Qur’an merinci dengan sangat detail agar persaudaraan hakiki dapat terbangun dengan sangat baik. Saya sering mengatakan, Al-Qur’an tidak mengatur secara detail tata cara shalat, sementara untuk kepentingan persaudaraan, diatur secara detail dan rinci. Ini karena urusan persaudaraan itu, mempunyai kedudukan sangat penting, yang apabila tidak dibangun secara baik, akan berpotensi merusak konsentrasi dan kekhusyukan dalam beribadah.
QS. Al-Hujurat (49): 11, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain.
Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat (49): 12).
Allah menciptakan manusia, terdiri dari laki-laki dan perempuan, hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, adalah untuk saling mengenal, saling tolong menolong, dan saling menghormati.
Itulah inti persaudaraan yang hakiki. Sekaligus sebagai “momentum” untuk meraih prestasi di hadapan Allah, dengan meraih prestasi, mana di antara kita yang paling bertaqwa kepada Allah (QS. Al-Hujurat (49):13). “Hubungan persaudaraan antara sesama hamba yang beriman, dalam perasaan cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka, laksana satu tubuh, apabila satu anggota tubuh merasa sakit, maka anggota tubuh lainnya merasa sakit” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
Semoga kita mampu mempuasakan bukan hanya fisik jasmani dan panca indra kita, akan tetapi juga fikiran dan hati kita, agar puasa yang kita jalankan mampu menjadikan kesucian diri kita. Karena pengampunan dari Allah terhadap dosa-dosa kita sebelumnya, memang memerlukan syarat imanan wa ihtisaban. Semoga kita mampu menjalani puasa Ramadhan sampai dengan akhir, dengan kekhusyu’an, ketawadlu’an, dan keikhlasan. Insyaa Allah.
Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua II Bidang Pendidikan YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Anggota Dewan Pakar Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah, alumnus Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyah (TBS) Kudus, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.Jatengdaily.com–st


