Sukses Story Penurunan Kemiskinan Jateng

Oleh: Laeli Sugiyono
Statistisi Madya pada BPS
Provinsi Jawa Tengah

KETIKA pemerintah daerah seluruh Indonesia berusaha keras dengan segala daya upaya guna menurunkan angka kemiskinan meskipun hasilnya belum memenuhi harapan, justru pemerintah daerah provinsi Jawa Tengah telah menorehkan sukses story mampu menurunkan kemiskinan penduduk di masa pra pandemi Covid-19 pada tahun 2019.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis bahwa penurunan angka kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah tertinggi di seluruh Indonesia. Jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah per Maret-September 2019 turun dari 3,74 juta menjadi 3,68 juta orang. Dengan demikian, sebanyak 63.830 penduduk miskin Jawa Tengah berhasil lepas dari garis kemiskinan pada periode tersebut. Peringkat kedua penurunan angka kemiskinan diraih Provinsi Jawa Timur (56.250 jiwa). Adapun Nusa Tenggara Barat (30.280 jiwa) menyusul di peringkat ketiga nasional.

Apa yang melatarbelakangi penurunan angka kemiskinan Jawa Tengah begitu fenomenal? Jawabannya karena pelaku bisnis “perempuan” dari UMKM Jawa Tengah yang hebat. Pengamat ekonomi dari Unika Soegijapranata Semarang Shandy Jannifer Matitaputty mengatakan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) berkontribusi sekitar 50 persen dalam proses pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah. (https://bisnis.tempo.co/18 Januari 2020).

“Kita tahu kebanyakan pelaku UMKM adalah perempuan. Sehigga dia bisa menjadi penopang penghasilan suaminya. Yang bekerja di dalam rumah tangga juga untuk menjaga ketika suaminya punya pekerjaan yang penghasilannya tidak tetap,” kata Shandy seperti dikutip dari laman resmi Pemprov Jateng, Jumat 17 Januari 2020.

Shandy mengungkapkan, seiring dengan laju pengentasan kemiskinan, jumlah UMKM binaan di Jateng dan omzetnya juga meningkat cukup tinggi. Peningkatan omzet itu membawa pengaruh yang besar untuk pengentasan kemiskinan.

“Jumlah UMKM sudah melebihi 13 ribu UMKM, dan omzetnya sekarang tinggi. Ya 50 persen kontribusi pengentasan kemiskinan ditopang dari UMKM,” kata Shandy.

UMKM

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Ema Rachmawati mengatakan, jumlah UMKM di Jawa Tengah ada 4.174.210 unit. Dari jumlah itu, untuk usaha besar 3.358 unit, usaha menengah 39.125 unit, usaha kecil 354.884 unit, dan usaha mikro 3.776.843 unit. Sementara berdasarkan data sensus ekonomi nasional BPS Jawa Tengah tahun 2016 tercatat ada ratusan ribu unit UMKM binaan provinsi, yaitu 159.308 unit.

Ema menerangkan kontribusi sektor KUKM terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mengalami peningkatan. Pada 2016 kontribusinya baru mencapai 4,98 persen, 2017 sebanyak 5,26 persen, dan 2018 melonjak ke 5,23 persen. Dia optimistis jika potensi UMKM dimaksimalkan, tentu kontribusi terhadap PDRB Jateng semakin besar.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sendiri mengaku belum puas meskipun penurunan angka kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah menjadi yang tertinggi di seluruh Indonesia. “Mudah-mudahan ini hasil kerja keroyokan bersama yang kami lakukan, namun rasanya targetnya harus tetap dipicu untuk dinaikkan lagi dengan jumlah penurunan angka kemiskinan yang lebih besar.”

Untuk semakin menurunkan angka kemiskinan, Ganjar Pranowo telah menyiapkan sejumlah strategi seperti politik anggaran dan pembuatan kebijakan yang mengarah pada program prioritas pengentasan kemiskinan. Pemprov Jateng juga mendorong agar masyarakat yang telah mendapat program subsidi pengentasan kemiskinan dari pemerintah atau yang sudah mampu dari sisi ekonomi, supaya bersedia mengundurkan diri dan memberikannya kepada yang lebih berhak.

Penurunan kemiskinan Jawa Tengah pada periode tersebut tidak hanya karena keberhasilan tim pengentasan kemiskinan belaka, melainkan juga karena keberhasilan tim pengendali inflasi Jawa Tengah, BPS merilis pada September 2019 Jawa Tengah mengalami deflasi 0,24 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 135,81. Deflasi terjadi di enam kota SBH di Jawa Tengah. Tingkat inflasi tahun kalender September 2019 sebesar 2,13 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (September 2019 terhadap September 2018) sebesar 3,13 persen.

Mengapa tim pengendali inflasi berkontribusi dalam penurunan kemiskinan? Karena setiap terjadi deflasi atau penurunan angka inflasi maka garis kemiskinan ikut turun dan konsekuensinya angka kemiskinan berkurang jumlahnya. Garis Kemiskinan pada September 2019 tercatat sebesar Rp440.538,-/ kapita/bulan turun sebesar Rp.15.288,- atau 3,60 persen dari Garis Kemiskinan pada Maret 2019 tercatat sebesar Rp425.250,-/kapita/bulan

Demikian secara ringkas kunci sukses penurunan kemiskinan Jawa Tengah pada periode Maret-September 2019 karena sukses pelaku UMKM perempuan Jawa Tengah dalam meninggkatkan pendapatan keluarga di satu pihak dan terjadi deflasi di lain pihak. Wallahu alam bi sawab. Jatengdaily.com-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here