in

Buka Puasa Ala Kadarnya, Salahkah?

Oleh : Gus Anis Maftuhin

MANUSIA memang selalu punya seribu satu alasan untuk membenarkan nafsunya. Pun soal menu buka di bulan Ramadhan. Hampir setiap keluarga menyediakan menu makan yang berbeda dari hari hari biasa. Selain lebih enak, kadang juga lebih lengkap macam macamnya.

Alasannya rupa rupa : untuk menghormati bulan puasa, agar puasanya lebih semangat, dan ada pula yang sekedar merasa kurang afdhol bila menu buka puasanya biasa biasa saja.

Semua alasan itu pastinya sah dan masuk di akal siapa saja. Sebab, memang begitulah cara bekerja akal manusia ketika sudah tak mampu melawan nafsunya, yaitu dengan memproduksi logika untuk memberikan jalan lapang bagi nafsu nya.

Nah, kali ini mari kita coba ajak akal kita berani berdialog agak keras dengan nafsu kita. Bukankah bulan puasa adalah momentum untuk mendidik kita menundukkan nafsu yang tak akan pernah berhenti menggoda dan mengajak kita menyimpang dari yang seharusnya?

Agar akal tak sesat pikir soal buka puasa, ada baiknya kita ajak untuk melihat petunjuk dan teladan yang diajarkan Nabi kita, Muhammad saw dalam mengalahkan nafsunya.

Banyak riwayat yang menyebutkan kesederhanaan menu buka Rasulullah dan keluargnya. Padahal, kalau beliau mau berbuka dengan aneka rupa makanan dan minuman kelas Wahid pada zamannya pastilah bisa. Betapapun, beliau adalah seorang yang berada, terhormat, punya banyak pengikut dan tentu mudah untuk menikmati kemewahan dunia.

Namun, fakta membuktikan bahwa menu buka puasa Rasulullah Saw itu itu saja: beberapa butir kurma dan air putih saja. Sejumlah riwayat pun menegaskan bila makanan dan minuman Rasulullah di saat bulan puasa Ramadhan tak ada bedanya dengan hari hari biasanya.

“Keluarga Muhammad tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum yang diberi idam (semacam kuah) dalam tiga hari, sampai ia bertemu dengan Allah (wafat),” tutur Sayyidatina Aisyah sebagainana diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dalam kitab hadisnya.

Soal kesederhanaan menu makan keluarga Rasulullah itu, dalam riwayat lain Ummul Mukminin Aisyah mengatakan: “Keluarga Muhammad tidak pernah merasakan kenyang karena makan roti gandum dalam dua hari, sampai beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kesederhanaan makanan Rasulullah dan keluarganya itu ternyata juga tak berubah di saat bulan puasa. “Biasanya Rasulullah berbuka puasa dengan ruthab sebelum shalat (Maghrib). Jika tidak ada ruthab (kurma muda), maka dengan tamr (kurma matang). Jika tidak ada tamr maka beliau meneguk beberapa teguk air.” (HR. Abu Dawud).

Begitulah adanya. Menu berbuka Nabi dan keluarganya hanya beberapa butir buah kurma. Kemudian, jika tak menjumpai kurma, maka beliau hanya minum air putih saja.

Kesederhanaan serupa juga ditunjukkan oleh sahabat Umar bin Khattab. “Aku tidak pernah melihat Umar makan tepung yang diayak, juga yang disantapnya hanyalah kambing tua,” tutur seorang sahabat Rasul bernama Abdullah pada suatu riwayat yang menceritakan kesederhanaan Amirul Mukminin, Umar Bin Khattab.

“Itu kan Rasulullah dan sahabat. Kita kan manusia biasa.” Mungkin kalimat itu yang akan disodorkan akal kita usai membaca kisah kisah tersebut. Maka, lagi lagi soal bagaimana mengendalikan nafsu ini memang butuh kekuatan mata batin, nurani yang jernih dan keimanan yang bulat bahwa apapun yang dicontohkan oleh Rasulullah adalah sebuah pedoman hidup yang bisa dipastikan akan membawa manusia kepada kebahagiaan yang hakiki.

Nah, ada baiknya bulan puasa ini kita latih akal kita agar bisa jujur dalam menerima petunjuk. Yakni, agar nafsu kita pun terlatih untuk terkekang dan tak terpuaskan. Sebab, di situlah letaknya kunci kebahagiaan yang hakiki.

Ya, mungkin kita tidak sepenuhnya bisa meneladani Rasulullah. Namun, tak ada salahnya bila kita terus berupaya mendekati apa yang beliau contohkan.

Termasuk dalam berbuka puasa ini. Tentu saja kita tak bisa sepenuhnya menyamai Rasulullah. Namun setidaknya kita harus tetap belajar mengekang nafsu kita, yaitu dengan tetap berbuka sewajarnya: tidak berlebihan, tidak memaksakan dan jangan sampai terjadi kemubadziran.

Ingat pula bahwa kesederhanaan dan kewajaran menu buka puasa kita pasti akan memberikan banyak kelonggaran harta, sehingga kita bisa memperbanyak sedekah. Ya, mumpung pahalanya juga sedang dilipat gandakan.

*Pengasuh Pondok Pesantren Wakaf Literasi Islam Indonesia (WALI) Salatiga, dan Pegiat Literasi Islam. Akun IG : @gus_anies. Jatengdaily.com-st

Written by Jatengdaily.com

Demo Tolak Kenaikan BBM dan Wacana Tunda Pemilu Berakhir Ricuh

Selain Berbahaya, Ngabuburit di Jalur Kereta Api Bisa Kena Denda Rp 15 Juta