Oleh : H. Nur Khoirin YD
1. Untuk mengetahui apakah suatu perbuatan yang kita lakukan itu baik atau buruk, selain kita mendapatkan informasi dari Syari’ah Islam, sebenarnya kita bisa menanyakan kepada hati atau nurani kita masing-masing.
Hati yang bersih adalah cermin. Maka tanyakanlah pada hati kita, apakah yang kita kerjakan selama ini termasuk bagian dari kebaikan ataukah bukan? Apakah yang kita perbuat termasuk bentuk ketaatan kepada Allah swt ataukah bukan? Maka tanyakanlah kepada hati kita yang paling dalam.
Kebaikan adalah apa saja yang dapat menenangkan hati dan menentramkan jiwa. Sedangkan keburukan adalah apa saja yang membuat hati kita ragu dan tidak tenang. Rasulullah saw bersabda :
البر حسن الخلق , والإثم ماحاك في نفسك و كرهت أن يطلع عليه الناس
“Kebaikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa saja yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka memperlihatkannya pada orang lain.” (HR. Muslim)
Dalam Hadits yang lain disebutkan :
عن وابصة بن معبد رضي الله عنه قال : أتيت رسول الله صلى الله عليه و سلم , فقال: جئت تسأل عن البر؟ قلت: نعم. قال: استفت قلبك. البر مااطمأن إليه النفس واطمأن إليه القلب. والإثم ماحاك في النفس و تردد في الصدر وإن أفتاك الناس وأفتوك.
Dari Wabishah bin Ma’bad ra berkata: Aku datang kepada Rasulullah saw, kemudian beliau berkata: “Kamu datang untuk bertanya tentang kebaikan?” Aku menjawab: benar. Kemudian Beliau bersabda (artinya): “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas, meskipun banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad (4/227-228), Ath-Thabrani dalam Al-Kabir (22/147), dan Al Baihaqi dalam Dalaailun-nubuwwah (6/292).
Jika seseorang mempunyai akhlak yang baik, maka ia akan memperoleh kebaikan yang banyak, dadanya lapang terhadap Islam, hatinya menjadi tenang dengan iman, dan bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik. Adapun dosa, maka Rasulullah saw telah menjelaskan bahwa ia adalah, “Apa saja yang meragukan dalam hatimu.” Tidak ada sesuatu yang meragukan dan tidak menenangkan jiwanya kecuali perbuatan dosa. Oleh karena itulah, Rasulullah saw bersabda : “Apa saja yang meragukan jiwamu dan kamu tidak suka untuk memperlihatkannya kepada orang lain.” Itulah dosa atau keburukan.
Sementara orang-orang fasik dan ahli maksiat, hatinya sudah beku dan membatu. Perbuatan dosa tidaklah membuat keraguan dalam jiwa mereka, dan mereka juga tidak membenci untuk memperlihatkan perbuatan dosanya kepada orang lain. Bahkan sebagian mereka merasa bangga dengan perbuatan dosa yang mereka lakukan. Maka hati ahli dosa tidak bisa menjadi ukuran perbuatan baik dan buruk.
2. Kita diperintahkan untuk selalu muhasabah, muraqabah, instrospeksi diri. Menghitung sendiri dan menimbang sendiri, sebelum dihisab oleh Dzat Yang Maha Adil. Sudah seberapa banyak dosa-dosa dan keburukan yang sudah kita tumpuk sampai umur kita yang sekarang ini. Sebaliknya, sudah cukupkah kebaikan dan ketaatan kita untuk menutup keburukan dan dosa-dosa. Selalu tanamkan dalam diri kita, bahwa kita harus merasa dosa-dosa kita ternyata lebih banyak dari kebaikan kita. Teruslah mengejar kebaikan dan taqwa, sehingga kita meninggal dengan tersenyum, karena membawa bekal yang cukup. Sementara orang-orang disekeliling kita menangis kehilangan, karena ditinggal oleh orang yang sangat baik dan berjasa.
3. Salah satu cara agar kita selalu bersemangat mengejar kebajikan, adalah berusaha mengikuti apa yang diajarkan oleh Imam al Ghazali, yaitu merasa diri tidak lebih baik bari orang lain. Beliau mengajarkan bahwa:
فان رايت صغيرا قلت فى قلبك هذا لم يعص الله وانا عصيته فلا شك انه خير منى
Jika engkau melihat anak kecil, katakanlah dalam hatimu: “Ia belum pernah bermaksiat kepada Allah swt, sedangkan aku telah bermaksiat. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku”.
وان رايت كبيرا قلت هذا قد عبد الله قبلى فلا شك أنه خير منى
Jika engkau melihat orang yang lebih tua katakanlah: “Orang ini telah beribadah sebelum aku melakukannya. Tidak diragukan lagi bahwa ia lebih baik dariku”
وان كان عالما قلت هذا اعطى مالم اعط وبلغ مالم ابلغ فكيف اكون مثله
Jika melihat orang alim, katakanlah: “Orang ini telah memberi (ilmu) apa yang belum kuberi, memperoleh apa yang belum aku peroleh. Maka, bagaimana aku setara dengannya?”.
وان كان جاهلا قلت هذا قد عصى الله بجهل وانا عصيته بعلم
Jika melihat orang bodoh, katakan dalam hatimu: “Orang ini bermaksiat dalam kebodohannya, sedangkan aku bermaksiat dalam keadaan tahu.”
Jika engkau melihat orang kaya, maka katakana dalam hatimu, dia orang yang rajin sodaqah dengan hartanya. Hartanya telah benyak menolong orang. Sedangkan aku, orang yang masih berharap sodaqah dari orang lain.
Jika engkau menemui orang miskin, katakan dalam hatimu, orang ini doa-doanya dikabulkan. Sedangkan saya orang yang tidak pernah berdoa. (Muraqiyul ‘Ubudiyah, hlm. 79)
Semoga Allah swt selalu mengaruniakan kepada kita semua, hati yang bersih dan jernih, bisa menjadi filter dan penyaring, mana perbuatan yang baik dan mana perbuatan yang buruk, sehingga dapat menuntun langkah kita kearah kebaikan dan taqwa.
DR. H. Nur Khoirin YD, MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat Syari’ah/Mediator/Arbiter Basyarnas, Tinggal di Tambakaji H-40 Ngaliyan Kota Semarang, Telp. 08122843498. Jatengdaily.com-st


