in

Muhasabah Akhir Tahun; Waktu Begitu Cepat Berlalu

Oleh : H. Nur Khoirin YD

Orang sering bilang, tahu-tahu kita sudah berada di akhir tahun. Beberapa hari lagi kita memasuki tahun baru, 2023M. Rasanya baru kemaren tahun baru, sekarang sudah tahun baru lagi. Begitu cepat waktu berlalu. Bahkan sangat cepat karena tidak akan pernah kembali. Tidak ada kesempatan yang datang dua kali. Jika tidak dimanfaatkan, yang datang adalah penyesalan.

Apa yang harus dilakukan pada setiap pergantian waktu? Adalah muhasabah, instrospeksi, berhitung, melakukan audit internal, atau mengalkulasi untung rugi diri selama waktu berlalu untuk menyusun strategi yang akan datang. Agar yang menjadi prestasi masa lalu bisa ditingkatkan dan kegagalan yang menimpa tidak berulang lagi di tahun depan. Jangan sampai terpesok pada lubang yang sama.

Muhasabah ini harus terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri dari waktu kewaktu, agar tetap menjadi orang yang beruntung, yaitu orang yang terus meningkat kebaikannya dengan berjalanan waktu. Sebaliknya adalah orang merugi waktu karena prastasinya sama hari kemaren dengan hari ini. Dan orang yang hancur adalah orang yang hari ini lebih buruk dari hari-hari yang lalu.

Pentingnya muhasabah ini dipertintahkan oleh Al Qur’an : “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaknya setiap jiwa/ orang merenungi apa yang telah dilakukan untuk hari esok yang lebih baik (Q.S. al-Hasyr/59: 18)

Berharganya waktu
Betapa berharganya sebuah waktu untuk diisi dengan aktifitas-aktifitas yang bermanfaat, sehingga muncul berbagai ungkapan yang menjadi motto hidup. Orang Arab membuat ungkapan, “Al-waqtu kassaif, fa in lam taqtha’hu qatha’aka” (waktu seperti pedang, jika tidak kau gunakan untuk memotong, maka anda yang akan terpotong), para pengusaha mengatakan, “time is many” (setiap waktu adalah uang), para santri dan pelajar mengatakan “waktu adalah ilmu”, para abid (ahli ibadah) bersemboyan “waktu adalah ibadah”, para pecinta menggelorakan “tiada hari tanpa cinta”, dan masih banyak ungkapan yang menggambarkan pentingnya waktu.

Pentingnya waktu dan kewajiban untuk memanfaatkan menjadi hal yang pokok dalam ajaran Islam. Dalam Al Qur’an Allah swt berulang-ulang bersumpah dengan waktu, seperti wal ‘ashri (demi waktu ashar), wadh dhuha (demi waktu dhuha), wallaili (demi waktu malam), wannahari (demi waktu siang), washshubhi (demi waktu shubuh), wal fajri (demi waktu fajar), dan lain-lain.

Hal ini menggambarkan betapa pentingnya waktu. Waktu tidak boleh dibiarkan mengalir bebas tanpa kendali. Oleh karena itu Islam mengajarkan pembagian waktu sehari semalam secara detail, ada waktu fajar, shubuh, dhuha, dhuhur, ashar, maghrib, isya’, dan waktu lail. Nabi memanaj waktu sehari semalam menjadi tiga bagian, yaitu 1/3 untuk kerja, 1/3 untuk beribadah, dan 1/3 untuk istirahat.

Waktu adalah modal penting yang dianugerahkan Allah kepada manusia untuk menata diri dan menjalankan khalifah fil ardl. Ada beberapa ungkapan mendalam dari para ulama tentang pentingnya mengelola waktu. Imam al-Hasan al-Bashri ra berkata:

اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu itu hanyalah (kumpulan) hari-hari. Ketika tiap-tiap satu hari berlalu,maka hilang sebagian dirimu”.(Riwayat Abu Nu’aim dalam Hilyatul-uliya`).
Di tempat lain, Beliau juga berkata :

أَدْرَكْتُ أَقْوَامًا كَانَ أَحَدُهُمْ أَشَحَّ عَلَى عُمْرِهِ مِنْهُ عَلَى دَرَاهِمِهِ وَدَنَانِيْرِهِ
“Aku telah menemui orang-orang yang sangat bakhil terhadap umurnya dari pada terhadap dirham dan dinarnya”.(Taqrib Zuhd Ibnul-Mubarok, 1/28).

Khalifah ‘Umar bin Abdul-‘Aziz ra berkata:
إِنَّ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ يَعْمَلَانِ فِيْكَ فَاعْمَلْ فِيْهِمَا
Sesungguhnya malam dan siang bekerja terhadapmu, maka beramalah pada malam dan siang itu.
Sebagian penyair berkata :

وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ وَأَرَاهُ أَسْهَلَ مَا عَلَيْكَ يُضَيَّعُ
“Waktu adalah perkara paling mahal yang perlu engkau perhatikan untuk dijaga. Tetapi aku melihatnya paling mudah engkau menyia-nyiakannya”. (https://almanhaj.or.id/4099-renungan-tentang-waktu.html1).
Nabi saw mengingatkan bahwa dua nikmat besar yang sering dilupakan dan dianggap hal yang biasa saja adalah kesehatan dan waktu luang. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra Nabi bersabda :
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang”. [HR Bukhari, no. 5933].

Waktu tidak datang dua kali
Untuk memanfaatkan waktu atau kesempatan yang tidak akan datang dua kali, maka Rasulullah saw telah memberikan kiat-kiat yang jitu dalam memanfaatkan waktu. Beliau sabdanya :
“Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima perkara yang lain, yaitu: masa mudamu sebelum datangnya masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa hidupmu sebelum datang masa matimu, masa luangmu sebelum datangnya masa sibukmu.” (H.R. Hakim dari Ibnu Abbas).

Allah swt sungguh Maha Adil, karena setiap orang diberikan kesempatan yang sama. Masa muda yang kuat dan semangat, kesehatan yang sempurna, kelapangan rizki, kehidupan, dan waktu luang. Semuanya adalah potensi yang harus dikembangkan dan dimanfaatkan maksimal untuk meraih keberuntungan. Jika kesempatan ini ini sudah dicabut berubah menjadi kondisi sebaliknya, maka tinggallah kerugian dan penyesalan yang tersisa.

H. Nur Khoirin YD, MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat Syari’ah/Mediator/Arbiter Basyarnas, Tinggal di Tambakaji H-40 Ngaliyan Kota Semarang, Telp. 08122843498. Jatengdaily.com-st

 

Written by Jatengdaily.com

TelkomGroup Pastikan Infrastruktur dan Layanan Andal di Momen Nataru 2023

SIG Raih Penghargaan Proper Emas dan Tujuh Proper Hijau dari KLHK