in

Urgensi Literasi Digital

Oleh: Azizah Suri Dewi

SMA Negeri I Slawi

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar di Asia Tenggara dengan total penduduk 279,04 juta jiwa tahun 2023 (Badan Pusat Statistik). Tetapi skor literasi membaca di Indonesia tercatat 359 poin menurut PISA tahun 2022 tertinggal jauh dengan Singapura dengan skor 543.

Catatan perpusnas tahun 2023 tingkat kegemaran membaca hanya 66,77 poin dan masuk dalam kategori sedang. Padahal BPS mencatat tahun 2023 persentase karekteristik dan kemampuan membaca dan menulis huruf latin penduduk Indonesia sudah mencapai 96,53%.

Hal ini membuktikan bahwa hampir sebagian besar orang bisa membaca tetapi malas dalam memaknai bacaan. Artinya ditengah semaraknya merayakan hari pendidikan nasional masih banyak PR yang diperjuangkan dalam meningkatkan literasi bangsa. Karena literasi merupakan jendela dunia untuk mencerdaskan anak bangsa.

Baca Juga: Antisipasi Kecelakaan Lalulintas Fatal, Satlantas Polres Demak Gelar Ramp Check

Ketertarikan Dunia Digitalisasi

Perkara seperti ini banyak terjadi di lingkungan sekitar, sering kali terdapat banyak orang yang masuk ke perpustakaan tetapi mereka tidak membaca melainkan melakukan aktivitas tidur, bermain game, dan tertawa terbahak-bahak di perpustakaan.

Seharusnya perpustakaan itu adalah tempat literasi dan tempat berdiskusi dan belajar suatu hal. Tetapi seiring waktu dan menyadari bahwa di zaman ini kita telah memasuki era digital yaitu banyaknya orang semakin bosan dengan buku dan lebih menyukai gadget.

Kondisi ini menyadarkan bahwa kita seharusnya mulai terbuka dalam digitalisasi terutama bidang literasi. Rendahnya literasi bukan hanya disebabkan rasa malas tetapi biasanya buku yang dibaca kurang menarik.

Pada era ini akses media membaca berbentuk cetak sudah semakin sedikit diminati oleh kalangan muda dan perlahan-lahan mulai ditinggalkan karena terlalu banyak kalimat yang susah dipahami dan monoton.

Berbeda dengan konten yang ada di medsos orang cenderung tidak banyak berpikir, mudah dipahami, dan lebih banyak ke hal hiburan.

Hal ini membuat orang cenderung menyukai gadget daripada buku. Terutama generasi Z, generasi yang lahir pada era teknologi. Dan pada saat ini seperempat lebih penduduk Indonesia atau 27,94% adalah gen Z menurut catatan BPS hasil Sensus Penduduk 2020.

Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan Indonesia terus mengalami kemorosotan skor literasi membaca berturut-turut dimulai tahun 2015 sebeser 397 poin, 2018 turun menjadi 371 poin dan tahun 2022 hanya 359 poin.

Hal ini yang menjadi tugas bagi kita para pemuda untuk mengejar ketertinggalan tingkat literasi di dunia internasional.
Penurunan skor literasi membaca ini memberi pertanda bahwa harus ada gebrakan untuk melakukan perubahan dalam menarik minat baca.

Karaktersitik penduduk yang didominasi gen Z dan milenial yang cenderung tertarik dengan dunia digitalisasi karena pada generasi masa kini, mereka yang lahir di era sekarang lebih menyukai kemudahan atau hal-hal instan sehingga tidak menutup kemungkinan bagi mereka lebih memilih smartphone dibandingkan media cetak.

Untuk iulah kita perlu menerapkan literasi digital di era sekarang agar masyarakat Indonesia mulai terbuka betapa indahnya membaca.

Manfaat Digitalisasi Literasi

Penerapan literasi digital di kalangan generasi z memiliki banyak sekali manfaat. Dengan literasi digital ini seseorang dengan mudah dapat menambah wawasan dan memambah kosa kata dari berbagai informasi yang ada di media digital, selain itu dapat menambah kemampuan berpikir kritis dalam mengolah dan menanggapi suatu informasi.

Solusi untuk menangani kegiatan pembelajaran agar dapat berjalan lebih efektif dimasa sekarang yaitu mengadakan Perpustakaan Digital yang harus didesain sesuai dengan karakterisik generasi masa kini.

Bagaimana desaiannya? Sebuah monitor sentuh layar dan kita sebagai anak-anak bisa mencari sesuatu dengan mudah melalui monitor tersebut lalu menyediakan beberapa elektronik seperti tablet atau sebuah monitor sentuh layar sehingga kita bisa mengakses Elektronik Book (E-Book) melalui elektronik yang telah disediakan, dan menyiapkan game literasi di setiap perpustakan daerah atau perpustakan sekolah sehingga anak menjadi berkembang dan menyukai literasi.

Sudah saatnya pemerintah mengubah literasi kearah digital sesuai dengan perkembangan jaman. Sarana akses internet sampai ke pelosok desa, mengadakan pameran buku digital dan membuat perpustakan digitalisasi.

Ini akan menjadi ketertarikan oleh para generasi masa kini yang sudah mendominasi penduduk Indonesia saat ini. Selain itu, digitalisasi literasi ikut mendukung gerakan pencegahan efek rumah kaca karena mengurangi penebangan pohon untuk pembuatan buku.

Penggunan media sosial juga lebih efektif karena anak cenderung menyukai konten-konten secara sederhana yang ada di gadget, lalu dengan adanya media sosial dapat menciptakan berbagai macam informasi dan bertukar informasi serta gagasan dalam sebuah jaringan komunitas dunia.

Dengan adanya Literasi Digital anak-anak lebih menghemat waktu, memperoleh informasi dari berbagai sumber dari mana saja dan kapan saja, proses belajar lebih mudah, dapat bersosialisasi lebih baik, dan menambah kemampuan dalam berpikir lebih kritis.Jatengdaily.com-St

Written by Jatengdaily.com

Siapkan Atlet Dunia, Pengprov TI Jateng Gelar Liga Cadet Piala Rektor USM 2024

Pelarangan Study Tour bagi Suswa SMA di Jateng Perlu Ditinjau Ulang, Kecelakaan Ranah Dishub