DEMAK (Jatengdaily.com)- Peristiwa dugaan keracunan makanan bergizi (MBG) yang menimpa ratusan santri dan warga di Desa Pilangwetan, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Demak, pada Sabtu dan Minggu lalu, menyisakan duka mendalam. Koordinator Wilayah BGN Demak, Muzani Ali Sodikin, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pihak yang terdampak, termasuk santri, warga, pihak sekolah, hingga pengasuh pondok pesantren.
“Saya merasa sangat prihatin dan menyampaikan duka mendalam. Mohon maaf sebesar-besarnya kepada santri dan warga Pilangwetan, Solowire, serta Prigi, juga kepada kepala sekolah dan pengasuh ponpes atas kejadian ini,” ujar Muzani, Selasa (21/04/2026).
Sebagai langkah cepat, BGN langsung menghentikan operasional SPPG Pilangwetan sejak Senin, 20 April 2026, berdasarkan surat dari Deputi Pemantau dan Pengawasan. Muzani menegaskan, pihaknya bertanggung jawab penuh atas seluruh biaya pengobatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang terdampak.
“BGN akan bertanggung jawab penuh terhadap seluruh biaya pengobatan santri maupun warga, terutama kategori B3. Semua biaya yang timbul akan kami tanggung,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, kejadian ini menjadi evaluasi besar bagi pelaksanaan program MBG di Demak. Pihaknya berharap insiden serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. “Ini menjadi perhatian serius agar pelayanan MBG ke depan bisa lebih baik. Kami berharap ini yang terakhir terjadi di Demak,” katanya.
Muzani turut menjelaskan proses pengolahan makanan di SPPG Pilangwetan yang selama ini telah berjalan sesuai prosedur. Mulai dari pengecekan bahan baku pada sore hari, proses peracikan hingga tengah malam, hingga memasak secara bertahap dini hari karena jumlah penerima manfaat mencapai 1.485 orang.
“Prosesnya dimulai dari pengecekan bahan pukul 15.00–18.00, lalu persiapan hingga tengah malam. Memasak dimulai pukul 01.00, bertahap karena jumlahnya banyak. Menu saat itu nasi goreng, telur ceplok, tahu goreng, susu, acar, dan jeruk,” jelasnya.
Distribusi makanan juga dilakukan secara berurutan, dimulai dari wilayah yang lebih jauh seperti Silowire dan Prigi, dan terakhir Pilangwetan. Sebelum dibagikan, makanan bahkan telah melalui uji rasa oleh pihak sekolah. “Dari guru yang mencoba, tidak ada masalah dari segi rasa maupun tekstur,” imbuh Muzani.
Meski demikian, penyebab pasti kejadian ini masih menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan yang diperkirakan keluar dalam tujuh hari. Selama masa evaluasi, operasional SPPG Pilangwetan akan tetap dihentikan hingga dinyatakan layak kembali.
Di sisi lain, Plh Kasat Reskrim Polres Demak, IPTU Kuntoro, menyatakan pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan dengan memeriksa sejumlah saksi. “Kami prihatin atas kejadian ini. Saat ini kami belum bisa menyimpulkan, masih memeriksa saksi dari SPPG maupun ahli gizi. Kami akan berbuat yang terbaik,” ujarnya.
Ia menambahkan, data jumlah korban masih terus berkembang karena sebagian hanya menjalani rawat jalan. Pihak kepolisian juga belum dapat memastikan apakah insiden tersebut benar merupakan keracunan makanan. “Belum bisa dipastikan keracunan atau tidak, kami masih menunggu hasil dari Dinas Kesehatan,” tegasnya. rie-she


