SEMARANG (Jatengdaily.com)– Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar prosesi Upacara Purna Adi Cendekia di Gedung Prof. Sudarto, S.H., Kampus Tembalang. Acara ini merupakan bentuk penghormatan tertinggi dari universitas untuk melepas lima Guru Besar terbaiknya yang telah resmi memasuki masa purna tugas.
Dihadiri langsung oleh Rektor, Senat Akademik, dan jajaran pimpinan universitas, momen penuh khidmat ini menjadi apresiasi atas dedikasi, sumbangsih keilmuan, dan pengabdian tanpa batas yang telah para Guru Besar curahkan selama puluhan tahun demi kemajuan dunia pendidikan nasional.
Adapun kelima Guru Besar yang dilepas dalam upacara ini adalah Prof. Dr. Ir. Luthfi Djauhari, M.Sc.; Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S.; Prof. Ir. Dwi Sunarti, M.S., Ph.D.; Prof. Dr. Ir. Edjeng Suprijatna, M.P.; serta penghormatan anumerta bagi (Almh.) Prof. Dr. Ir. Sri Rejeki, M.Sc.
Sidang Terbuka ini dipimpin langsung oleh Ketua Senat Akademik Universitas Diponegoro, Prof. Ir. Tri Winarni Agustini, M.Sc., Ph.D.
Dalam pembukanya, Prof. Tri Winarni menegaskan bahwa forum ini merupakan wujud penghormatan institusional atas mahakarya keilmuan para Guru Besar.
“Upacara Purna Adi Cendekia adalah forum kehormatan tertinggi dari Senat Akademik untuk merayakan rekam jejak pengabdian tanpa cacat dari para pilar akademik kita,” tegas Prof. Tri Winarni.
Rektor Universitas Diponegoro, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa momentum ini bukanlah sebuah perpisahan, melainkan monumen abadi pengabdian intelektual.
“Sidang Terbuka Senat Akademik dengan acara Upacara Purna Adi Cendekia hari ini bukanlah sebuah perpisahan, melainkan monumen abadi pengabdian intelektual. Universitas Diponegoro berdiri megah hari ini karena fondasi keilmuan, tetesan keringat akademis, dan integritas yang ditenun oleh Bapak dan Ibu Guru Besar sekalian selama lebih dari empat dekade. Kami juga sangat terima kasih sekali lagi, guru besar purna, old professors never die, they just fade away. Saya rasa tidak ada pensiun, semuanya tetap akan mengabdi,” sambutnya.
Orasi ilmiah pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Luthfi Djauhari, M.Sc. dari Fakultas Peternakan dan Pertanian dengan judul “40 Tahun Pengabdian: Mengabdi untuk Negeri, Berinovasi untuk Peternakan Unggas Berkelanjutan”.
Prof. Luthfi memaparkan rekam jejak risetnya sejak tahun 1990 yang berfokus pada metabolisme protein dan vitamin pada unggas, serta pemanfaatan limbah agroindustri lokal menjadi pakan fungsional guna menekan biaya produksi nasional.
Prof. Luthfi menegaskan bahwa arah riset peternakan masa depan harus bertumpu pada formula pakan presisi (precision farming) yang adaptif terhadap perubahan iklim global.
“Perjalanan panjang membimbing mahasiswa membawa saya pada keyakinan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah amal jariyah yang tak terputus. Pengabdian ini kini saya titipkan kepada para peneliti muda,” ungkapnya.
Dilanjutkan oleh Prof. Dr. Arief Hidayat, S.H., M.S. dari Fakultas Hukum yang membawakan pidato kebangsaan mendalam berjudul “Negara Hukum Pancasila dan Konstitusionalisme Berketuhanan menuju Indonesia Emas 2045”.
Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi RI ini menegaskan bahwa hukum di Indonesia tidak boleh terjebak dalam legalisme formal yang kering, melainkan harus selalu berada dalam orbit nilai-nilai Ketuhanan dan keadilan sosial yang berbasis pada akar rumput kebudayaan Pancasila. Dalam pesan khususnya, Prof. Arief mengingatkan seluruh hadirin mengenai hakikat pengabdian seorang yuris.
“Masa jabatan seorang hakim konstitusi maupun tugas formal sebagai dosen memang berakhir, akan tetapi perjalanan penegakan konstitusi tidak pernah mengenal masa pensiun,” tegasnya.
Sementara itu, Prof. Ir. Dwi Sunarti, M.S., Ph.D. dari Fakultas Peternakan dan Pertanian dengan orasi humanis berjudul “Menekuni Lorong Sunyi: Poultry Welfare and Behaviour (Kesejahteraan dan Tingkah Laku Unggas)”. Prof. Dwi membawa perspektif baru dalam industri peternakan dengan meneliti pentingnya aspek psikologis dan tingkah laku alami ternak unggas, seperti aktivitas mandi debu dan perilaku bertengger, demi meminimalkan cekaman (stress) pada hewan sebelum dikonsumsi manusia. Menutup pengabdian panjangnya, Prof. Dwi menyampaikan salam perpisahan yang puitis.
“Terima atas persaudaraan yang luar biasa selama 45 tahun 3 bulan di kampus ini. Kopi boleh dingin, tapi kebersamaan kita harus tetap hangat; purna tugas boleh terjadi, tapi silaturahmi kita harus tetap abadi,” tuturnya.
Prof. Dr. Ir. Edjeng Suprijatna, M.P. dari Fakultas Peternakan dan Pertanian dengan membawakan orasi berjudul “Menenun Kemandirian Protein Bangsa: Empat Dekade Dedikasi Riset untuk Unggas Tropis Nusantara”. Prof. Edjeng menyintesis perjalanan risetnya selama 43 tahun, yang mencakup analisis efisiensi serapan protein ayam, pemanfaatan fitoestrogen dari limbah fermentasi ampas kecap, hingga inovasi paten kombinasi fitobiotik sebagai pemacu pertumbuhan alami pada usus unggas. Dengan penuh emosional, Prof. Edjeng menyampaikan rasa terima kasihnya kepada keluarga dan kolega.
“Lembar demi lembar draf jurnal yang saya tulis di meja kerja adalah catatan cinta saya kepada dunia peternakan Indonesia. Secara formal saya pamit, namun jiwa saya akan selalu berada di antara aroma pakan dan riuhnya kepakan sayap unggas nusantara,” ucapnya.
Apresiasi tinggi dan penghormatan terakhir diberikan universitas berupa penghargaan anumerta kepada (Almh.) Prof. Dr. Ir. Sri Rejeki, M.Sc. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.
Universitas memberikan penghormatan setinggi-tingginya atas seluruh warisan keilmuan, publikasi internasional, serta dedikasi luar biasa yang telah almarhumah sumbangkan semasa hidupnya demi memajukan sektor perikanan dan kelautan UNDIP.
Kehadiran pihak keluarga almarhumah di atas panggung untuk menerima piagam penghargaan menjadi salah satu momen paling khidmat sekaligus mengharukan bagi seluruh sejawat dan civitas academica yang hadir.
Sebagai penutup, upacara diakhiri dengan penyerahan piagam penghargaan secara simbolis oleh Rektor UNDIP, Prof. Dr. Suharnomo, S.E., M.Si., yang diikuti dengan pembacaan doa bersama, serta sesi dokumentasi hangat bersama seluruh jajaran universitas, rekan sejawat, dan keluarga tercinta.
Momentum Purna Adi Cendekia ini berhasil mengukuhkan esensi bahwa pengabdian seorang akademisi sejati tidak akan pernah usai dibatasi oleh waktu.
Melalui pelepasan ini, Universitas Diponegoro berkomitmen untuk terus menjaga, merawat, dan memanifestasikan estafet pemikiran serta nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para Guru Besar demi mewujudkan masa depan UNDIP yang Bermartabat, Bermanfaat. she

