By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Dukuh Timbulsloko: Dampak Perubahan Iklim dan Sanitasi Pesisir
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Dukuh Timbulsloko: Dampak Perubahan Iklim dan Sanitasi Pesisir

Last updated: 10 Oktober 2025 07:26 07:26
Jatengdaily.com
Published: 10 Oktober 2025 07:26
Share
SHARE

Oleh: Syarifah Atia, S.PWK

Dukuh Timbulsloko, sebuah permukiman pesisir di Kabupaten Demak, kini menjadi gambaran nyata dampak perubahan iklim terhadap kehidupan manusia.

Sekitar 300 jiwa tinggal di kawasan yang perlahan tenggelam akibat rob dan kenaikan muka air laut. Rumah-rumah mereka kini berdiri di atas laut, sehingga persoalan sampah dan sanitasi menjadi tantangan besar yang belum terselesaikan.

Sampah yang Tak Pernah Pergi

Ketiadaan lahan menyebabkan warga tidak memiliki tempat sampah maupun sistem pengangkutan yang memadai. Sampah rumah tangga dibuang langsung ke pekarangan yang kini menjadi laut. Jika hendak membuang sampah ke daratan lain, warga harus mengeluarkan biaya besar untuk sewa perahu dan bahan bakar.
Sampah tersebut akhirnya menumpuk di perairan sekitar rumah.

Saat air laut surut, tumpukan sampah terlihat jelas, tetapi saat pasang naik, limbah kembali terbawa ke area permukiman. Kondisi ini semakin diperburuk oleh aliran limbah industri dari kawasan Pantura yang bermuara ke wilayah tersebut, menyebabkan air laut menjadi hitam dan berbau tidak sedap.

Air yang Tercemar Menjadi Sumber Penyakit
Pencemaran air berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Banyak warga, terutama anak-anak, mengalami gatal-gatal setelah bermain air di sekitar rumah.

Para nelayan juga mengeluhkan hal serupa setelah mencari kerang. Hasil tangkapan menurun, dan kepiting yang dulunya melimpah kini sering ditemukan mati sebelum dijual. Warga menduga pencemaran mulai terjadi sejak tahun 2017.

Sanitasi yang Tenggelam Bersama Rumah
Persoalan sanitasi juga sangat serius. Jamban lama milik warga kini terendam di bawah lantai rumah panggung, sekitar dua meter di bawah permukaan air laut. Jamban baru hanya bisa digunakan saat air surut, karena saat pasang air limbah langsung mengalir ke laut

Kondisi ini tidak memenuhi standar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang ditetapkan Kementerian Kesehatan RI (2014) maupun ketentuan dalam SNI 2398:2017 tentang pengelolaan air limbah domestik.

Hasil uji laboratorium pada Januari 2024 menunjukkan air limbah di tangki biofilter masih mengandung lebih dari 16.000 bakteri coliform, yang menunjukkan pencemaran akibat tinja.

Jamban Apung: Solusi yang Belum Sempurna

Sebagai respons terhadap kondisi ini, pada tahun 2022 dibangun dua unit jamban apung di atas perairan Dukuh Timbulsloko.

Inovasi ini memungkinkan warga memiliki fasilitas sanitasi di tengah lingkungan yang tergenang air. Namun, fasilitas ini cepat rusak karena dipakai bersama oleh seluruh warga. Selain itu, menurut standar teknis, jamban apung hanya boleh digunakan maksimal 12 jam per hari.

Pada tahun 2023, ditambahkan dua unit jamban apung di titik terjauh dari permukiman utama. Meskipun jumlahnya masih terbatas, langkah ini menandakan adanya perhatian untuk meningkatkan kualitas sanitasi di wilayah pesisir tersebut.

Menuju Pengelolaan Sampah Berbasis Sirkular

Kasus Dukuh Timbulsloko menggarisbawahi perlunya pendekatan adaptif dalam pengelolaan sampah di kawasan pesisir. Salah satu konsep yang relevan adalah ekonomi sirkular, yaitu sistem yang memandang limbah sebagai sumber daya baru.

Limbah organik dapat diolah menjadi kompos atau biogas, sementara sampah anorganik bisa didaur ulang menjadi bahan baku industri. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.

Hidup di tengah laut bukanlah pilihan mudah, namun warga Dukuh Timbulsloko membuktikan kemampuan bertahan di tengah keterbatasan. Kini, yang mereka butuhkan adalah dukungan nyata berupa sistem pengelolaan sampah terpadu, sanitasi yang layak, dan kebijakan lingkungan yang berpihak pada masyarakat pesisir.

Kesimpulan

Dukuh Timbulsloko menghadapi dampak serius perubahan iklim berupa rob dan naiknya muka air laut, menyebabkan permukiman tenggelam dan masalah sampah serta sanitasi yang parah. Sampah domestik mencemari lingkungan perairan, berkontribusi pada risiko kesehatan dan menurunnya hasil tangkapan nelayan. Upaya jamban apung belum optimal, sementara pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular dapat menjadi solusi penting untuk mengurangi pencemaran dan meningkatkan kesejahteraan warga

Syarifah Atia, S.PWK adalah mahasiswa Program Studi S2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota di Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Selain itu, ia juga merupakan anggota Ikatan Ahli Perencana (IAP) Jawa Tengah dan aktif sebagai praktisi di bidang Perencanaan Wilayah dan Kota. Jatengdaily.com-St

You Might Also Like

Meningkatkan Produktivitas Pertanian Nasional
Senyum Petani Melon di Tengah Pandemi
Apa Kabar Raperda Pemajuan Kebudayaan?
DMI dan Memakmurkan Jamaah
Kenaikan Cukai Rokok: Dapatkah Mereduksi Konsumsi Rokok?
TAGGED:dan Sanitasi PesisirDukuh Timbulsloko: Dampak Perubahan Iklim
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?