Oleh: Multazam Ahmad
SETIAP bulan Ramadan, Nabi Muhamad SAW selalu memberi khabar gembira kepada para sahabat.”Marhaban Ya Ramadan, selamat datang wahai bulan suci ramadan.Telah datang kepada kalian bulan suci Ramadan, bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan puasa atas kalian di dalamnya.
Pada bulan ini pintu – pintu sorga dibuka, pintu-pintu neraka jahim ditutup, setan-setan dibelenggu, di dalamnya ada satu amalan yang lebih baik dari seribu bulan, barang siapa mendapat kebaikan malam itu maka ia telah diharamkan.” ( HR.Imam Ahmad,2/230).
Hadits tersebut merupakan landasan hukum untuk mengucapakn selamat datang terhadap bulan suci Ramadan. Bagaimana mungkin seorang yang beriman tidak gembira dengan dibukanya pintu-pintu surga? Bagaimana mungkin seorang pendosta, baik kecil maupun besar tidak gembira dengan ditutupnya pintu-pintu neraka? Bagaimana seorang tidak gembira dengan dibelenggunya setan-setan?
Menyambut Ramadan merupakan bukti cinta kita kepada Allah SWT. Sehingga sangat wajar kalau Rasulullah saw menggambarkan sebagai tanda kecintaan, “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah SWT dari dosa-dosamu.
Angkatlah tangan –tanganmu untuk berdoa pada waktu shalatmu karena itulah saat yang paling utama ketika Allah memandang semua hamba-Nya, dengan penuh kasih sayang-Nya; Dia menjawab mereka ketika hamba menyeru-Nya, menyambut mereka ketika hamba memanggil-Nya, dan mengabulkan mereka ketika hamba berdoa kepada-Nya.
Itulah wujud kasih sayang Allah SWT untuk membuka jalan bagi keselamatan dan kebahagiaan manusia dengan datangnya bulan Ramadhan sebagai bulan yang sangat istimewa.
Ramadan merupakan bulan di mana Allah SWT memanggil semua hamba-Nya untuk kembali menuju hakekat hidup yang sebenarnya.
Menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, manusia adalah “Anak-anak ” yang dikeluarkan dari rumah-Nya untuk bermain-main di halaman dunia ini.” Dan kehidupan dunia ini, hanyalah permainan dan sendau gurau.
Sedangkan kehidupan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS.Al-An ‘am : 32).
Kalau kita belajar dalam prosesi Haji ke Makkah, semua orang akan mengenal dan melihat Ka’bah (Baitullah) sebagai simbul tempat kembali jati diri manusia yang sesungguhnya. Karena manusia berhaji itu akan rela untuk meninggalkan kampung halaman dan siap meninggalkan pula urusan duniawi yang dicintai, meskipun sering hadir menyebalkan dan membosankan.
Ramadan juga disebut sebagai bulan Allah swt karena pada bulan itulah kita pulang, kita meninggalkan halaman permainan kita yang selama ini kita asyik dan sibuk bermain dan juga membeli berbagai menu permainan dunia yang bermacam-macan seperti, kedudukan, jabatan, kekayaan, dan lain sebagainya.
Melalui Ramadhan inilah Allah menyeru kita untuk kembali kepada-Nya, agar kita menjadi orang yang genah atau baik.
Oleh karena itu siapa pun orangnya, yang mengaku beriman ia wajib menyambut Ramadan sebagai wujud kecintaan kita kepada Allah SWT. “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.( QS.Al-Baqarah:183). Bertaqwa adalah orang yang bertanggung jawab atas dirinya dan lingkunganya.
Nafsu Hewaniah
Disadari atau tidak,kehidupan manusia selama ini selalu dihiasi dengan sifat hewaniah yang melekat pada manusia.Lebih parah lagi bila dilengkapi atribut-atribut yang melekat pada manusia seperti, kedudukan,kepangkatan ,kekayaan dan lain sebagainya.
Inilah yang menyebabkan manusia tidak bisa menjalankan amanah. Menurut Imam Abul Qasim Al-Qusyairi dalam kitab Risalatul Qusyairiyyah, ada beberapa sifat hewaniah atau nafsu kebinatangan pada manusia.
Pertama, Nafsu Kalbiyah, yaitu, jiwa yang suka memonopoli sendiri serta suka menilai dan menghina orang lain.
Kedua, Nafsu Himariyah, yaitu, jiwa yang sanggup memikul beban apapun namun tidak mengerti secuilpun apa yang dipikulnya. Itulah simbol kebodohan dalam diri manusia.
Ketiga, Nafsu Sabu’iyah, yaitu jiwa yang sifatnya suka menyakiti atau menganiaya orang lain dengan cara apapun.
Keempat, Nafsu Fa’riyah, yaitu, jiwa yang sifatnya merusak, menilep, menggerogoti, dan korupsi.Kelima, Nafsu Dzatis-suhumi wa Hamati wal-hayati wal-aqrabi, yaitu, jiwa yang sifatnya suka menyindir-nyindir orang, menyakiti hati orang lain, dengki, dendam, dan semacamnya.
Keenam, Nafsu Dzatis-suhumi wa Hamati wal-hayati wal-aqrabi, yaitu, jiwa yang sifatnya suka menyindir-nyindir orang, menyakiti hati orang lain, dengki, dendam, dan semacamnya.
Ketujuh,Nafsu Khinziriyah, Yaitu, jiwa yang sifatnya cenderung berbuat dosa dan maksiat, memakan dan meminum yang haram dan najis. Itulah perbuatan yang secara bathin sangat menjijikkan dan najis.
Kedelapan,Nafsu Thusiyah, yaitu, jiwa yang sifatnya suka menyombongkan diri, suka pamer, berlagak-lagu, busung dada, dan sebagainya.
Kesembilan, Nafsu Jamaliyah, yaitu, jiwa yang mempunyai sifat tidak mempunyai sopan santun, kasih sayang, tenggang rasa sosial, tidak peduli dengan kesusahan orang lain. Yang penting, dirinya selamat dan untung.
Kesepuluh, Nafsu Dubbiyah, yaitu, jiwa yang sifatnya biarpun kuat dan gagah, tapi akalnya dungu.Ke sebelas, Nafsu Qirdiyah, yaitu, jiwa yang sifatnya suka mengejek, mencibir, sinis, dan suka melecehkan/memandang enteng orang lain
Segodang sebutan nafsu itulah selama hidup manusia selalu akrab dengan sifat hewaniah. Kita memahami manusia selalu ada kesalahan.
Dengan menjalani puasa ramadan yang benar ,diharapkan bisa memotong sifat hewaniah yang selalu ada selama manusia masih hidup. Sehingga puasa kita benar memiliki makna,tidak hanya menahan makan,minum,dan biologis.
Momentum ini harus bisa mendongkrak tujuh jalan ( meminjam istilah ar-Rumi), yakni orang berpuasa mampu mereguk cinta Tuhan (Allah) .Sehingga orang puasa bisa melahirkan kedermawanan dan menolong orang, jadilah seperti sungai. Artinya, biarkan kedermawananmu mengalir tak henti-henti, dan jangan mengharapkan balasan.
Dalam kasih sayang dan berkah, jadilah seperti matahari. Artinya, berikan kasih sayang kepada siapapun tanpa diskriminasi.
Dalam menutupi aib orang, jadilah seperti malam. Artinya, menutup aib siapapun rapat-rapat dan tidak pernah membocorkannya.
Dalam keadaan marah dan murka, jadilah seperti orang mati. Artinya, ketika itu terjadi lebih baik diam, tidak melakukan apapun, agar tidak melakukan kesalahan apapun dan menyesal kemudian.
Dalam hal kesederhanaan dan kerendahhatian, jadilah seperti bumi. Artinya, selalu menempatkan diri di bawah dan meninggikan yang lain. Dalam hal toleransi, jadilah seperti laut. Artinya, berlapang dada sepenuhnya dan siap menampung pandangan-pandangan yang berbeda dengan cara yang baik.
Tampillah seperti diri sejatimu, atau jadilah seperti tampilanmu. Artinya, hiduplah dengan penuh integritas. Momentum puasa ini jangan kita sia-siakan,mumpung Allah Swt masih memberi kesempatan untuk kita semua.
Semoga kita dapat meraihnya.Wallahua’lam al shawab
Dr. H Multazam Ahmad,MA
Wasekjen Pengurus Pusat DMI
Sekretaris MUI Jawa Tengah,
Ketua Takmir Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah,
Dan Dosen FBS Unnes. Jatengdaily,com-St


