By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Ramadan dalam Puisi Indonesia Modern
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
GagasanTausiyah

Ramadan dalam Puisi Indonesia Modern

Last updated: 20 Februari 2026 05:36 05:36
Jatengdaily.com
Published: 20 Februari 2026 05:36
Share
SHARE

Oleh: Gunoto Saparie

RAMADAN selalu datang dengan cara yang sama: diam-diam, tetapi mengguncang. Ia tidak mengetuk pintu sejarah dengan gaduh; ia hadir seperti jeda dalam kalimat panjang kehidupan—sebuah koma yang memaksa manusia berhenti, menarik napas, dan mendengarkan dirinya sendiri.

Dalam puisi Indonesia modern, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah. Ia adalah ruang batin, tempat bahasa kehilangan kepastiannya dan justru menemukan makna.

Para penyair Indonesia modern tampaknya memahami bahwa Ramadan bukan peristiwa kalender, melainkan pengalaman eksistensial.

Puisi-puisi mereka tidak hanya berbicara tentang lapar dan dahaga, tetapi tentang kekosongan yang justru penuh: sunyi yang mengandung gema Ilahi. Di sana, puisi menjadi semacam doa yang ragu-ragu, tidak selalu yakin kepada dirinya sendiri, tetapi terus mencari.

Dalam banyak puisi modern Indonesia, Ramadan tampil sebagai bulan kerinduan. Kerinduan ini bukan sentimentalitas religius yang mudah ditebak. Ia lebih mirip nostalgia terhadap kesucian yang pernah dimiliki manusia, atau mungkin hanya dibayangkan pernah ada.

Kita dapat melihat jejak itu dalam puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, yang sering menghadirkan kesenyapan sebagai pengalaman spiritual. Sapardi jarang menyebut Ramadan secara eksplisit, tetapi atmosfer puisinya: hujan yang turun perlahan, waktu yang bergerak lirih, doa yang hampir tak terdengar, di mana menggemakan suasana batin puasa: menunggu tanpa kepastian, berharap tanpa suara keras.

Ramadan dalam puisi modern sering hadir sebagai pengalaman interior. Tidak ada khotbah. Tidak ada deklarasi iman yang lantang. Yang ada justru keraguan manusia yang ingin percaya.

Barangkali karena iman, seperti puisi, tidak pernah selesai.

Namun Ramadan juga bukan hanya kesunyian pribadi. Ia membawa kesadaran sosial. Puasa memperlihatkan kontras: antara lapar simbolik dan kelaparan nyata; antara spiritualitas dan pasar yang riuh.

Dalam sajak-sajak Taufiq Ismail, Ramadan sering menjadi momentum refleksi moral bangsa. Ia melihat ibadah bukan sekadar ritual individual, melainkan kritik terhadap ketidakadilan sosial.

Puasa menjadi pengingat bahwa solidaritas bukan slogan, melainkan pengalaman tubuh—merasakan kekurangan agar memahami penderitaan orang lain.

Di sini puisi Ramadan berubah menjadi cermin sosial. Penyair menanyakan: apakah manusia benar-benar berpuasa, atau hanya memindahkan nafsu ke bentuk lain—belanja, konsumsi, kemeriahan semu?

Pertanyaan itu tetap relevan hari ini, ketika Ramadan sering lebih tampak sebagai festival ekonomi daripada perjalanan spiritual. Puisi, dalam hal ini, berfungsi sebagai suara kecil yang menolak lupa.

Sementara itu, dalam dunia bahasa yang lebih eksperimental, Sutardji Calzoum Bachri menghadirkan dimensi lain: Ramadan sebagai pengalaman mistik bahasa. Sutardji pernah membebaskan kata dari makna konvensionalnya, seakan ingin mengembalikan bahasa kepada asalnya: mantra, zikir, bunyi yang mendekati doa.

Puisi-puisinya mengingatkan bahwa ibadah tidak selalu rasional. Dalam Ramadan, manusia berjumpa dengan sesuatu yang tak sepenuhnya dapat dijelaskan. Kata-kata pun menjadi terbatas.

Maka penyair membiarkan bunyi berbicara. Seperti tasbih yang diulang tanpa perlu definisi. Di titik ini, puisi dan ibadah hampir tak dapat dibedakan.

Ramadan juga menjadi ruang pertemuan antara religiusitas dan kemanusiaan sehari-hari. Dalam karya Emha Ainun Nadjib, bulan puasa sering hadir bersama rakyat kecil: pedagang kaki lima, jamaah masjid kampung, manusia biasa yang bergulat dengan iman di tengah realitas sosial.

Puisi tidak berdiri di menara gading. Ia duduk di serambi masjid, mendengar obrolan selepas tarawih, atau menyaksikan anak-anak berlarian menunggu beduk magrib. Ramadan menjadi pengalaman kolektif—agama yang hidup dalam percakapan, humor, dan kebersamaan.

Di sana spiritualitas tidak terasa angkuh. Ia akrab, bahkan kadang jenaka. Barangkali karena kesalehan sejati tidak membutuhkan keseriusan berlebihan.

Nuansa refleksi eksistensial juga tampak dalam karya Kuntowijoyo, yang memandang agama sebagai kesadaran historis sekaligus batiniah. Ramadan dalam perspektifnya bukan pelarian dari dunia, tetapi cara memahami dunia secara lebih jernih.

Puasa menjadi metode membaca diri: manusia menunda kebutuhan tubuh agar mampu mendengar suara nurani. Dalam puisi maupun prosa puitiknya, ibadah selalu terkait tanggung jawab sosial. Kesalehan tidak berhenti di sajadah; ia harus berjalan ke ruang publik.

Ramadan, dengan demikian, adalah latihan etika.

Sementara itu, puisi-puisi Ahmad Mustofa Bisri, yang akrab dipanggil Gus Mus, memperlihatkan sisi lain Ramadan: kelembutan spiritual. Puisinya sering menghadirkan dialog intim antara manusia dan Tuhan, penuh kerendahan hati dan kesadaran akan keterbatasan diri.

Tidak ada retorika besar. Yang ada justru pengakuan sederhana: manusia selalu gagal menjadi sempurna, tetapi tetap berharap ampunan.

Ramadan di sini adalah ruang pengampunan, bukan karena manusia layak, tetapi karena Tuhan memilih untuk tetap mencintai. Puisi menjadi bisikan, bukan pidato.

Tema-tema yang berulang dalam puisi Ramadan Indonesia modern tampak jelas: kerinduan spiritual, refleksi sosial, simbolisme alam dan ibadah, serta kekhusyukan malam. Hilal, tadarus, lampu masjid, dan sepertiga malam muncul bukan sekadar ornamen religius, melainkan metafora perjalanan batin.

Malam Lailatul Qadar sering digambarkan bukan sebagai peristiwa spektakuler, tetapi sebagai kemungkinan sunyi: mungkin ia datang ketika seseorang diam-diam memaafkan, atau ketika doa diucapkan tanpa ambisi duniawi.

Puisi memahami sesuatu yang sering dilupakan manusia modern: pengalaman religius terbesar justru berlangsung tanpa saksi. Menariknya, puisi Ramadan modern juga menyimpan kegelisahan. Banyak penyair melihat bagaimana makna puasa terancam oleh budaya konsumsi.

Mall yang penuh menjelang berbuka menjadi kontras dengan pesan pengendalian diri. Dalam puisi, ironi ini muncul sebagai kritik halus, kadang getir, kadang ironis.

Penyair tidak menghakimi; ia hanya memperlihatkan. Dan sering kali, memperlihatkan sudah cukup menyakitkan.

Ramadan dalam puisi Indonesia modern bukan sekadar tema religius. Ia adalah medan pencarian makna manusia. Puisi-puisi itu menunjukkan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, melainkan usaha memahami kefanaan diri di hadapan yang abadi.

Di sana, manusia menyadari bahwa hidup hanyalah persinggahan singkat. Bahwa tubuh akan lelah, waktu akan habis, dan kata-kata pun suatu hari kehilangan suara.

Tetapi justru karena itu, doa menjadi penting. Dan puisi, dengan segala keraguannya, menjadi cara manusia mempertahankan harapan.

Ramadan mengajarkan jeda. Puisi mengajarkan mendengar. Ketika keduanya bertemu, lahirlah bahasa yang tidak lagi sekadar sastra, melainkan pengalaman batin: sebuah perjalanan dari hiruk-pikuk dunia menuju kesunyian yang, anehnya, terasa penuh.

Mungkin di situlah rahasia puisi Ramadan: ia tidak pernah benar-benar selesai dibaca, sebagaimana manusia tidak pernah selesai mencari Tuhan.

*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Satupena Jawa Tengah. Jatengdaily.com-St

You Might Also Like

Food Fraud Pada Kasus Tata Niaga Beras Oplosan
Setelah Peluncuran Dana Indonesiana
Bulog dan Ketahanan Pangan Era COVID-19
In This Economy, Masih Beranikah Hidup Bergaya Konsumtif?
Pergeseran Jumlah Pengangguran di Sragen
TAGGED:Puisi Indonesia Modernramadan
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?