By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Serunya ‘Uji Nyali’ di Wisata Via Ferrata Bukit Goa Rangkok
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
NewsWisata

Serunya ‘Uji Nyali’ di Wisata Via Ferrata Bukit Goa Rangkok

Last updated: 25 Juni 2019 14:57 14:57
Jatengdaily.com
Published: 25 Juni 2019 14:57
Share
Panjat tebing di Objek Wisata Via Ferrata Bukit Goa Rangkok, di Desa Pagerwangi, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. Foto: wing
SHARE

SLAWI (Jatengdaily.com) -Bagi yang suka tantangan dan uji nyali serta ingin menghabiskan akhir pekan dengan wisata unik dan tak biasa, bisa berkunjung ke Objek Wisata Via Ferrata Bukit Goa Rangkok, di Desa Pagerwangi, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal.

Kades Pagerwangi, Kecamatan Balapulang Waluyo, mengatakan, Wisata Via Ferrata Bukit Goa Rangkok menjadi rujukan bagi masyarakat Kabupaten Tegal yang senang dengan tantangan. Karena wisata ini, selain menonjolkan panorama alam yang indah juga tantangan panjat tebing.

“Desa Pagerwangi sekitar 13 kilometer dari Kota Slawi, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Rute perjalanan menuju Desa Pagerwangi cukup mudah, dengan lalu lintas yang relatif lancar, ” ungkap dia.

Kecamatan Balapulang memiliki bentang alam yang cukup unik. Topografinya berbukit-bukit dan banyak didominasi oleh bebatuan.

“Bila ditarik garis lurus, Gunung Slamet hanya berjarak sekitar 19 kilometer dari Desa Pagerwangi yang memiliki suasana alami nan asri ini,” katanya.

Di Desa Pagerwangi, terdapat dua buah bukit, yang menjadi penanda unik bentang alam desa, sehingga dari kejauhan pun orang bisa dengan mudah mengetahui letak desa dengan penduduk 1541 jiwa ini.

Bukit Penawungan dan Bukit Goa Rangkok, demikian nama kedua buah bukit yang namanya sudah tertulis di peta kuno Belanda buatan tahun 1941. Puncak tertinggi bukit Penawungan memiliki ketinggian 425 meter di atas permukaan laut. Bukit yang lahannya adalah milik warga secara perorangan ini cukup lebat ditumbuhi beraneka pepohonan.

“Untuk bukit Goa Rangkok, posisinya berada tepat di depan Bukit Penawungan. Puncak tertinggi di bukit ini memiliki ketinggian 373 meter di atas permukaan laut. Dari kaki bukit yang permukaannya berupa tanah dengan banyak pepohonan, sampai ke puncak bukit yang berupa bebatuan, kira-kira memiliki elevasi ketinggian hampir 100 meter. Bukit Goa Rangkok memiliki beberapa tebing tegak lurus, dan lima puncak bebatuan dengan aneka bentuk formasi yang unik, yaitu puncak Wadas Lawang 1 dan 2, Watu Tumpang, Watu Kukusan, dan Pengancikan,” tambahnya.

Dari puncak bukit Goa Rangkok, pengunjung bisa melihat pemandangan indah Desa Pagerwangi dan desa-desa di sekitarnya. Terutama di sore hari saat menjelang matahari terbenam. Di situlah pengunjung bisa menikmati sajian premium panorama alam yang sangat cantik, perpaduan antara hijaunya persawahan dan perbukitan, yang berbaur dengan warna senja kemerahan.

Jenis batuan yang membentuk tebing dan puncak bukit Goa Rangkok adalah batuan breksi. Kata breksi berasal dari bahasa Italia, yang berarti lepasan kerikilan atau batuan yang dibuat oleh kerikilan yang tersemen. Batuan breksi berasal dari magma, fragmen (butiran) breksi memiliki ukuran yang relatif besar, minimal lebih dari 2 mm, dan mempunyai banyak sudut, di mana ruang antara butiran fragmennya diisi oleh partikel-partikel yang lebih kecil (biasa disebut matriks) atau semen berupa mineral yang mengikat batuan secara bersama-sama.

Via ferrata adalah teknik panjat dengan mendaki tangga besi yang ‘ditanam’ di dinding tebing. Besi yang ditanam di sepanjang dinding tebing batu masing-masing berjarak 50 cm dengan kedalaman 20 cm. Alat pengaman sampai perekat tangga besi semuanya berstandar.

Satu batang anak tangga besi mampu menopang beban 22 kilogram Newton atau setara dengan 500 kilogram.

Pemanjatnya menggunakan peralatan standar safety berupa harness, tali panjat, lanyard, karabiner (pengait), dan helm. Tiap orang punya dua pengaman. Satu dipasangkan di kabel baja yang membentang di kiri atau kanan tangga. Pengaman lainnya dipasangkan di tangga via ferrata.

Tercatat dalam sejarahnya, generasi pertama via ferrata lahir di Austria pada tahun 1843, oleh Hocher Saschein. Pada tahun 1869 dibuat via ferrata yang menghubungkan dua puncak gunung Grosaclockner, gunung dengan puncak tertinggi di Austria. wing-she

You Might Also Like

Presiden Pantau Vaksinasi Seniman dan Budayawan
Segera Atasi Kesenjangan di Sektor Pendidikan
HUT Fatayat NU, Marimas Bagikan Tiket Umrah
Atase Kejaksaan di KBRI Bangkok Identifikasi 20 WNI Korban TPPO di Myanmar
Kenaikan Yesus Kristus, Menag: Motivasi Layani Sesama dan Merajut Kebersamaan dalam Keragaman
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?