Antusiasme Mudik Lebaran

Oleh: Rudibdo SE MSi
(Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Semarang)

MENURUT data Litbang Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, Pemudik lebaran Tahun 1440 H atau pada Tahun 2019 dari Jabodetabek diprediksi mencapai 14.901.466 orang. Sungguh jumlah pergerakan masa yang relatif besar ketika rentang waktu pergerakan orang, kendaraan dan barang yang menyertainya itu hanya terjadi dalam kurun waktu yang sangat terbatas, yakni diprediksi puncak arus mudik terjadi pada H-5 atau pada tanggal 31 Mei 2019 dan Arus Balik diprediksi pada H+3 atau pada tanggal 9 Juni 2019.

Masih berdasarkan data Litbang Dirjen Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan RI, prediksi pemudik dengan menggunakan bus sebanyak 4,459.690 penumpang (30%), kereta api 2.488.058 orang (16,7%), pesawat 1.411.051 orang (9,5%) dan sepeda motor diperkirakan mencapai 942.621 orang (6,3%).

Perpindahan orang dan barang sejumlah itu merupakan fenomena tahunan, yang menguak sejumlah fakta bahwa mudik/ pulang kampung bagi kaum urban saat Idul Fitri merupakan peristiwa budaya dan religiius yang tetap semarak. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi sosial ekonomi masyarakat tetap stabil pascahiruk pikuk pemilu serentak yang masih menyisakan sejumlah permasalahan.

Prediksi Kendaraan Pribadi
Kendaraan pribadi masih merupakan pilihan utama dari para pemudik yang diprediksi akan mengalami kenaikan sebesar 13,09 % menjadi 10,61 juta bila dibandingkan pada tahun 2018. Sedangkan total unit yang akan digunakan juga mengalami peningkatan bila pada tahun 2018 sebanyak 3,19 juta unit naik 17,59% menjadi 3,76 juta unit pada tahun 2019.

Berbagai alasan dan pertimbangan menjadi dasar dalam menentukan pilihan mudik dengan menggunakan kendaraan pribadi. Tol Lintas Jawa yang sudah terkoneksi dan boleh dibilang telah berhasil menghubungkan kembali jalur atau rute bersejarah Anyer-Panarukan ini merupakan alasan utama para pemudik di pulau Jawa dengan menggunakan kendaraan pribadi.

Perkembangan wisata alam lokal, etnik maupun keanekaragaman kuliner yang terhampar di sepanjang rest area yang digalakan secara massif oleh Badan Ekonomi Kreatif dan UMKM selama beberapa tahun terakhir, merupakan daya tarik lain yang menjadi pertimbangan pemudik.

Pemudik pada Lebaran 1440 H kali ini seolah melupakan tragedi Brexit pada Lebaran lalu. Meningkatnya persentase pemudik dengan menggunakan kendaraan pribadi menyiratkan bahwa mudik tahun ini merupakan perjalanan mudik yang memberikan harapan lebih santai dan menyenangkan.

Hal ini dibuktikan bahwa pada liburan Natal Tahun Baru 2018 saat beberapa ruas tol masih dibuka dengan sistem fungsional tidak jarang dalam percakapan di antara pemudik mereka saling membanggakan diri atas capaian jarak tempuh Jakarta – Semarang, Jakarta – Surakarta atau bahkan Jakarta – Surabaya.

Tujuan Pemudik
Jawa Barat, Jawa Tengah dan DIY, serta Jawa Timur merupakan daerah tujuan utama bagi para pemudik yang berasal dari Jabodetabek pada hari Raya Idul Fitri 1440 H tahun ini. Berdasarkan data Litbang Direktorat Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan RI, pemudik dengan tujuan ke Jawa Tengah mencapai 5.615.408 orang (37,68%), Jawa Barat 3,709.049 orang atau (24,89%) dan Jawa Timur 1.660.625 orang (11,14%).

Proses perpindahan orang dan barang dengan menggunakan alat transportasi baik kendaraan umum maupun kendaraan pribadi yang tercampur menjadi satu dengan rentang waktu pergerakan yang relatif singkat, tentu saja akan menimbulkan berbagai konsekuensi dan risiko yakni kemacetan. Namun demikian melihat animo besar bagi para pemudik untuk tetap menggunakan kendaraan pribadi, kemacetan lalu lintas bukan merupakan sebagai penghambat.

Kemacetan Lalu Lintas dan Dampaknya
Boediningsih (2011) menyatakan bahwa “Kemacetan lalu lintas terjadi karena beberapa faktor, seperti banyak pengguna jalan yang tidak tertib, pemakai jalan melawan arus, kurangnya petugas lalu lintas yang mengawasi, adanya mobil yang parkir di badan jalan, permukaan jalan tidak rata, tidak ada jembatan penyeberangan, dan tidak ada pembatasan jenis kendaraan. Banyaknya pengguna jalan yang tidak tertib, seperti adanya pedagang kaki lima yang berjualan di tepi jalan, dan parkir liar. Selain itu, ada pemakai jalan yang melawan arus. Hal ini terjadi karena kurangnya jumlah petugas lalu lintas.

Mendasari Teori Boedingsih (2011) sebagaimana tersebut diatas kemacetan lalu lintas saat mudik Lebaran kali ini tak dapat terhindarkan karena potensi terjadinya kemacetan lalu lintas boleh dibilang terpenuhi seluruh unsurnya. Kondisi inilah yang menjadi tugas dan tanggung jawab jajaran pemerintah, pemerintah daerah, Polri dan masyarakat untuk melakukan upaya pelayanan transportasi yang lancar dan berkeselamatan.

Karena upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan Polri tanpa dukungan kesadaran tinggi dari masyarakat pengguna jalan mustahil kenyamanan, kelancaran dan keselamatan dalam berlalu lintas dapat dicapai.

Menurut Bergkamp (2011), kemacetan lalu lintas memberikan dampak negatif yang sangat besar bagi penduduk, seperti pemborosan bahan bakar, terbuangnya waktu secara percuma, dan kerusakan lingkungan akibat polusi udara yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor (emisi Gas Buang).

Pakar Transportasi, Danang Parikesit, menyatakan, menurut survei, masyarakat Jakarta akan menghabiskan 6-8% PDB untuk biaya transportasi. Padahal idealnya menurut standar internasional adalah 4% dari PDB. Pemborosan ini membuat uang yang seharusnya digunakan atau di alokasikan masyarakat untuk penggunaan lain harus dikeluarkan untuk biaya transportasi.

Upaya Menciptakan Jaringan Transportasi
Berbagai persiapan menyambut mudik lebaran 1440 H telah dilakukan oleh Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan dengan melibatkan seluruh stake holders seperti Polri, BPTD, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/ Kota, Dinas Perhubungan Provinsi dan Kabupaten/ Kota, Organda, Jalan Tol, Jasa Raharja, Jasa Marga serta pihak-pihak lain yang berkompeten.

Hal ini dilakukan karena pengelolaan Jalan sebagai sarana transportasi utama dengan berbagai fasilitas dan sarana pendukungnya melibatkan keterlibatan dari berbagai pemangku kepentingan.

Di samping itu rambu-rambu jalan di berbagai titik rawan kemacetan juga perlu mendapatkan perhatian, termasuk ruas jalan yang sedang dalam proses pembangunan. Dengan adanya potensi penyempitan arus jalan yang sedang dalam proses konstruksi akan mengakibatkan kemacetan yang tidak dapat dihindari. Kehadiran dan dukungan pemerintah daerah yang harus dilakukan adalah melakukan Ram Chek/ uji laik jalan terhadap kendaraan yang memiliki potensi kemacetan di jalan.

Mempersiapkan Manajemen Rekayasa Lalu Lintas (MRLL), menginventarisasi sejumlah jalan alternatif dengan dilengkapi Rambu Pendahulu Penunjuk Jalan (RPPJ), Optimalisasi Area Traffic Control System (ATCS) dan CCTV, Penempatan Posko Lebaran yang melibatkan personel Gabungan Polri, TNI, Dishub, Tenaga Medis, Satpol PP, Pramuka, PMI, BPBD dan sejumlah unsur masyarakat di sejumlah titik rawan kemacetan. Serta pemasangan Bunner berupa himbauan kepada para pemudik merupakan upaya yang diharapkan akan membantu kelancaran lalu lintas bagi para pemudik.

Dengan persiapan yang baik terkoordinasi dan terintegrasi dari seluruh stakeholders menyambut dan melayani para pemudik yang melintasi dan singgah di wilayah masing-masing daerah, diharapkan mudik Hari Raya Idul Fitri 1440 H di Tahun 2019 ini para pemudik semakin nyaman dan antusias menikmati masa liburannya. Harapan lain yang tidak kalah penting adalah dengan lalu lintas yang lancar, nyaman dan berkeselamatan bisa menjadi salah satu elemen fundamental ekonomi kerakyatan.

Yakni sebagai intermediasi antara pemudik dengan bekal financial yang cukup dan tidak owel (keberatan) untuk melepas dan mentraksasikan sebagian uang sakunya ditempat atau wilayah yang mereka singgahi utamanya kuliner, souvenir yang dikelola oleh UMKM disejumlah Rest Area. Sehingga fenomena Macet Pada Mudik Lebaran tetap menumbuhkan antusiasme bagi para pemudik dan memberikan berkah bagi siapapun. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here