Garda Terdepan, Petani Perlu Perhatian

Oleh: Diana Dwi Susanti, S.ST

Statistisi BPS Provinsi Jawa Tengah

dianadwisusanti@gmail.com

BULAN Maret adalah awal masuknya pandemi covid – 19 di Jawa Tengah. Kondisi ini juga sedikit mempengaruhi Nilai Tukar Petani (NTP) Jawa Tengah bulan Maret 2020 yang dirilis BPS pada awal April 2020. Daya beli petani merosot sebesar 1,14 persen. Artinya indeks harga yang diterima petani menurun dibandingkan bulan Februari. Sedangkan indeks harga yang harus dibayar petani meningkat.

NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Walaupun sudah menjadi trend nilai NTP pada awal tahun terjadi penurunan nilai yang disebabkan oleh panen raya, tetapi untuk tahun 2020 ini istimewa. Karena petani juga manusia yang rentan terkena wabah covid – 19. Pekerjaannya yang berada di luar rumah tanpa ada pengamanan memerlukan perhatian khusus dibandingkan mereka yang bekerja di dalam rumah.

Sebagai garda terdepan pangan di tengah pandemi covid – 19 hal ini mencemaskan. Tidak hanya tim medis saja yang harus mendapatkan perhatian lebih. Tetapi petani sewajibnya juga menerima perhatian yang sama. Karena keberadaannya menentukan kestabilan pangan seluruh masyarakat. Di tengah maraknya kartu prakerja dengan total bantuan untuk masing-masing orang sebesar Rp 3,5 juta yang dapat digunakan untuk membiayai pelatihan kerja, tunjangan untuk petani yang harus bergelut setiap hari tanpa mengenal wabah belum ada kepastian.

Perlu mengingatkan kembali bahwa kemiskinan di Jawa Tengah September 2019 menyebutkan 56,45 persen adalah penduduk miskin di pedesaan yang mengandalkan sektor pertanian sebagai lapangan pekerjaan utama. Profesor Tun (pemenang nobel dari Venezuela) pun menegaskan, sektor pertanian pasti tergilas kalau tidak ada perhatian yang sepadan dari pemerintah. Kalau pada titik itu ada bencana, maka baru sadar betapa pentingnya bahan makanan yang dihasilkan oleh sektor pertanian.

Kalau pun orang kaya mempunyai uang, tidak ada yang bisa dibeli. Karena tidak ada stok bahan makanan. Hal seperti ini tentu tidak ingin terjadi di tengah wabah pandemi. Di saat hampir semua orang stay at home petani masih gagah berani keluar rumah untuk menjaga pangan tetap ada. Tanpa perlindungan, tanpa disinfektan atau pun baju APD.

Petani sebagai Garda Depan Ketahanan Pangan. Jika tim medis menjadi garda depan dalam penganan pasien covid – 19. Maka petani menjadi garda terdepan dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Apalagi menurut Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyatakan bahwa krisis pangan dunia berpotensi terjadi pada April dan Mei karena rantai pasokan terganggu kebijakan negara-negara dalam menekan penyebaran virus covid – 19.

Larangan perjalanan juga menghambat distribusi pasokan pangan dunia. Karena pembatasan sosial ini pesawat yang beroperasi sedikit. Kalaupun ada pesawat yang beroperasi tarifnya selangit. Sehingga pasokan pangan dari daerah penghasil pangan dunia juga terhambat. Belum lagi ditambah kebijakan negara-negara eksportir pangan menghentikan ekspornya untuk menjaga ketahanan pangan di dalam negerinya sendiri. Karena kebutuhan pangan merupakan prioritas utama selama pandemi berlangsung.

Sebagai contoh Vietnam memutuskan untuk menunda perjanjian ekspor beras guna memenuhi cadangan dalam negerinya. Punic buying juga menambah deretan kesuraman pangan pada masa pandemi. Peningkatan pembelian barang-barang pangan yang dilakukan negara-negara yang mempunyai uang mempengaruhi ketersedian pangan dunia ikut terganggu.

Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan nasional menjadi tumpuan harapan bagi seluruh penduduk nasional. Petani Jawa Tengah harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Untuk itu, pemerintah harus bisa berupaya seadil mungkin dalam meningkatkan pendapatan petani dari hasil produksi pertaniannya dengan tidak memberatkan harga-harga pangan di tingkat konsumen. Karena masyarakat juga sedang dalam masa sulit.

Selama ini pertanian selalu terkalahkan dengan berbagai dalih mempertahankan inflasi dan daya beli masyarakat. Maka dari itu, sektor pertanian jangan dilupakan bahkan sangat perlu perhatian dan fokus dari pemerintah. Pertanian dan petani dalam pandemi ini harus juga mendapatkan bantuan agar proses produksi tetap terjaga. Biaya produksi yang memberatkan petani hendaknya menjadi prioritas utama yang dibantu oleh pemerintah. Kalau perlu petani mendapat gaji dalam melakukan proses produksi selamat 4 bulan.

Seperti halnya pengangguran yang mendapat kartu pra-kerja. Sehingga petani fokus dalam menghasilkan produksi pangan. Dan pemerintah membeli hasil produk pertanian untuk menjaga kestabilan harga di masyarakat. Save Petani Dalam masa pandemi ini, kebutuhan pangan adalah aksentuasi untuk menjaga kesehatan masyarakat.

Kebutuhan pangan nasional harus melimpah dengan harga yang murah. Tetapi kesejahteraan produsen tidak boleh kalah. Sudah saatnya Indonesia bergotong-royong dalam menghadapi wabah covid – 19 ini. Mereka yang terkena PHK dan mendapat kartu pra kerja hendaknya diarahkan untuk menghasilkan output yang dibutuhkan sebagian besar masyarakat yaitu pangan. Mereka diajarkan bertani dan berternak untuk membantu petani dalam proses produksinya. Maka hasilnya pun bisa dinikmati oleh masyarakat luas.

Dengan adanya kondisi saat ini yang mejadi tumpuan adalah petani lokal dan pengirim (logistik) produk yang menjadi penolong saat kondisi susah. Bantu pertanian Indonesia dan save petani untuk tetap kuat dan terhindar dari virus mematikan supaya tetap menghasilkan produk makanan ditengah pandemi. Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here