Berdialog dengan Hilal

Oleh: Youla Afifah Azkarrula

SAAT ini kita sedang melaksanakan ibadah puasa selama sebulan yang hanya dapat dijumpai sekali dalam setahun. Artinya kita sebentar lagi akan merayakan hari raya idul fitri. Sebelum itu, para pakar falak harus menentukan munculnya hilal sehingga bisa menentukan tanggal pastinya kapan kita akan berlebaran. Kata hilal tentu saja bukan hal yang asing untuk kita dengar. Biasanya hal ini mulai dibicarakan di media massa saat lebaran sudah dekat.

Meskipun sering didengar, namun hal ini masih dipertanyakan di kalangan masyarakat awam. Apalagi standar dari hilal sering dipertanyakan akibat adanya perbedaan kriteria yang terjadi dalam penentuan awal bulan hijriyah antara ormas dan pemerintah. Hal ini sering kali membuat perbedaan awal puasa ramadhan dan lebaran antara ormas dan pemerintah.

Hilal adalah bulan sabit (muda) tertipis yang terbentuk pertama kali – setelah bulan berada segaris lurus dengan matahari – yang berkedudukan rendah di atas cakrawala langit barat yang hanya bisa diamati setelah terbenamnya matahari. Apabila matahari belum terbenam maka hal ini belum dinamakan sebagai hilal. Hilal dijelaskan dalam banyak redaksi seperti Al-Qur’an dan hadits.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 185 yang mengatakan bahwa hilal adalah tanda-tanda waktu bagi manusia untuk melakukan ibadah. Lalu dalam hadist Rasulullah ﷺ bersabda, “Berpuasalah karena melihat hilal, jika tidak maka genapkanlah” dan hal inilah yang memperkuat bahwa penentuan ramadhan bisa diketahui melalui kemunculan hilal. Bukan hanya peradaban islam yang menggunakan penanggalan berbasis pada kenampakan bulan, namun bangsa Babilonia, bangsa Tiongkok Kuno, suku Astek dari Amerika, dan Aborigin dari Australia juga mengacu pada pergerakan bulan.

Hilal merupakan tanda utama dalam penanggalan islam. Anggota tim falakiyah Kementrian Agama, Bapak Cecep Nurwendaya membagi bulan menjadi 5 fase yaitu fase bulan baru, sabit, separuh, besar dan tua. Sabit tipis inilah yang harus diamati pada hari ke 29 di akhir bulan hijriyah dalam waktu singkat setelah terbenamnya matahari untuk menentukan masuknya awal bulan baru di keesokan harinya atau digenapkan menjadi 30 hari.

Dalam merukyah hilal, terdapat banyak faktor pengganggu dari visibilitas hilal seperti cuaca berawan, mendung, kabut penghalang hingga langit yang masih cukup terang yang mengganggu penglihatan. Selain rukyah terdapat metode yang digunakan oleh kalangan seperti Muhammadiyah yang menggunakan hisab. Hisab adalah metode yang menetapkan penanggalan dengan melakukan perhitungan pada posisi bumi terhadap matahari dan bulan secara astronomis dan matematis.

Kedua perbedaan ini dalam menentukan awal bulan hijriyah terutama pada pelaksanaan lebaran memiliki dasar hukum masing-masing yang kuat. Rukyah yang digunakan oleh kalangan NU menggunakan dalil yang salah satunya adalah “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbuka-lah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah menjadi 30 hari” sehingga menentukan awal puasa dan lebaran hanya dilakukan bila kita melakukan pengamatan dengan melihat hilal.

Namun, kalangan Muhammadiyah berpijak pada surah Yunus ayat 5 yang artinya, “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkannya tempat-tempat bagi perjalanan bulan itu supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu” sehingga menentukan awal puasa dan lebaran dapat dilakukan dengan melakukan perhitungan secara matematis dan astronomis karena semua benda sudah ditetapkan dan dapat dihitung periodenya.

Dengan adanya perbedaan dalam penentuan awal bulan, hal ini berdampak pada penentuan lebaran yang dilakukan di Indonesia. Mulailah banyak perdebatan antar kalangan untuk menentukan kapan lebaran. Namun dalam penentuan ini, pemerintah tidak hanya diam namun juga ikut andil dengan melaksanakan sidang isbat yang nantinya hasil keputusan ini diumumkan di seluruh media komunikasi yaitu TV, radio dan media online lainnya. Namun terkadang juga terdapat beberapa ormas yang mengumumkan kapan lebaran dengan mengeluarkan surat keputusan dari ormas mereka sendiri. Dan hal ini tidaklah mengapa karena kepentingan beribadah ada pada diri masing-masing.

Menurut salah satu pakar falak terkemuka, Ketua Asosiasi Dosen Falak Indonesia, Dr. KH. Ahmad Izzuddin, M.Ag., beliau menuturkan bahwa perbedaan yang ada terhadap kalangan besar terutama NU dan Muhammadiyah tidak usah diambil pusing. Menurut beliau, kedua kalangan ini tidak bisa disatukan karena memiliki dasar pijakan yang berbeda dengan filosofi yang berbeda pula. NU memilih rukyah karena filosofi empirik sedangkan Muhammadiyah memilih hisab karena filosofi eksistensi.

Jika tidak dipandang mata maka hilal tidak ada menurut NU sedangkan jika ketinggian hilal sesuai dengan kriteria hisab maka hilal ada walau terhalang. Adanya hilal inilah yang dinamakan eksistensi atau adanya keberadaan. Beliau juga sempat menuturkan bahwa pada hakikatnya berpuasa tergantung pada diri masing-masing, kapan mulai berpuasa dan kapan selesai berpuasa. Namun hal yang diperdebatkan adalah lebaran karena kita memiliki tradisi merayakan lebaran dengan besar-besaran.

Beliau sempat menuturkan bahwa dipersilahkan bagi yang ingin melaksanakan sholat yang menurutnya sudah satu syawal namun jangan membuat ribut bila terdapat selisih sehari antara kedua ormas besar ini. Namun bila ingin melaksanakan secara kebersamaan, jika kalangan A sudah memasuki 1 syawal namun kalangan B belum, maka kalangan A bisa melaksanakan salat idul fitri berjamaah secara serempak di tanggal 2 Syawal bagi kalangan A dan 1 Syawal bagi kalangan B mengingat terdapat perbedaan sehari. Namun hal ini tidak dipaksakan karena agama islam adalah agama yang sangat toleran dengan berbagai perbedaan.

Untuk penentuan 1 Syawal 1442 H, lebaran kali ini dimungkinkan tidak memiliki perbedaan karena menurut hisab, ijtima’ akhir bulan ramadhan terjadi pada tanggal 12 Mei 2021 yang mana menurut rukyah juga tidak dapat diamati pada tanggal 29 Ramadhan 1442 H yakni 11 Mei 2021 karena masih di bawah ufuk. Sehingga bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari dan kita akan berlebaran pada tanggal 13 Mei 2021.
Youla Afifah Azkarrula, Mahasiswa Ilmu Falak UIN Walisongo dan Santri Life Skill Daarun Najaah.Jatengdaily.com–st