MUKISI dan RSI Sultan Agung, Rumah Sakit Syariah Pertama

Oleh Ahmad Rofiq

MAJELIS Usaha Kesehatan Islam Seluruh Indonesia (MUKISI) Sabtu, 21/8/2021 lalu menggelar Muktamar ke-5 dan Webinar Nasional dengan tema “Mempertahankan Mutu Pelayanan Kesehatan Islam di Era Pandemi”. Hadir sebagai pembicara kunci, Wakil Presiden RI, Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, Ketua Umum Mukisi, dr. Masyhudi Am, M.Kes, dan pembicara Dr. dr. Endy Muh Astiwara, MA., dan Dr. dr. Sagiran, Sp.B(K), KL, M.Kes, dan moderator Dr. dr. Wahyu Sulistiadi, MARS.

Dr. Masyhudi, ketua umum masa khidmat 2016-2021 terpilih lagi sebagai ketua umum untuk masa khidmat 2021-2026 bersama Dr. Burhanuddin Hamid Darmadji, MARS sebagai sekretaris umum. Terpilihnya dr. Masyhudi sejak awal sudah diprediksi, karena selain kinerja kepemimpinannya yang berhasil, juga karakter low profile dan berhasil membangun jaringan, sehingga keberadaan MUKISI dan Rumah Sakit Syariah di Indonesia cukup pesat perkembangannya.

MUKISI lahir 1 Oktober 1994, sebagai organisasi yang menghimpun penyelenggara dan pelaksana sarana Kesehatan Islam bersifat independent dan professional. Anggota terdiri dari RS, Lembaga Pendidikan Kesehatan Islam, dan perorangan yang memiliki keahlian dan minat dalam pelayanan Islami. Hingga kini, telah terbentuk 18 MUKISI Daerah di seluruh Indonesia.

Dipimpin Dr. Sugiat, SKM. (1994-2001), Dr. H. Sumardi Katgopranoto (2001-2006), dr. H. Jusuf Saleh Bazed, Sp.U (2006-2011 dan 2011-2016) dan dr. H. Masyhudi AM, M.Kes. (2016-2021). Muktamar merupakan forum tertinggi, untuk 1). Laporan pertanggungjawaban pengurus. 2). Menjaring masukan program kerja, 3). Forum perubahan AD dan ART, 4). Forum silaturrahim antara pengurus dan konsolidasi; dan 5). Forum memilih pengurus yang memiliki kompetensi dan kesanggupan menjalankan program kerja dan mempertanggungjawabkannya.

Rumah Sakit Islam (RSI) sebagai sebuah nama, sudah lama digunakan, namun keberanian RSI – yang sudah menggunakan kata Islam — untuk mendeklarasikan diri sebagai rumah sakit Syariah, harus didukung oleh Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Ini dimaksudkan agar standar manajemen dan layanan, parameter, dan instrument assessment-nya juga jelas. DSN-MUI telah mengeluarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia No: l07/DSN-MUIIX/2016 tentang pedoman penyelenggaraan rumah sakit berdasarkan prinsip Syariah. Berarti baru lima tahun usia rumah sakit Syariah. Pada 12 Juni 2017 RSI-Sultan Agung ditetapkan sebagai pilot project RS Syariah pertama oleh DSN MUI. Pada 26 September 2017 RSI Sultan Agung ditetapkan sebagai RS Syariah pertama di Indonesia.

Selama kepemimpinan dr. Masyhudi dan dr. Burhanuddin 2016-2021 yang menjadi grand issue adalah “Bangkitkan Rumah Sakit Syariah di Nusantara”. Falsafahnya: bekerja sebagai ibadah, ihsan dalam pelayanan, dan berlomba dalam kebaikan (istibāq al-khairāt). Visinya: mewujudkan upaya Kesehatan islami, bermutu, professional dan berwawasan global. Misinya: menghimpun, mengoordinasi, mengembangkan, dan memberdayakan upaya Kesehatan, sehingga mampu:

1). Menyelenggarakan pelayanan Kesehatan yang islami, bermutu dan peduli kaum dhu’afa, orientasi kepuasan dan keselamatan pasien, kelangsungan hidup institusi dan kesejahteraan karyawan; 2). Menyelenggarakan Pendidikan dan pelatihan tenaga Kesehatan dengan model integrasi nilai-nilai Islam, pengembangan kurikulum sesuai standar internasional, dan diklat profesi berkelanjutan, dan pengembangan Bahasa Asing, utamanya Inggris dan Arab.

MUKISI telah menggelar Internasional Islamic Healthcare Conference and Expo (IHEX) I, 10-12/4/2018, IHEX ke-II 21-23/3/2019, IHEX ke-3 27-29/2/2020. MUKISI bersama DSN-MUI adalah kemitraan strtategis sebagai pelopor terbentuknya Rumah Sakit Syariah pertama di Indonesia. Piranti atau instrument assessment sudah siap, mulai dari: Standard dan Instrumen Sertifikasi Rumah Sakit Syariah, Pedoman Standar Pelayanan Minimal Syariah dan Indikator Mutu Wajib Syariah, Kode Etik Rumah Sakit Syariah Indonesia, dan Kode Etik Dokter Rumah Sakit Syariah Indonesia.

Dengan demikian dapat ditegaskan, bahwa untuk terwujudnya Rumah Sakit Syariah harus sudah memenuhi semua persyaratan sebagai rumah sakit yang belum Syariah. Untuk bisa terwujudnya Rumah Sakit Syariah, harus melewari beberapa tahapan: 1). Program pendampingan kepada rumah sakit – rumah sakit yang akan mengikuti Sertifikasi Rumah Sakit Syariah, Pra Survey, dan Survey bersama SDN-MUI.

Hingga Muktamar ke-5, sudah ada 67 rumah sakit yang telat dan sedang berproses sertifikasi Syariah. Resertifikasi RS Syariah 2, Survey Istiqamah Sertifikasi RS Syariah 5, Survey Sertifikasi RS Syariah 18, Pra Survey 10, Pendampingan 16, dan mendaftar pendampingan 16. Tentu diharapkan setelah Muktamar, para peserta akan berusaha mengajukan sebagai Rumah Sakit Syariah.

Kata para Ulama Bijak “Kesehatan adalah mahkota, yang tidak diketahuinya, kecuali oleh orang yang sakit”. Karena itu, selagi kita masih sehat, kita harus upayakan agar masyarakat kita terus sehat mengikuti panduan Kesehatan secara Syariah. Rumah Sakit Syariah dan Seluruh Insan Kedokteran dan Kesehatan Islami berkewajiban untuk berikhtiar, mengabdi kepada Allah, menolong dan menyelamatkan sesama, hidup sehat dan istiqamah, dan akhir hidup husnul khatimah.

Selamat dr. H. Masyhudi, AM, M.Kes, MUKISI, dan Rumah Sakit Islam Sultan Agung (RSI-SA) yang telah menjadi pelopor Rumah Sakit Syariah di Indonesia. Yakilah dengan kata hikmah “al-fadlu lil mubtadi wa in ahsanal muqtadi” artinya “keutamaan itu untuk perintis meskipun penerus/pengikut lebih baik”. In tanshuruLlah yanshur kum. Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Ketua DPS RSI- Sultan Agung Semarang, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat.Jatengdaily.com-st