Webseries Sitkom ‘Kakekane’, Gambaran Nilai Budaya Antar Daerah

Webseries sitkom 'Kakekane'. Foto: ist

YOGYAKARTA (Jatengdaily.com) – Sebuah kata yang sama bisa saja memiliki makna yang berbeda bagi tiap daerah di Tanah Air. Seperti pada kata kakekane, bagi masyarakat Jawa merupakan sebuah ungkapan kejengkelan, namun bagi masyarakat Betawi artinya kakek saya.

Perbedaan makna yang jauh berbeda tersebut dikemas Prima Founder Records dengan sangat menarik dan menghibur menjadi sebuah webseries situasi komedi (sitkom) berjudul Kakekane. Video teaser webseries sitkom Kakekane resmi dirilis pada Kamis, 9 September 2021 di kanal YouTube Prima Founder TV.

Salah seorang pendiri Prima Founder Records, AM. Kuncoro saat diwawancarai melalui akun Whatsapp-nya pada Kamis (9/9/2021) mengatakan, sitkom Kakekane merupakan gambaran perkembangan percampuran nilai-nilai budaya, baik antar daerah maupun antar generasi.

Bagi masyarakat Betawi, ane sering diartikan saya, sehingga arti kakekane adalah kakek saya. Namun bagi masyarakat Jawa terutama yang tinggal di pesisir utara, kakekane adalah sebuah umpatan kejengkelan, kemarahan, bahkan makian.

“Hal filosofis yang ingin diangkat melalui pemilihan judul Kakekane adalah untuk saling memahami perbedaan budaya antar daerah, antar generasi, antar ras, sehingga memunculkan rasa memiliki dan memunculkan kesadaran bahwa perbedaan tersebut adalah kekayaan bangsa Indonesia,” kata AM. Kuncoro.

Tim Prima Founder Records ingin menyajikannya sebagai sebuah komedi situasi yang cerdas dan memiliki pesan moral melalui sitkom KakekAne. Obrolan yang terjadi mengungkap bahasan yang relevan dengan kondisi dan situasi masyarakat Indonesia saat ini.

Seperti dijelaskan AM. Kuncoro, inspirasi sitkom Kakekane diangkat dari kisah kehidupan sehari-hari Yosep Krisna Winursito di masa kecil dengan mendiang kakeknya. Krisna menuangkan kisah tersebut ke dalam sinopsis dan skenario, kemudian dikembangkan tim kreatif Prima Founder Records menjadi webseries sitkom.

Ciri khas sitkom Kakekane salah satunya ada pada cara berkomunikasi antara Mbah Pethil dengan cucunya, Sukampleng. Komunikasi lintas generasi ini sarat akan nilai-nilai budaya Jawa tentang unggah ungguh (sopan santun), pawulang (pendidikan), disiplin, integritas, dan kerja keras, dikemas dalam bentuk obrolan yang lucu dan menarik.

Syuting sitkom Kakekane keseluruhannya dilakukan di Yogyakarta, lokasi utamanya di Dukuh Calukan – Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Yogyakarta. Alasan AM. Kuncoro memilih lokasi tersebut karena tempatnya masih sangat asri, dengan suasana pedesaan Jawa yang sangat kental, sangat sesuai dengan kebutuhan cerita dalam sitkom Kakekane.

Pemeran utama sitkom Kakekane dilakoni oleh Sugeng Iwak Bandeng, dan Rio Sukampleng. Ide cerita dari Yosep Krisna Winursito tersebut digarap Kukuh Riyadi, salah seorang sutradara ternama di Tanah Air, didukung oleh Aji Pramudito (DOP), Bayu Ari (Editor), Rajas (BTS), Don Wage bersama Hening SN menangani audionya.

“Lewat OST Kakekane saya menggambarkan betapa percampuran budaya saat ini sudah sangat cepat dan luas dalam batas-batas yang semakin tidak jelas, terutama di era digital saat ini,” kata AM. Kuncoro.

Sitkom Kakekane akan tayang perdana pada hari Minggu, 10 Oktober 2021 di channel Youtube Prima Founder TV, ditayangkan secara berseri, 2 kali dalam 1 bulan. Bagi yang ingin mendengarkan audionya sebagai podcast, Prima Founder Records juga akan merilis di semua digital international yang ada. Penulis: Muhammad Fadhli-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here