By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Santri Bukan Anak Mami
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Gagasan

Santri Bukan Anak Mami

Last updated: 19 Oktober 2022 05:16 05:16
Jatengdaily.com
Published: 19 Oktober 2022 05:16
Share
SHARE

Oleh: Nur Khoirin YD

Minggu-minggu pertama adalah waktu paling rawan bagi santri yang baru pertama kali mondok di pesantren. Anak saya (Ardha), meskipun sebelumnya sudah saya kondisikan dan saya persiapkan sedemikian rupa, tetapi juga mengalami syok mental. Terjadi berbagai perubahan drastis dari sebelumnya hidup dirumah yang serba dilayani ke lingkungan pondok yang harus melayani diri sendiri.

Berubah dari semula anak mami menjadi santri yang mandiri. Tetapi masa-masa kritis itu bisa dilalui dengan baik. Dia cepat adaptasi dengan lingkungan baru dan kelihatan menikmati. Sebaliknya saya yang cengeng, kangen dengan manjanya, tidak terdengar lagi suara gaduh bertengkar dengan adiknya, terasa sepi dan kehilangan, baru sebentar saja sudah kangen ingin menjenguknya.

Hampir setiap minggu saya menyempatkan diri untuk nengok ke pondok meskipun sebentar. Karena santri tidak boleh membawa hp, tidak bisa menghubungi dan belum tahu pasti jadwal kegiatannya, maka caranya adalah dengan ikut shalat jamaah di masjid bersama ribuan santri lainnya. Sehabis salam, saya langsung berdiri untuk menunaikan shalat sunnah, tetapi sebenarnya tujuannya adalah mencari anak saya.

Pandangan saya menyapu ke seluruh jamaah santriwari yang lagi khusyu’ berdoa. Mereka dari belakang nampak sama, karena mengenakan seragam yang sama. Tiba-tiba anak saya menoleh ke kanan dan tersenyum menatap saya. Mungkin ini yang disebut telepati sambung hati. Setelah shalat itu kemudian bisa ketemu melepas rindu. Anak saya itu malah bilang, “ayah kesini to?”. Sikapnya ternyata biasa saja, tidak menjadi surprase, seakan tidak begitu berharap dengan kehadiran saya.

Belajar dewasa dan mandiri
Saya kemudian diajak duduk disalah suatu gazebo dekat kamarnya. Kebetulan pas waktunya makan siang. Ardha kemudian sibuk mengambil piring dan sendok, bergegas mengambil jatah makan siang berebut dengan teman-temannya. “Ayah dan mama mau makan apa, minum apa, tak belikan ya?”. Di warung itu juga menyediakan makanan, jajanan, dan berbagai minuman yang diluar jatah dengan cara membeli.

Dia begitu cekatan menyediakan makan minum dan memberesi setelah selesai makan, sehingga saya merasa seperti tamu yang dilayani. Saya mengamati anak saya yang baru beberapa minggu di pondok itu sudah sangat berbeda dengan kebiasaannya ketika di rumah. Dia bukan anak mami lagi yang cengeng dan manja, semuanya harus dilayani, diambilkan, bahkan disuapi. Tetapi dia sekarang sudah kelihatan dewasa dan mandiri, bisa ngurus dirinya sendiri.

Sehabis jamaah Ashar, waktunya mandi sore. Tanpa dikomando dia dengan cekatan mengambil handuk dan ember tempat alat mandi, antri masuk kamar mandi. Dia keluar dari kamar mandi sudah rapi. Tidak lupa embernya dibawa kembali ke kamar, handuknya dia letakkan di jemurannya agar kering lagi. Sambil mandi dia juga mencuci pakaian dalamnya sendiri kemudian dijemur ditempatnya. Ini pemandangan yang tidak pernah saya lihat ketika masih di rumah. Jangankan mencuci pakaiannya sendiri, membawa alat-alat mandi dan menyimpannya sendiri, mandi harus diingatkan berkali-kali, apa-apa harus dilayani, baju salin juga harus dibantu dicari.

Inilah pelajaran penting, kemandirian, yang tidak bisa diperoleh dari mendengar atau membaca, kecuali harus mengalami sendiri dengan menjadi santri. Mondok mendidik anak untuk pandai membagi waktu, membiasakan anak memenuhi kebutuhannya sendiri, memenaj uangnya sendiri, merawat barang miliknya sendiri, belajar mengurus diri sendiri, bergaul dan beriteraksi dengan teman-temannya yang berbeda karakter dan latar belakang, melatih tenggang rasa dan memupuk kedewasaan diri.

Hal demikian tidak mungkin didapatkan dari cerita atau membaca, kecuali harus merasakan sendiri. Seandaikanya mondok itu tidak ada ngaji dan sekolah, hanya makan dan tidur saja, maka sudah mendapat banyak pelajaran hidup dan kemandirian. Apalagi ada pengajian ilmu, pembinaan akhlaq dan ibadah, tentu menfaatnya lebih berlipat dari pada sekolah yang dilaju dari rumah.

Kasih sayang dan rasa memiliki
Sesudah mandi kemudian ganti baju seragam rapi, dia berlari menghampiri saya yang menunggu di gazebo dekat kamarnya. “Yah, Ardha ada jadwal ngaji sore. Ayah disini atau pulang?”. Saya kemudian pamit pulang, karena ngajinya sampai sore. Dia terdiam sejenak, tetapi dengan senyum ringan mengangguk mengiyakan.

Tetapi di matanya nampak butiran bening air matanya keluar. Seperti ada perasaan terpendam yang tidak bisa dinyatakan. Mungkin masih ingin ditunggui terus, tetapi kok mempersilahkan saya pulang. Seperti tidak ingin diketahui lebih dalam, segera dia salim dan berlari bergabung dengan teman-temannya menuju majlis ngaji. “Da da.. ayah”.

Dia sudah berbaur lebur dengan teman-teman sekelasnya. Dada saya justru berkecamuk antara haru melihat anak saya yang sudah mulai berubah mandiri, dengan perasaan merasa bersalah, memaksa anak mondok dan berpisah. Mungkin ini hanya perasaan cengeng saja dan luapan perasaan sayang orang tua yang mendalam.

Saya merasakan sendiri, bahwa berpisah dengan anak yang mondok untuk sementara waktu ternyata lebih indah dari pada ketemu terus menerus. Kasih sayang orang tua justru semakin dalam. Kata pepatah, biarpun jauh dimata justru dekat dihati. Jika dekat dan tiap hari ketemu, maka yang nampak adalah kekurangan, pertengkaran dan kejenuhan.

Tetapi jika hanya sesekali bertemu, yang dirasakan adalah rindu, pertemuan yang ditunggu, dan rasa memiliki semakin menggebu. Jika setiap hari ketemu, meminta sangu, untuk ini dan itu, mungkin ada perasaan, “kok duit terus”. Hal ini berbeda jika hanya ketemu sewaktu-waktu, perasaan yang muncul adalah “mumpung ketemu”, kamu butuh apa, mau beli apa?. Apa saja dibawa ketika bertemu.

Hubungan hati orang tua dengan anak yang berpisah nyantri ternyata juga lebih kuat. Pernah suatu ketika saya tidak bisa menjenguk ke pondok. Ada perasaan resah dan kangen yang menumpuk. Saya akhirnya telpon salah satu pengasuhnya dan ingin berbicara dengan anak saya. Bisa ngobrol, tanya sangunya masih, lagi kegiatan apa?. Anak saya itu menjawab dengan datar dan biasa, “Yah, kemaren tiga hari tidak masuk sekolah, Ardha sakit yah. Tetapi sekarang sudah enak. Tadi pagi sudah bisa sekolah”.

Mendengar cerita anak tiga hari sakit, saya kaget. Sakit apa, sudah periksa, kok nggak telpon nduk?. Perasaan saya melayang kacau, membayangkan, ketika masih di rumah sakit sedikit saja rewel, harus dielus-elus, dipijetin, disuapin, obat diminumin. Ini sakit tiga hari kok tidak ngabari. Saya yang justru menangis haru. Anakku sudah berubah sekarang, sudah mandiri dan tidak mau merepotkan orang lain.

Tidak ada sedetikpun hati orang tua lupa anaknya yang di pondok. Makan enak menjadi tidak enak karena ingat anaknya apakah sudah makan. Mau tidur ingat anaknya sedang apa dan bagaimana. Ketika sedang sakit semakin kuat mengingat anaknya, apakah tetap sehat, dan momen apapun anaknya selalu dibenak. Si anak juga demikian, selalu ingin ketemu bapak ibunya.

Apalagi dia selalu diajarkan untuk selalu mendoakan setiap selesai sholat dan setiap saat. Meskipun kangennya orang tua terhadap anak pasti lebih besar dari pada kangennya anak kepada orang tua. Memiliki anak mondok ternyata lebih asyik. Doa-doa tulus harus dipanjatkan, semoga anakku adalah investasiku, yang kelak bisa membanggakan dan membahagiakan.

DR. H. Nur Khoirin YD., MAg, Ketua BP4 Propinsi Jawa Tengah/Dosen Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo/Advokat/Mediator/Arbiter Syari’ah. Tinggal di Jl. Tugulapangan H.40 Tambakaji Ngaliyan Kota Semarang. Jatengdaily.com-st

You Might Also Like

HPP Gabah Kering Panen dan Beras Oplosan
Putus Sekolah di Masa Pandemi
Kota Tegal Deflasi 0,44 Persen
Kasus Baru Gangguan Ginjal Akut Menurun
Era Baru Teknologi Ramah Lingkungan, Solusi atau Sekadar Gimik?
TAGGED:Belajar dewasa dan mandiriHari Santri Nasional 2022HeadlineJatengdaily.comKasih sayang dan rasa memilikiSantri Bukan Anak Mami
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?