in ,

Kota Semarang dalam Bingkai Statistik: Selamat Hari Jadi ke-477

Oleh: Lilis Anisah, SST, MSi
Fungsional Statistisi BPS Kota Semarang

SETIAP tahun, tepatnya tanggal 2 Mei, Kota Semarang memperingati hari jadinya. Tahun ini Kota Semarang memasuki usia yang ke-477. Peringatan Hari Jadi Kota Semarang ke-477 sekaligus menjadi pengingat bahwa pemerintah telah melayani warga Kota Semarang selama 477 tahun.

Dengan pemahaman bahwa pemerintah sejatinya bertugas sebagai pelayan masyarakat, sudah selayaknya Pemerintah Kota Semarang mencermati berbagai capaian dan tantangan berkaitan dengan pelayanan masyarakat. Dengan demikian, peringatan hari jadi dapat menjadi momentum untuk melakukan perenungan yang mendalam, tidak hanya seremonia semata.

Perenungan dan pencermatan akan menjadi bermakna bila didasari oleh ketersediaan data yang akurat. Bagaimana data statistik menjadi refleksi terhadap capaian sekaligus tantangan Kota Semarang, akan terurai dalam deretan fakta data berikut.

Sebagai ibukota provinsi, Kota Semarang merupakan penopang utama perekonomian Jawa Tengah. Dengan kontribusi sekitar 14 persen dari PDRB Jawa Tengah, Kota Semarang menempati peringkat pertama disusul Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Kudus (7-8 %) dalam menopang ekonomi Jawa Tengah.

Data statistik menunjukkan bahwa gejolak pandemi covid-19 memberikan pengaruh besar terhadap perekonomian Kota Semarang. Pandemi tahun 2020 telah melemahkan daya beli masyarakat yang berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Kota Semarang. Ekonomi Kota Semarang yang sebelumnya tumbuh pada kisaran 5-6 persen, pada tahun 2020 tumbuh negatif 1,85 persen.

Penurunan pertumbuhan ekonomi tahun 2020 tersebut dipengaruhi oleh penurunan seluruh komponen konsumsi dan sebagian besar lapangan usaha. Dengan kontribusi berkisar sebesar 40 an persen dari total ekonomi Kota Semarang, daya beli atau tingkat konsumsi rumah tangga merupakan kontributor dominan terhadap pembentukan PDRB Kota Semarang dari sisi pengeluaran. Namun demikian, penurunan konsumsi rumahtangga tersebut lebih landai daripada komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang turun negatif 8,51 persen pada tahun 2020.

Penerapan tatanan normal baru pasca pandemi berdampak positif terhadap pemulihan ekonomi Kota Semarang. Tercatat pertumbuhan ekonomi Kota Semarang terus meningkat dalam tiga tahun terakhir, yaitu 5,16 persen (2021), 5,73 persen (2022) dan 5,79 persen (2023). Hal menarik lainnya, data BPS menunjukkan bahwa baik sebelum, di masa pandemi maupun sesudahnya, pertumbuhan ekonomi Kota Semarang selalu melampaui Jawa Tengah.

Kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa aktivitas ekonomi Kota Semarang tumbuh lebih tinggi daripada Jawa Tengah. Makna lainnya, bahwa pandemi Covid-19 memberi dampak lebih besar terhadap ekonomi Jawa Tengah daripada Kota Semarang.

Ketenagakerjaan
Pada 27 Februari 2024, BPS Kota Semarang merilis keadaan ketenagakerjaan kondisi Agustus 2023. Dalam rilisnya, BPS menyatakan bahwa jumlah angkatan kerja di Kota Semarang sebanyak 929 ribu orang pada Agustus 2023, turun 146 ribu orang dibanding Agustus 2022. Sejalan dengan penurunan jumlah angkatan kerja, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) juga mengalami penurunan. TPAK Kota Semarang bulan Agustus 2023 sebesar 69,42 persen, turun 1,54 persen poin dibandingkan Agustus 2022. Penurunan TPAK memberi arti menurunnya potensi ekonomi dari sisi pasokan (supply) tenaga kerja.

Tingkat pengangguran terbuka turun dari 7,60 persen pada Agustus 2022 menjadi 5,99 persen pada bulan Agustus 2023. Peningkatan laju pertumbuhan ekonomi sepertinya sejalan dengan peningkatan aktivitas roda perekonomian Kota Semarang sehingga memberi dampak positif terhadap penurunan pengangguran terbuka di Kota Semarang.

Pada 26 Oktober 2023, BPS Kota Semarang merilis kemiskinan Kota Semarang tahun 2023. Jumlah penduduk miskin di Kota Semarang tahun 2023 sebanyak 80,53 ribu orang, atau bertambah 0,66 ribu orang jika dibandingkan dengan tahun 2022. Garis kemiskinan Kota Semarang tahun 2023 tercatat sebesar Rp 642.456/kapita/bulan, meningkat dibanding tahun 2022 yang sebesar Rp 589.598/kapita/bulan.

Secara umum, selama satu dekade terakhir, persentase tingkat kemiskinan di Kota Semarang mengalami penurunan. Sedangkan jumlah penduduk miskin secara nominal pada periode 2013-2023 berfluktuasi, mengalami penurunan pada periode 2013-2019, kemudian meningkat di tahun 2020-2021, berkurang jumlahnya pada tahun 2022, lalu kembali meningkat pada tahun 2023.

Perkembangan pariwisata BPS Kota Semarang dapat ditunjukkan antara lain melalui indikator Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Hotel Bintang di Kota Semarang. TPK menggambarkan berapa persen kamar yang tersedia pada akomodasi tertentu terisi oleh tamu yang menginap dalam suatu waktu tertentu.

Angka ini menunjukkan minat pengunjung terhadap kelas akomodasi tertentu. TPK juga memperlihatkan apakah di suatu daerah masih kurang keberadaan akomodasi atau tidak untuk memenuhi kebutuhan wisatawan (https://sirusa.bps.go.id/sirusa/index.php/indikator/60).

Data statistik TPK menunjukkan kestabilan sejak September 2021 hingga Februari 2024, setelah dihantam badai covid-19 yang berdampak pada penurunan TPK sejak Maret 2020 hingga Agustus 2021. Kondisi ini memberikan sinyalemen positif menggeliatnya aktivitas pariwisata Kota Semarang.

Data statistik TPK juga menunjukkan bahwa Hotel Bintang 4 seringkali menjadi hotel dengan capaian TPK tertinggi di Kota Semarang sedangkan Hotel Bintang 1 seringkali menjadi hotel dengan capaian TPK terendah. Kondisi ini bermakna bahwa diantara semua jenis akomodasi dengan klasifikasi hotel berbintang di Kota Semarang, Hotel Bintang 4 merupakan jenis akomodasi yang paling diminati. Sebaliknya, akomodasi hotel bintang 1 merupakan jenis akomodasi berbintang yang paling tidak diminati oleh konsumen penyediaan jasa akomodasi hotel berbintang di Kota Semarang.

Mencermati berbagai data statistik tersebut, semoga dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah agar bersinergi bersama pelaku usaha dan masyarakat untuk meningkatkan perekonomian Kota Semarang. Penggunaan data yang akurat menjadi penting sebagai kompasnya. Pernyataan tentang pentingnya penggunaan data yang akurat dalam berbagai bidang telah sering disampaikan oleh banyak pihak. Presiden Joko Widodo (Jokowi) seringkali menyampaikan tentang berartinya data dalam perencanaan dan evaluasi pembangunan.

Data valid adalah kunci utama kesuksesan pembangunan sebuah negara. Data akurat sangat diperlukan untuk membuat keputusan tepat, demikian serangkaian kalimat Jokowi terkait pentingnya data, dalam acara pencanangan sensus penduduk 2020, Jumat (24/1/2020). “Data adalah new oil yang harganya tak terhingga,” kata Jokowi dalam Puncak Peringatan Hari Pers Nasional 2023 yang disiarkan melalui Youtube Sekretariat Presiden, Kamis (9/2/2023).

Hari jadi adalah momen untuk merayakan keberhasilan, menjadi pengingat akan makna perjalanan di masa lalu, evaluasi di masa kini dan strategi untuk menghadapi tantangan masa depan. Selamat ulang tahun, Kota Semarang! Mari bergerak bersama menuju Semarang hebat, Indonesia emas, berbasis data. Jatengdaily.com-yds

Written by Jatengdaily.com

Dua Kali Gempa Guncang Kabupaten Bandung, Ini Dampaknya

Halalbihalal Pimpinan Parpol se-Jateng Penuh Canda