By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Dari Tulungagung ke Panggung MAJT: Khaira Ummah, Hafizhah Cilik yang Menaklukkan MHQ
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
Tausiyah

Dari Tulungagung ke Panggung MAJT: Khaira Ummah, Hafizhah Cilik yang Menaklukkan MHQ

Last updated: 9 Maret 2026 05:33 05:33
Sunarto
Published: 9 Maret 2026 05:33
Share
Khaira Ummah., juara 1 MHQ kategori putri, menerima trofi dari Ketua Baznas Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi di ruang shalat utama MAJT, Sabtu 7 Maret 2026. Foto:dok
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Sore itu suasana di kompleks Masjid Agung Jawa Tengah terasa berbeda. Di ruang tempat berlangsungnya Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ), para peserta duduk menunggu dengan wajah tegang, sementara penonton memenuhi kursi-kursi yang tersedia. Di antara para finalis yang bersiap tampil, berdiri seorang gadis kecil dengan raut tenang—Khaira Ummah.

Contents
Buah dari murojaah yang tekunHadiah dari kesungguhanMimpi seorang hafizhah kecil

Usianya baru 11 tahun. Namun ketika namanya dipanggil maju ke depan, langkahnya mantap. Ia mengambil posisi, menarik napas pelan, lalu mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Suara yang keluar dari bibirnya jernih dan terjaga. Makharijul hurufnya jelas, tajwidnya rapi, dan alunan iramanya mengalir tenang memenuhi ruangan. Para juri menyimak dengan seksama, sementara penonton tampak larut dalam lantunan ayat yang ia baca.

Ketika Khaira menutup bacaannya, ruangan seketika bergemuruh oleh tepuk tangan. Dari lima finalis putri yang tampil pada babak akhir Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ) 10 Juz Pesantren Tahfidz Alqur’an MAJT–Baznas Jawa Tengah, hanya penampilan Khaira yang langsung disambut tepuk tangan paling meriah.

Tak banyak yang menyangka bahwa gadis kecil itu adalah peserta termuda kedua dalam kompetisi tersebut.

Namun ketenangan dan penguasaannya di atas panggung seolah menepis keraguan itu.

Buah dari murojaah yang tekun

Dalam kompetisi yang mempertemukan sepuluh finalis—lima putra dan lima putri—Khaira berhasil mencatatkan nilai tertinggi di kategori putri, yakni 97,68. Hasil itu mengantarkannya menjadi juara pertama.

Pengumuman pemenang dilakukan pada acara Kurma yang digelar Sabtu sore. Ketika namanya disebut sebagai juara pertama, tepuk tangan kembali menggema di ruangan.

Bagi Khaira, kemenangan itu bukan tujuan utama.

Gadis yang lahir di Tulungagung, 6 Agustus 2014 ini justru menganggap lomba sebagai sarana untuk menjaga hafalannya.

“Selain untuk murojaah, juga untuk tholabul ilmi. Bisa bertemu teman-teman serta ustaz dan ustazah Ahlul Qur’an,” tuturnya dengan suara lembut.

Saat ini Khaira masih duduk di bangku sekolah dasar di SDIT Hidayatul Mubtadi’ien. Ia berasal dari Dusun Balekambang, Desa Balesono, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Persiapannya menghadapi lomba dilakukan dengan disiplin. Ia rutin mengulang hafalan Al-Qur’an setiap hari, berlatih sambung ayat bersama orang tua, menjaga kesehatan, serta memperbanyak doa agar diberi kelancaran saat tampil.

Kebiasaan sederhana itu yang akhirnya mengantarkannya ke panggung kemenangan.

Hadiah dari kesungguhan

Atas prestasinya, Khaira membawa pulang uang pembinaan sebesar Rp5 juta—terdiri dari Rp3 juta dari panitia dan tambahan Rp2 juta dari Badan Amil Zakat Nasional Jawa Tengah.

Dalam ajang tersebut, seluruh finalis juga mendapat tambahan uang saku Rp2 juta dari Baznas Jawa Tengah sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan mereka.

Namun bagi Khaira, yang paling berharga bukanlah hadiah.

Ia bersyukur bisa sampai ke babak akhir dan mendapatkan pengalaman berharga.

“Alhamdulillah, saya sangat berterima kasih kepada dewan juri dan panitia yang telah memberikan kesempatan untuk masuk grand final. Semoga Pesantren Tahfidz Alqur’an MAJT semakin berkah, maju, dan sukses,” katanya.

Mimpi seorang hafizhah kecil

Di balik senyum tenangnya, Khaira menyimpan cita-cita yang sederhana namun besar: menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan negara.

Ia juga memiliki motto hidup yang terus ia pegang: siapa pun yang bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan, Allah akan membuka jalan.

Sosok yang menginspirasinya adalah Ustadzah Nafisatul Millah—figur yang ia kagumi dalam perjalanan mencintai Al-Qur’an.

Sore itu, di ruang musabaqah yang dipenuhi lantunan ayat suci, Khaira membuktikan bahwa usia bukanlah batas bagi ketekunan. Dengan hafalan yang dijaga sepenuh hati, gadis kecil dari Tulungagung itu telah menunjukkan bahwa cinta kepada Al-Qur’an bisa tumbuh kuat bahkan sejak usia yang sangat muda. St

You Might Also Like

Belajar Dakwah dari Piala Dunia Qatar
Karakteristik Andil Ekonomi Generasi Milenial dan Z
Hasad Sumber Penyakit Hati
Puasa, Pemicu Energi Positif
Etika Berbicara dalam Islam
TAGGED:Dari Tulungagung ke Panggung MAJTHafizhah CilikKhaira UmmahMenaklukkan Musabaqa
Share This Article
Facebook Email Print
© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?