Oleh: Laeli Sugiyono
Statistisi Madya pada BPS
Provinsi Jawa Tengah
SAHAM merupakan salah satu portofolio investasi yang banyak dipilih oleh para investor. Sebagai instrumen investasi, saham menjanjikan tingkat pengembalian yang tinggi sekaligus memiliki risiko yang tinggi pula. Sebab itulah saham tergolong dalam investasi high risk high return.
‘Bermain’ saham membutuhkan ketelitian dan kejelian dalam menganalisis pergerakan pasar. Salah menganalisis bisa jadi salah dalam mengambil keputusan sehingga berisiko mengalami kerugian bahkan kehilangan uang yang diinvestasikan dalam bentuk saham.
Setiap pergerakan saham harus senantiasa dipantau, karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Salah satunya adalah inflasi. Tingkat inflasi yang merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dapat mengurangi daya beli setiap unit mata uang.
Dampak Inflasi
Inflasi yang tinggi memiliki efek yang berbahaya bagi stabilitas ekonomi, termasuk juga mengancam keuangan perusahaan. Meningkatnya inflasi dapat menyebabkan harga input atau bahan baku yang tinggi, pendapatan dan laba menurun, daya beli konsumen rendah, dan perekonomian melambat.
Bagi perusahaan, kenaikan inflasi bisa jadi baik atau bahkan buruk. Inflasi yang tidak terlalu tinggi akan dapat merangsang pertumbuhan pekerjaan. Perusahaan dapat menyesuaikan biaya produksi dan menaikkan harga barang dan jasa, sehingga tidak terlalu berimbas pada perolehan pendapatan dan potensi laba perusahaan.
Namun jika inflasi yang terjadi terlalu tinggi, perusahaan harus merasa khawatir. Sebab inflasi yang terlalu tinggi berbahaya bagi keuangan perusahaan. Biaya produksi tentu akan melonjak drastis, sehingga perusahaan harus melakukan penyesuaian harga barang dan jasa.
Sementara, inflasi yang tinggi tentu juga menggerus daya beli konsumen menjadi rendah. Nilai uang menurun, akibatnya uang yang dimiliki konsumen hanya mampu untuk membeli barang dan jasa dalam jumlah yang lebih sedikit. Daya beli konsumen yang rendah akan berpengaruh pada pendapatan dan laba perusahaan yang menurun.
Pengaruh Terhadap Saham
Aktivitas ekonomi yang terus terjadi akan menimbulkan inflasi, di mana harga umum barang dan jasa mengalami kenaikan. Tak selalu berakibat buruk, karena inflasi diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi tentu dengan catatan jika kenaikannya tidak terlalu tinggi. Tingkat inflasi yang umumnya ditargetkan adalah antara 2% hingga 3% per tahun. Kenaikan inflasi yang lebih dari itu, bisa jadi membahayakan perekonomian.
Perekonomian berjalan tergantung pada mekanisme pasar. Namun bukan berarti tidak ada kebijakan yang diterapkan untuk menjaga agar ekonomi tetap stabil. Ketika ancaman inflasi meningkat, bank sentral selaku pemegang otoritas tertinggi dalam mengambil kebijakan moneter akan mencoba mengendalikannya dengan menaikkan suku bunga.
Kenaikan suku bunga diharapkan dapat menjadi stimulus bagi para investor sehingga terdorong untuk menanamkan uang tunainya dalam instrumen pendapatan tetap, sehingga menyedot kelebihan likuiditas dari sistem. Teorinya, jika likuiditas rendah atau sedikit, maka akan ada permintaan spekulatif untuk barang-barang ekonomi, sehingga mampu memperlambat kenaikan harga umum.
Prospek suku bunga yang tinggi bagi pasar saham dapat mendorong investor mengalihkan pilihan mereka dari ekuitas ke sekuritas yang lebih menarik dan rendah risiko. Aliran dana ke pasar uang yang semakin rendah, akan berdampak pada semakin rendahnya permintaan saham. Hal ini mengakibatkan harga saham menurun.
Jika inflasi terus meningkat, maka pengembalian minimum atas investasi saham juga akan meningkat dan mendorong valuasi pasar lebih rendah. Pada kondisi ini, harga saham akan jatuh sampai pada titik yang cukup untuk mengimbangi inflasi yang diharapkan.
Pada tingkat inflasi normal, saham dapat mengalahkan inflasi dengan sendirinya. Bagaimana bisa? Ketika terjadi inflasi pada tingkat normal, perusahaan dapat menaikkan harga barang atau jasa guna menyesuaikan biaya produksi yang meningkat akibat inflasi.
Pengembalian Pasar Saham
Investasi saham membutuhkan ilmu ekonomi yang cukup dan kemampuan yang baik untuk menganalisis perubahan pasar. Untuk memperoleh kejelasan terkait dengan pergerakan saham dari waktu ke waktu. Sebagai investor layaknya mampu memeriksa data historis tentang pengembalian pasar saham selama periode inflasi tinggi dan juga rendah.
Meski tidak bisa dijadikan sebagai bahan dasar yang akurat untuk mengambil keputusan, karena dipengaruhi faktor geografi dan periode waktu, setidaknya data historis tersebut bisa memberi gambaran mengenai kondisi pasar di masa lalu dan membandingkannya dengan masa kini.
Inflasi bisa saja berpengaruh positif dan juga negatif terhadap saham. Banyak faktor yang mempengaruhi, di antaranya adalah kemampuan investor melakukan lindung nilai aset dan kebijakan moneter pemerintah. Tingkat inflasi yang tinggi memiliki korelasi yang kuat dengan volatilitas pergerakan saham.
Pengembalian saham riil adalah pengembalian aktual dikurangi dengan inflasi. Pergerakan saham di negara-negara berkembang memiliki volatilitas lebih besar dibandingkan dengan pasar saham di negara maju. Sebagian besar negara di dunia menderita pengembalian riil yang buruk selama periode inflasi tinggi.
Pertumbuhan dan Nilai Saham
Saham dapat dibedakan menjadi dua subkategori, yaitu pertumbuhan dan nilai. Nilai saham memiliki arus kas kuat yang akan melambat seiring dengan berjalannya waktu. Sementara pertumbuhan saham hanya memiliki sedikit arus kas bahkan tidak ada sama sekali, tetapi dapat diperkirakan meningkat secara bertahap seiring berjalannya waktu.
Inflasi yang meningkat mengakibatkan daya beli menurun. Artinya setiap nilai uang hanya dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa dalam jumlah lebih sedikit. Hal ini penting diperhatikan investor, karena bagi investor yang tertarik pada saham dengan pendapatan tetap atau saham dengan dividen, inflasi yang tinggi memberikan pengaruh yang kurang menarik.
Dalam hal pembayaran dividen, saham pun dipengaruhi oleh inflasi. Ketika inflasi mengalami kenaikan, harga saham pendapatan biasanya akan menurun. Hal ini berarti pula bahwa memiliki saham dengan dividen akan mengalami penurunan harga saham ketika inflasi meningkat. Pada kondisi ini, investor bisa memanfaatkan situasi dengan membeli saham dengan harga murah.
‘Bermain’ saham memang tidaklah mudah. Banyak faktor yang akan mempengaruhi kinerja portofolio sehingga harus senantiasa diantisipasi di setiap pengambilan keputusan. Sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi kinerja saham, inflasi harus mampu dikendalikan oleh para investor saham.
Artinya, investor harus mampu melindungi nilai saham terhadap inflasi, seiring dengan kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan dan laba pada tingkat yang sama dengan inflasi. Jatengdaily.com-yds


