SEMARANG (Jatengdaily.com) – Karya-karya sastra yang ditulis para pengarang peranakan Tionghoa pada periode sebelum zaman Balai Pustaka terpinggirkan, bahkan terabaikan. Karya-karya ini tidak masuk dalam sejarah sastra Indonesia sehingga ada mata rantai yang hilang atau putus.
Padahal, meskipun secara kualitas dianggap kurang, namun secara sosiologis karya-karya sastra peranakan ini mampu mengungkapkan segi-segi budaya Tionghoa yang unik.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Gunoto Saparie pada acara Bianglala Sastra di Semarang TV, Ngesrep, Minggu malam (2/2). Acara dengan presenter Heru Mugiarso itu mengetengahkan tema Imlek dalam Sastra Indonesia. Pada kesempatan itu Gunoto membacakan tiga puisi yang mengungkapkan beberapa segi tentang Imlek.
Menurut Gunoto, ada beberapa peneliti sastra, seperti Leo Suryadinata, Nio Joe Lan, dan Pramoedya Ananta Toer, yang mengeluhkan hal itu sejak lama. Namun, sampai hari ini belum ada pengakuan atas karya-karya para sastrawan peranakan Tionghoa dalam perkembangan kesusastraan Indonesia. Padahal, kesusastraan ini yang sering diejek ditulis dalam bahasa Melayu Rendah itu sudah ada sejak 1870.
Namun selama ini yang kita kenal sebagai halaman pertama sastra Indonesia adalah Siti Nurbaya yang terbit pada awal masa Balai Pustaka. Claudine Salmon menunjukkan peran besar karya-karya sastra peranakan Tionghoa sebagai benih kesusastraan modern Indonesia.
“Banyak pengarang peranakan Tionghoa yang ikut serta menyumbangkan buah karyanya bagi perkembangan sastra di Indonesia. Mereka muncul puluhan tahun sebelum penerbitan karya-karya para pengarang Balai Pustaka yang menampilkan tema pertentangan adat dan kawin paksa itu,”ujarnya seraya menambahkan, para sarjana dan peneliti sastra seharusnya tertantang untuk meluruskan sejarah sastra Indonesia modern.
Menyinggung mengenai tema Imlek dalam sastra Indonesia sekarang, Gunoto menunjukkan sejumlah puisi karya Hanna Fransisca, Ahmad Gaus, Tan Lioe Ie, dan Norman Adi Satria. Sedangkan dalam prosa kita mengenal nama-nama seperti Lan Fang, Marga T, Clara Ng, Sunlie Thomas Alexander, dan Tere Liye.
Namun ada hal yang menarik, karena ada sejumlah pengarang yang bukan peranakan Tionghoa seperti Remy Sylado, Handry TM, Triyanto Triwikromo, dan Seno Gumira Ajidarma yang dengan bagus serta intens menggarap tema kultur etnis Tionghoa dalam karya-karya mereka. Ugl-st
0



