Santri sebagai Agen Perubahan Sosial

Oleh Drs H Farhani SH MM

Kepala Kanwil Kemenag Jateng

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Dalam proses perjalanan sejarah panjang bangsa Indonesia keberadaan dan eksistensi peran santri tidak bisa dilupakan apalagi dihapus dalam torehan tinta emas lembaran sejarah itu sendiri. Sudah banyak santri mengorbankan jiwa raga dan harta bendanya untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini dari penjajahan belanda dan Jepang.

Pasca kemerdekaan RI peran serta santri semakin dibutuhkan, gagasan dan ide mereka serta kontribusi dalam pengembangan mencerdaskan generasi bangsa juga semakin dibutuhkan. Meskipun tidak bisa dipungkiri beberapa kurun waktu yang lalu keberadaan santri masih ditempatkan sebagai peran pelengkap dan peran second line dalam pergumulan sosial masyarakat kita.

Santri sebagai representasi kelompok kampungan, sebagai kelompok yang tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, sebagai kelompok yang mahir hanya soal-soal agama menjadi tantangan tersendiri yang harus dirubah oleh santri itu sendiri. Tuntutan zaman dan perkembangan arus teknologi yang sebegitu pesat ditambah kondisi kegalauan masyarakat akan dampak negative arus globalisasi ini menjadikan keberadaan santri dirindukan dengan sejuta harapan mampu memberikan solusi atas persoalan sosial tersebut.

Bulan ini tepatnya tanggal 22 oktober akan dilaksanakan perayaan hari santri, perayaaan ini semakin bisa meneguhkan serta menjadikan reposioning ulang peran dan tanggung jawab santri dalam  kehidupan sosial di negera tercinta kita Indonesia. Kurikulum pesantren yang pada awal keberadaanya hanya mengajarkan pada literasi kitab-kitab salaf sekarang sudah harus bergeser dan harus mampu memberikan jawaban atas persoalan-persoalan sosial itu, inilah start awal perubahan itu.

Sudah banyak pondok pesantren di tanah air yang semakin modern tidak hanya sarana prasarananya tetapi juga kurikulumnya bahkan kurikulum yang dikembangkan sudah bersifat tematik empiric, ini semua dilakukan agar para santri pada saat mereka harus terjun lagsung ke masyarakat mereka sudah memiliki bekal kemampuan sebagai agen perubahan sosial  dan skill kerja yang mumpuni, sehingga santri tidak hanya pandai dalam hal ilmu agama namun juga piwai dalam persoalan interpreneurship mulai dari pertanian dan perdagangan juga pengelolaan konflik sosial.

Sebagaimana tema yang diusung pada perayaan hari santri tahun ini “ Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia,”pergumulan sosial yang berujung pada konflik komunal, intoleransi, kesenjangan ekonomi dan ketidak adilan menjadi sejumlah persoalan yang harus diambil alih oleh para santri dalam penyelesaiannya.

Santri harus mampu memberikan solusi atas semua persoalan sosial, santri juga harus mampu membuat rencana dan narasi sosial agar mampu berjalan secara baik dan kondusif. Santri tidak boleh terjebak pada dinamika politik yang berpotensi pada perpecahan dan disintegrasi. Keberadaan santri harus menjadi perekat dari semua elemen dengan latar belakang perbedaan suku, ras dan Bahasa.

Tempaan dengan segala keterbatasan saat berada di pondok pesantren menjadi modal bagi para santri untuk bisa terus berkhidmah untuk umat dan untuk Bangsa Indonesia, keihklasan berdarma semata mengharap ridlo Alloh juga menjadi watak dasar bagi setiap santri dalam setiap langkah dan pengabdiannya untuk umat, tidak berfikir apa yang akan di dapat tetapi senanti berfikir apa yang bisa diberikan untuk sesame sekali lagi menjadi modal bagi para santri bisa melakukan perubahan sosial itu.

Ini memang bukan persoalan mudah namun perjalanan waktu yang panjang santri sudah teruji dan mampu terus memberikan kontribusi yang sangat besar dalam membentuk sosial masyarakat di Indonesia bahkan dalam kancah internasional. Selamat hari santri untuk para santri dibelahan seluruh nusantara, teruslah maju dengan merapatkan barisan untuk memberikan yang terbaik bagi nusa dan bangsa Indonesia tercinta. *st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here