DKJT Sayangkan Penghapusan Direktorat Kesenian

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) menyayangkan kebijakan perubahan nomenklatur di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menghapus Direktorat Kesenian, Direktorat Sejarah, dan Direktorat Pelestarian Cagar Budaya.

Penghapusan tiga direktorat itu justru berbanding terbalik dengan semangat Undang-undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menganut empat prinsip, yakni pelestarian, pengembangan, pemanfaatan, serta pembinaan sektor kebudayaan.

Ketua Umum DKJT Gunoto Saparie mengatakan, banyak teman seniman, terutama dari dewan kesenian kabupaten/kota di Jateng, mempertanyakan perubahan nomenklatur di Kemendikbud yang terutama membuat Direktorat Kesenian hilang itu. Mereka merasa kebijakan itu makin meminggirkan kesenian dan membuat hati para seniman terluka.

Direktorat Kebudayaan pada era pimpinan Mendikbud Nadiem Makarim mengalami perubahan. Struktur dan nomenklatur yang ada di lingkungan Ditjen Kebudayaan menjadi lima direktorat, yaitu Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru, Direktorat Pelindungan Kebudayaan, Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan.

Perubahan struktur dan nomenklatur ini juga tertuang di dalam Permendikbud Nomor 45 Tahun 2019 Tentang Tata Kerja Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Padahal sebelumnya di Ditjen Kebudayaan membawahi Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permusiuman, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Kesenian, Direktorat Sejarah, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya.

Gunoto berpendapat, jalan pikiran Mendikbud terasa aneh ketika membentuk Direktorat Film, Musik, dan Media Baru. Padahal sebelumnya  Direktorat Kesenian membawahi sub-sub yang membidangi teater, musik, tari, film dan seni rupa. Ini berarti, Direktorat Kesenian justru tersisihkan oleh bagian dari sub-subnya itu. Ada kesan menganakemaskan film dan musik yang menjadi direktorat baru, sedangkan teater, tari, dan rupa seakan dianaktirikan.

“Apa yang terjadi sesungguhnya dengan kebudayaan hari-hari ini? Ke manakah arahnya?” katanya.

Harus diakui, lanjut Gunoto, Direktorat Kesenian selama ini menjadi rumah besar bagi para seniman.  Ditjen Kebudayaan sendiri sering diharapkan oleh para seniman dan budayawan berubah menjadi Kementerian Kebudayaan. Harapan yang akhirnya pupus sudah, tinggal impian belaka.

“Reformasi birokrasi di Kemendikbud seharusnya tetap memperhatikan pentingnya kesenian. Jangan sampai istilah ‘sakratul maut’ bagi kesenian menjadi kenyataan di republik ini,” tandasnya. ugl–st

1 KOMENTAR

  1. Masih belum terlambat untuk menghidupkan kembali Direktorat Kesenian. Semoga pemerintah terketuk hatinya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here