New Normal dalam Bayang Tingkat Kedisiplinan

Oleh : Tri Karjono
Statistisi Ahli Madya
BPS Provinsi Jawa Tengah
WACANA new normal semakin santer terdengar dan semakin dekat dengan realisasi. Beberapa pembatasan aktivitas masyarakat dengan berbagai istilah yang selama ini diberlakukan selama grafik pandemi Covid-19 belum mengalami penurunan sedikit demi sedikit akan mulai dilonggarkan. Pemerintah telah menyiapkan skenario tahapan kehidupan new normal.
Kepentingan untuk menggerakkan roda perekonomian menjadi alasan utama untuk melakukan rencana pengurangan pembatasan sosial ini. Rencana ini muncul menyikapi hasil rilis pertumbuhan ekonomi yang disampaikan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal pertama mengalami perlambatan yang cukup signifikan. Semula Kementerian Keuangan memperkirakan walau dengan adanya pandemi corona, ekonomi kuartal-I masih akan mampu tumbuh antara 4,5 sampai 4,7 persen. Sementara Bank Indonesia lebih spesifik dan lebih optimis akan mampu tumbuh sebesar 4,7 persen.
Tetapi pada kenyataannya perkiraan tersebut meleset sangat jauh di mana hanya tumbuh sebesar 2,97 persen, hampir separoh dari rata-rata pertumbuhan selama tahun 2019 yaitu 5,02 persen. Bahkan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah lebih rendah dibanding nasional yang hanya tumbuh 2,60 persen. Padahal rata-rata tahun sebelumnya mencapai 5,41 persen.
Hasil rilis pertumbuhan ekonomi kuartal-I memunculkan kekhawatiran akan semakin terpuruknya perekonomian pada kuartal-II, karena dengan baru munculnya kasus Covid-19 di Indonesia pada pertengahan bulan ketiga awal tahun saja, sudah sangat memberi tekanan yang begitu dalam terhadap perekonomian selama tiga bulan pertama, apalagi jika pembatasan sosial masyarakat berlangsung selama tiga bulan penuh pada triwulan ke-dua.
Sejatinya pemerintah masih gamang untuk memberlakukan pelonggaran ini. Ekonomi harus tumbuh tetapi bagaimanapun kesehatan masyarakat harus mendapat perhatian khusus. Tanpa masyarakat yang sehat dan terjamin kesehatannya maka mustahil mampu untuk melakukan suatu hal dengan optimal.
Protokol Kesehatan
Oleh karenanya kehidupan new normal yang kemungkinan akan segera diberlakukan secara bertahap mulai wilayah-wilayah tertentu harus tetap memperhatikan protokol kesehatan, yang diharapkan sudah menjadi bagian keseharian masyarakat, setelah beberapa waktu ini biasa dilakukannya. Jangan sampai ketika kehidupan baru ini berjalan yang ada justru membuat kasus Covid-19 mengalami peningkatan.
Namun apakah pembatasan aktivitas dan penerapan protokol kesehatan selama beberapa bulan terakhir sudah cukup mampu menjadikan sebuah kebiasaan bagi masyarakat, sehingga kehidupan baru nantinya yakin akan mampu menggerakkan perekonomian kembali sekaligus kesehatan masyarakat terjamin?
Protokol kesehatan dan pembatasan aktivitas yang masih berlaku hingga saat ini seharusnya dipatuhi oleh seluruh masyarakat. Jika ini dilakukan dan dipahami serentak dan bersama oleh seluruh masyarakat tanpa mengutamakan ego dan kepentingan pribadinya, kita yakin tidak lama wabah ini akan segera berakhir dan situasi new normal akan efektif berjalan.
Tetapi pada kenyataannya, walaupun dari sisi tujuan sangat baik namun himbauan dan anjuran untuk melakukan physical distancing, beraktivitas dari rumah, cuci tangan menggunakan sabun, memakai masker dan yang lainnya selama ini disikapi beragam oleh kalangan masyarakat. Hasil survei sosial demografi dampak Covid-19 Badan Pusat Statistik (BPS), masih terdapat 5,4 persen penduduk Indonesia yang tidak pernah menjalankan himbauan untuk tetap tinggal di rumah dan 22,25 persen jarang menjalankan himbauan ini atau lebih sering mengabaikan.
Masih dari hasil survei tersebut, juga diperoleh gambaran masih banyaknya warga masyarakat yang abai dengan menjaga jarak ketika bertemu dengan orang lain sebanyak lebih dari 36 persen, tidak biasa mencuci tangan dengan sabun 29 persen, masih biasa berjabat tangan 29 persen dan tidak biasa menggunakan masker sekitar 27 persen. Padahal hanya 2,54 persen dari penduduk Indonesia yang tidak mengetahui atau mungkin sengaja tidak mau tahu dengan informasi akan kebijakan tersebut.
Artinya sebagian besar karena faktor kesengajaan dan kurang patuh terhadap himbauan yang ada. Belum lagi ketika new normal masih menjadi wacana, seakan masyarakat telah menganggap bahwa Covid-19 bukan lagi menjadi ancaman.
Memang kita ingin semuanya termasuk kondisi ekonomi negara ini dapat kembali seperti sediakala bahkan mampu tumbuh lebih tinggi lagi, dan yang lebih penting lagi adalah tumbuh secara inklusif. Namun tanpa kesadaran atau pemaksaan diri untuk mengikuti ketentuan dan aturan yang ada akan sulit untuk segera terealisasi.
Peran dan pengorbanan diri masing-masing sangat dibutuhkan tanpa harus melihat apakah orang lain telah berkorban dan seberapa pengorbanannya. Jika itupun belum bisa bagi sebagian masyarakat maka penerapan aturan yang tegas mungkin diperlukan. Kesadaran tidak jarang harus dimulai dengan pemaksaan yang menimbulkan keterpaksaan, keterpaksaan akan menjadikan sesuatu menjadi kebiasaan yang pada akhirnya menjadi sebuah kesadaran, akan lebih baik lagi jika telah menjadi sebuah kesadaran yang tanpa disadari. Jatengdaily.com/yds