Ngaji Bab Corona

Oleh: Anis Maftuhin
Pondok Pesantren Wali (Candirejo, Tuntang, Kab
Semarang)

ADA dua sikap yang muncul di masyarakat dalam menyikapi kasus virus Covid 19 (Corona). 1) Cemas dan takut berlebihan. Akibatnya, panik dan takut melakukan apapun. 2) Adapula yang terlalu santai, tidak percaya dan seperti meremehkan. Alhasil, ia pun ceroboh dalam bertindak dan bersikap dalam menghadapi situasi seperti ini.

Dua sikap ini sama sama menimbulkan kerugian dan mudharat (bahaya) yang lebih besar–seperti kematian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Maka dari itu, harus sama sama kita hindari.

Benar, bahwa yang bisa menjadikan sakit atau tidak itu adalah kehendak Allah. Namun, tidak serta merta kita boleh berseloroh (gojekan) dan berkomentar bahwa kita tidak boleh takut virus apapun, termasuk corona, karena yang boleh kita takuti hanya Allah swt.

Ya, secara aqidah ucapan tersebut benar adanya. Tetapi, agama kita juga mengajarkan bahkan mewajibkan kita untuk berikhtiar, baru bertawakkal kepada Allah. Itu urutan yang pas dalam menjalankan ajaran agama.

Lantas, langkah-langkah seperti apakah yang direkomendasikan agama untuk bekal kita menghadapi situasi dan kondisi ketika terjadi sebuah wabah?
Sunnah Rasulullah saw dengan jelas mengajarkan kita agar mengisolasi daerah yang terkena wabah itu. Beliau saw dengan tegas menyatakan:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلَا تَدْخُلُوهَا وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا مِنْهَا
“Apabila kalian mendengar wabah lepra di suatu negeri, maka janganlah kalian masuk ke dalamnya, namun jika ia menjangkiti suatu negeri, sementara kalian berada di dalamnya, maka janganlah kalian keluar dari negeri tersebut” (HR. al-Bukhari).

Dalam riwayat yang lain, Abu Hurairah menuturkan: Rasululah saw bersabda disebutkan: Beliau bersabda:
ِلَا تُورِدُوا الْمُمْرِضَ عَلَى الْمُصِحِّ
“Janganlah kalian mencampurkan antara yang sakit dengan yang sehat” (HR. al-Bukhari).

Bagaimanakah cara melaksanakan kedua hadis tersebut dalam kontek menghadapi penyebaran virus corona hari ini? Tak lain adalah sebagaimana yang direkomendasikan oleh para ahli medis, yaitu melakukan lockdown (memperketat keluar masuk orang ke dalam suatu area atau daerah), karantina atau isolasi (bagi yang sudah terkena virus), dan social distancing (menjaga jarak saat bertatap muka), serta menjaga kebersihan makanan, tempat, pakaian dan barang barang yang ada di sekitar kita.

Singkatnya, marilah kita tetap waspada dengan bersama sama menjalankan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah saw tadi, yaitu dengan melakukan upaya upaya mencegah penyebaran virus corona ke dalam rumah, desa, dan daerah kita.

Sebagai penutup, perlu saya sampaikan bahwa bila ikhtiar tersebut sudah kita lakukan dan di antara kita masih terkena virus, lalu meninggal misalnya, maka Rasulullah menyatakan bahwa orang yang meninggal karena wabah dan telah bersabar–yaitu telah mekakukan ikhtiar-ikhtiar yang diperlukan—maka dia akan mendapatkan pahala mati syahid. Lain halnya, bila kita meremehkan ikhtiar ikhitiar itu lalu mati, maka kematian itu adalah mati konyol.

Dalam sebuah riwayat dituturkan:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الطَّاعُونِ فَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ وَأَنَّ اللهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يُصِيبُهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ

“Dari ‘Aisyah radliallahu ‘anhu, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata; “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang masalah tha’un lalu beliau mengabarkan aku bahwa tha’un (penyakit sampar, pes, lepra) adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki dan sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslimin dan tidak ada seorangpun yang menderita tha’un lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala dan mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah menakdirkannya kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid” (HR. al-Bukhari). Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here