in

Pandemi Covid, Hilangnya Ilmu Agama

Oleh Ahmad Rofiq

TAHUN 2020 merupakan tahun yang sangat menyedihkan, memprihatinkan, dan sekaligus mengundang kesungguhan untuk melakukan muhasabah, introspeksi, dan pertaubatan kebangsaan bagi bangsa Indonesia. Sejak Maret 2020 bangsa ini dan bahkan hampir seluruh negara di dunia, dilanda pandemi Covid-19 yang memasuki 2021, makin mencekam, dan belum ada tanda-tanda berkurang apalagi menghilang.

Bersamaan dengan itu, bencana alam, banjir, tanah longsor, kecelakaan pesawat, puting beliung, menambah penderitaan saudara-saudara kita yang menjadi korban dan keluarga mereka. Per-15 Januari 2021, tidak kurang 297 ulama dan habaib wafat dipanggil oleh Allah Sang Pemilik Yang Maha Suci. Bulan Januari masih di minggu ke-3, sudah 14 ulama, habaib, dan pimpinan pesantren wafat. Itu artinya, pimpinan bangsa ini perlu memahami dan merenungi secara bijak dan saksama, bahwa Allah menyayangi dan boleh jadi sekaligus menegur bangsa ini.

Ujian dan cobaan terasa demikian berat, karena dengan wafatnya hampir 300-an ulama, hababib, dan pimpinan pesantren, dan dapat dipastikan akan mempengaruhi ritme dan budaya keberagamaan di negeri ini. Kematian seorang ulama laksana kematian seluruh dunia. “Mautu l-‘alim mautu l-‘alam”. Bagaimana jika dengan sekian banyak Ulama, orang-orang alim, pengamal agama, penghamba kepada Allah, dan bahkan sebagian besar mereka adalah orang-orang yang ‘arif biLlah (makrifat) kepada Allah. Rasulullah saw mengingatkan:

“Sesungguhnya Allah tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari pada hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para Ulama. Hingga Ketika tidak tersisa lagi seorang alim (ulama) pun, manusia pada umumnya mengikuti pemimpin yang bodoh. Mereka ditanya dan mereka berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan” (Riwayat Al-Bukhari). Lebih dari itu, apa yang disampaikan Rasulullah saw 14 abad yang lalu, fitnah bermunculan, manusia semakin bakhil (materi dan kebijakan), nyawa sudah tidak dihargai, dan pembunuhan semakin banyak.

“Saling berdekatan suatu masa, ilmu dihilangkan, fitnah (hoax, bully, dan caci maki) bermunculan, kebakhilan dilempar (ke dalam hati) dan pembunuhan semakin banyak” (Riwayat Muslim). Imam AL-Hafidh Jalaluddin As-Suyuthi membahas tentang keutamaan ilmu dan ulama di dalam kitab Lubabul Hadits bab pertama. Ada sepuluh hadits yang dikutip, tanpa rawi dan sanad, namun beliau menyebut shahih. Namun menurut Imam Nawawy al-Bantany yang menulis syarah ada beberapa hadits yang dikutip dhaif, namun tidak mengurangi keutamaan dan ketenaran.

Beberapa terjemahan hadits yang sangat penting dan relevan dikutip. Pertama, Nabi saw. bersabda kepada Ibnu Mas’ud r.a.: “Wahai Ibnu Mas’ud, dudukmu sesaat di dalam suatu majelis ilmu, tanpa memegang pena dan tanpa menulis satu huruf (pun) lebih baik bagimu dari pada memerdekakan seribu budak. Pandanganmu kepada wajah seorang yang berilmu lebih baik bagimu dari pada seribu kuda yang engkau sedekahkan di jalan Allah.

Dan ucapan salammu kepada orang yang berilmu lebih baik bagimu dari pada beribadah seribu tahun.” Kedua, Nabi saw. bersabda: “Satu orang yang faqih (pandai ilmu syariat/fiqih) dan wira’i (yang meninggalkan hal-hal yang diharamkan) lebih berat bagi setan dari pada seribu orang yang giat beribadah (namun) bodoh (meskipun) wira’i.” Ketiga, “Keutamaan orang yang berilmu dibanding dengan ahli ibadah, seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.

Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu” (HR.Abu Dawud (3641), At-Tirmidzi (2682)). Keempat, Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang berpindah (baik dengan berjalan kaki atau naik kendaraan) untuk mempelajari ilmu (syariat/agama) maka ia akan diampuni (dosa-dosa kecilnya yang telah lalu) sebelum ia akan melangkah”. Kelima, Nabi saw. bersabda: “Muliakanlah ulama’, karena sesungguhnya mereka menurut Allah adalah orang-orang yang mulia dan dimuliakan”.

Keenam, Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang memandang wajah orang yang berilmu dengan sekali pandangan, lalu ia bahagia dengan pandangan itu, maka Allah swt. telah menciptakan pandangan itu seorang malaikat yang akan memintakan ampun untuknya sampai hari Kiamat.” Ketujuh, Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang memuliakan seorang yang berilmu maka sungguh ia telah memuliakanku, barangsiapa yang memuliakanku, maka sungguh ia telah memuliakan Allah, dan barangsiapa yang memuliakan Allah, maka tempatnya adalah surga.” Orang alim (Ulama) adalah orang yang dikaruniai silsilah keilmuan dan menjadi “perantara sumber ilmu”.

Karena itu, bahkan tidurnya saja, dinilai memiliki keutamaan. Sebagaimana hadits kedelapan, Nabi saw. bersabda: “Tidurnya seorang yang berilmu lebih utama dari pada ibadahnya orang yang bodoh”. Kesembilan, Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang belajar satu bab dari ilmu baik ia amalkan atau ia tidak maka itu lebih utama dari pada ia melakukan shalat sunnah seribu rakaat.” Yang kesepuluh atau terakhir, Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang mengunjungi seorang yang berilmu maka seakan-akan ia mengunjungiku, siapa yang berjabat tangan dengan orang yang berilmu, maka seakan-akan ia berjabat tangan denganku, siapa yang duduk dengan orang yang berilmu, maka seakan-akan ia duduk denganku di dunia, dan siapa yang duduk denganku di dunia, maka aku akan menjadikan ia duduk bersamaku di hari Kiamat.

” Hadits yang terakhir tersebut yang akan terputus. Ilmu itu didatangi, laksana sumur. Barangsiapa yang membutuhkan air ilmu maka mereka datang kepada sumur itu, untuk mengambilnya. Karena itu, jika 297 Ulama yang menjadi “paku”-nya bumi Indonesia, maka saatnya kita bersiap menerima goncangan-goncangan dahsyat. Banyak kebijakan “oknum” pemimpin yang terasa kehilangan kearifan, nilai-nilai keadilan makin jauh dari harapan rakyat kecil, karena hanya berpihak pada mereka yang kelompok bangsawan, tekanan liberalisme dan hedonisme, dan tata kelola negeri yang terasa makin jauh dari rambu-rambu konstitusi yang mashlahat bagi rakyat, meskipun dikemas dengan “aturan”.

Mengakhiri renungan ini, kita perlu merenungkan secara mendalam warning Allah ‘Azza wa Jalla: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf (7): 96). Para ulama yang tersisa, harus dimuliakan, agar mereka dapat menghadirkan keberkahan dari Allah, dan bangsa ini dengan berbagai keterbatasan mereka, dapat menjalani sisa hidup dan syukur mendapatkan kebahagiaan. Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA. Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarajat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, dan Ketua DPS Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung (SA) Semarang. Jatengdaily.com–st

Written by Jatengdaily.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

Indonesia Ekspor Gurita ke Meksiko Senilai Rp 1,1 Miliar

Kejati Sulbar Bergerak hingga Malam Salurkan Bantuan Kemanusiaan