Senyum Petani Melon di Tengah Pandemi

Oleh: Moh Fatichuddin
ASN BPS Provinsi Bengkulu

PEMERINTAH Daerah Kabupaten Tegal dalam portal website http://setda.tegalkab.go.id/ menuliskan keberhasilan seorang petani milenia bernama Fakhrur Al Izza (27) dalam berbudidaya buah melon golden alisha. Dituliskan bahwa Fakhrur telah berhasil mencapai omzet penjualan melon sampai Rp 21 juta sekali panen, dengan luas areal usaha 250 meter persegi. Suatu pencapaian yang menggiurkan di tengah rentannya kegiatan ekonomi akibat pengaruh pandemi COVID-19. Betulkah budidaya melon menjanjikan?

Melon adalah buah berbentuk bulat yang berasal dari jenis Cucumis melo. Ciri khasnya tampak pada warna kulitnya yang hijau kekuningan dan daging buahnya yang hijau terang. Selain varian ini, ada pula melon jingga yang dikenal sebagai cantaloupe. Kandungan gizi melon termasuk yang paling beragam bila dibandingkan dengan buah-buahan sejenisnya.

Buah berdaging lembut ini juga tinggi kandungan air. Bahkan, hampir 90% dari daging buah melon adalah air. Dengan tingginya kandungan gizi melon sangatlah wajar jika buah melon banyak digemari dan disuguhkan dalam berbagai acara oleh masyarakat.

Minat masyarakat dengan buah melon sangat mungkin meningkat di saat pandemi COVID-19 sekarang ini. Saat masyarakat dipaksa oleh COVID-19 untuk lebih lama di dalam rumah dan dituntut untuk mempertahankan kondisi imunitas agar mampu menghadapi virus. Kondisi ini membutuhkan cadangan pangan yang mencukupi baik dari sisi jumlah maupun kandungan gizi. Buah melon sangat berpeluang menjadi pilihan masyarakat.

Produksi buah melon nasional selama kurun waktu lima tahun terakhir (2016-2020) pada umumnya meningkat. Peningkatan tertinggi terjadi di Tahun 2018 mencapai peningkatan sebesar 28,42 persen, setelah pada tahun 2017 mengalami penurunan sangat tajam yaitu minus 21,23 persen. Tingginya kenaikan di 2018 sangat mungkin akibat dari penurunan di 2017.

Sedang untuk tahun 2020 sendiri produksi buah melon mencapai angka 138,18 ribu ton, angka ini sangatlah kecil jika dibandingkan produksi buah melon negera cina, hanya sekitar 0,86 persen. Meski di regional asia tenggara produksi melon Indonesaia masih yang terbesar. Sebuah kondisi yang mungkin bisa menjadi semangat untuk menumbuhkan peluang peningkatan produksi melon.

Sentra produksi buah melon nasional berada di Jawa Timur, Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Lebih dari 80 persen produksi buah melon nasional ini disumbang oleh ketiga provinsi tersebut. Jawa Timur pada tahun 2020 memiliki peran tertinggi yaitu 41,85 persen, diikuti Jawa Tengah 22,84 persen dan DI Yogyakarta sebesar 16,09 persen. Selama kurun waktu 2016-2020 posisi tiga besar pemegang peranan tersebut tidak bergesar.

Tingginya peranan ketiga provinsi dalam penyediaan melon lokal, menjadi catatan tersendiri, karena yang terjadi di ketiga wilayah itu akan berdampak signifikan terhadap produksi melon secara nasional. Perhatian pemerintah daerah terutama di ketiga provinsi tersebut terhadap sub sektor hortikultura sebagai induk usaha buah melon sangat diperlukan.

Jika dilihat dari struktur ekonomi nasional, hortikultura memberi peran 1,62 persen pada tahun 2020. Peranan ini relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi tahun 2016 yang memberi peranan sebesar 1,51 persen. Indikator lain yang mungkin bisa mengarahkan pada kondisi budidaya melon adalah nilai tukar petani hortikultura (NTP).

Pada bulan Juli 2021, angka NTP hortikultura 101,45 persen naik 2,47 persen jika dibandingkan bulan Juni sebesar 98,98 persen. Artinya indek kenaikan harga yang diterima oleh petani hortikultura lebih tinggi dibanding indek kenaikan harga yang dibayarkan petani. Kenaikan angka NTP ini mungkin bisa menjadi pemicu optimisme dari para petani hortikultura, khususnya melon.

Strategi
Senyum petani melon tidak serta merta terjadi tanpa adanya proses usaha, seperti disebutkan di awal bahwa seorang petani dengan luas yang relatif kecil mampu mencapai omzet penjualan yang sangat fantastis. Dan hal ini tidaklah menjadi mustahil dapat dinikmati oleh petani-petani lainnya.

Beberapa hal yang mungkin perlu diperhatikan dalam pencapaian tersebut adalah pertama lingkungan lahan. Tanaman hortikultura biasanya ditanam di lahan yang relatif tinggi sekitar 250-800 meter di atas permukaan laut. Namun penelitian yang dilakukan Budi Setiadi Daryono dkk, 2016 menyebutkan bahwa wilayah Pesisir Pantai Bocor di selatan Kabupaten Kebumen dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai area menanam melon yang menjadi komoditas unggulan daerah.

Pengembangan melon tersebut melalui implementasi Education for sustainable development (ESD. Artinya dengan strategi tertentu budidaya melon dapat dilakukan di area dengan ketinggian di bawah 250 meter, bahkan pesisir pantaipun bisa.

Kedua benih, sebuah media bisnis petanian SwaDaya menuliskan benih melon masih tergolong mahal sehingga banyak petani yang mempertimbangkan untuk mengembangkan budidaya. Tak dipungkiri untuk menghasilkan produksi buah melon yang optimal dibutuhkan benih yang berkualitas.

Namun demikian jika benih tersebut mahal harganya maka sangat mungkin petani akan realistis untuk memilih budidaya tanaman lain yang lebih murah benihnya, atau tetap budidaya melon tapi dengan jenis yang rendah kualitas dengan harga benih lebih murah. Hal ini sangat mungkin mengingat fenomena menyebutkan bahwa sebagian besar kemiskinan terjadi di petani. Tingginya harga benih melon seyogyanya dapat teratasi oleh intervensi dari pemerintah.

Budidaya melon dapat dikatakan budidaya ‘high cost”, benih yang relatif mahal, obat-obatan yang relatif bervariasi dibutuhkan, pemeliharaan lain yang perlu ekstra dari pertanian. Tanaman melon merupakan tanaman yang dalam perkembangannya rentan terserang penyakit.

Penyakit tersebut dapat mengurangi produktivitas buah melon. Banyaknya gejala penyakit menjadi permasalahan tersendiri bagi petani, Dwi Prasetyo, dkk, 2018. Karena itu budidaya melon memerlukan modal yang besar, dan harus disiapkan di awal proses budidaya. Permasalah permodalan ini sangat mungkin teratasi jika kelembagaan yang menggeluti budidaya melon sudah tertata rapih. Adanya koperasi seyogyanya dapat menjadi alternative solusi dari permodalan, jangan sampai petani terjebak oleh jerat-jerat tengkulak.

Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah pasar, setelah petani melon didorong untuk menghasilkan produksi yang tinggi namun di sisi pasar tidak diperhatikan akan menjadi boomerang bagi petani. Harga rendah dari hasil panen buah melon pasti akan dihadapi oleh petani, sehingga petani terjebak bak “buah simalakama” dijual tidak dapat untung bahkan merugi.

Sedang kalau tidak dijual akan membusuk si buah melon, dan berakibat sama yaitu merugi. Disinilah perlunya pembinaan terhadap petani, agar tidak hanya berhasil dalam peningkatan produksi tapi juga berhasil memasarkan produk panennya.

Akhirnya senyum seorang petani melon di era COVID-19 ini bukanlah harapan kosong tapi harapan yangs sangat mungkin dapat digapai. Fakhrur Al Izza di Kabupaten Tegal menjadi pemicu Fakhrur Al Izza- Fakhrur Al Izza lain di seluruh negeri untuk tersenyum pula. Perhatian pemerintah, kepedulian dari lembaga-lembaga yang berkecimpung dan kokohnya semangat petani akan menjadi penentunya. Sinergi dengan hati untuk senyum petani. Jatengdaily.com-yds