Haul dan Haflah Ke-10 Ponpes Life Skill Daarun Najaah, Santri dan Pengasuh Gelar Ziarah Walisongo dan Masyayikh Al Falah Ploso Mojo Kediri

3 Min Read
Para santri Ponpes Life Skill Daarun Najaah berfoto bersama usai ziarah ke makam Ploso, Kedri. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Memperingari Haul dan Haflah ke-10 Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah, santriwan dan santriwati bersama pengasuh Dr H Ahmad Izzudin, MAg melakukan ziarah walisongo dan makam Masyayikh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri.

Tidak hanya itu, jajaran dosen UIN Walisongo, guru MI Walisongo, dan Dzurriyah Ploso pun turut dalam ziaran tersebut, seperti Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Drs Saekhu, MH, Dosen Ilmu Falak Ahmad Munif MSI, beberapa alumni M Shofa Mughtanim, MHI, Laily Irfani, SHI, Gus Munir, dan lain-lain.

Selama dua hari ziarah Walisongo pada Sabtu-Minggu, rombongan Life Skill Daarun Najaah mengawali rute ke makam Sunan Kalijaga, kemudian dilanjutkan ke Jawa Timur di makam Sunan Giri, dan Masyayikh Al Falah Ploso. Kemudian hari kedua berziarah ke makam Gus Miek dan Gus Dur.

Wakil Dekan III FEBI UIN Walisongo, Drs Saekhu MH yang berkesempatan ikut dalam ziarah memperingati Haul dan Haflah Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah mengatakan, ziarah Walisongo memberikan pelajaran berharga khususnya pada para santri untuk mengetahui nilai-nilai keislaman yang diterapkan oleh Walisongo.

“Kita melihat sejarah para waliyullah ketika menyebarkan Islam bagaimana dia menerapkan tentang nilai-nilai Islam yang diterapkan pada masyarakat, sehingga waliyullah Islamnya sangat kultural melihat situasi sosiologi sekitar masyarakat,” katanya.

Saekhu berharap dengan adanya kegiatan ziarah Walisongo, santriwan dan santriwati mampu dilakukan secara rutin sebagai bentuk adab dan tawadu’ seorang santri kepada guru mencari keberkahan ilmu yang didapatkan.

“Sangat menarik mengikuti ziarah ini, harapannya pada para santri bisa memahami kebersamaan dalam berziarah ini menjadi awal ketika santri nanti melakukan pergerakan-pergerakan sosial yang sifatnya ke masyarakatan, imbunya.

Sama halnya yang dirasakan santri Life Skill Daarun Najaah yang juga seorang dosen Ilmu Falak UIN Raden Mas Said Surakarta, Muhammad Himmatur Riza, MH menjelaskan makna ziarah ke makam masyayikh dalam kitab Nashoihul Ibadh karya Syekh Ahmad Nawawi Al Bantani.

Pada kitab tersebut menyebutkan terdapat empat tujuan melakukan ziarah yakni, untuk mengingat mati dan akhirat, mendoakan orang yang ada di dalam kubur, tabaruk mendapat keberkahan dari para masyayikh, serta memenuhi hak kubur yang diziarahi seperti ziarah ke makam orang tua.

Selain itu, Riza juga menerangkan ziarah Walisongo dan Masyayikh Al Falah Ploso dapat memberikan ketenangan batin kepada para santriwan dan santriwati Life Skill Daarun Najaah setekah mendapatkan beberapara siraman rohani daripada dawuh para Masyayikh Al Falah Ploso.

“Dengan adanya ziarah walisongo dan masyayih Al Falah Ploso kemarin tentunya kami para santri merasa ada ketenangan di dalam bantin kami, karena ada keteduhan wajah-wajah masyayikh ploso mendapatkan siraman rohani dawuh-dawuh beliau yang bisa menyejukkan hati menentramkan hati dan tentunya kita semua para santri didoakan oleh masyayikh-masyayikh tersebut,” terangnya. st

0
Share This Article
Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.