
SEMARANG (Jatengdaily.com) – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dosen dan Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Universitas Semarang (USM) melakukan sharing knowladge kepada warga Desa Banyubiru, Kabupaten Semarang dan implementasi pipa resapan horisontal (PRH) di Kantor Kelurahan Banyubiru, baru-baru ini.
Tim PkM USM terdiri atas Ketua lr. Lindawati, S.T., M.T, anggota Fitria Maya Lestari, S.T., M.T., Ir. Etika Herdiarti, S.T., M.T., Yonikha Rivani, S.T., M.T., dan Dr. Ir. Edy Susilo, M.T sebagai pemilik paten PRH. Mereka dibantu dua mahasiswa prodi teknik sipil, Sabda Adzin Firmansyah dan Nur Rezky Z. A.
Dalam pelaksanaannya, tim USM melakukan kolaborasi dengan Kepala Desa Banyubiru, Sri Anggoro sebagai mitra pengabdian masyarakat.
Lindawati mengatakan, pemahaman masyarakat mengenai kelestarian air tanah merupakan fondasi utama dalam upaya mitigasi bencana dan menjaga keseimbangan ekosistem.
Air tanah adalah sumber daya vital yang menjamin ketersediaan air bersih saat musim kemarau dan berfungsi sebagai penyeimbang hidrologi.
”Sayangnya, pemahaman ini sering kali terbatas, membuat masyarakat cenderung abai terhadap praktik-praktik konservasi. Untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan ini, tim pengabdian masyarakat hadir di Desa Banyubiru membawa solusi berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Dia mengatakan, tujuan kegiatan tersebut untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang siklus hidrologi dan peran strategis konservasi air. Manfaat utama kegiatan ini adalah memberdayakan masyarakat agar memiliki kemampuan teknis untuk mengelola lingkungannya sendiri.
Melalui knowledge sharing ini, masyarakat diharapkan mampu menjadi agen perubahan dalam menjaga kualitas dan kuantitas air tanah.
”Kegiatan ini juga secara langsung mendukung program pemerintah daerah dalam mewujudkan ketahanan air mandiri. Edukasi yang diberikan mencakup identifikasi masalah hingga implementasi solusi praktis yang terjangkau. Partisipasi aktif masyarakat dalam PkM menjadi kunci keberhasilan jangka panjang program konservasi. Pemahaman yang kuat akan mengubah perilaku dari pengguna menjadi penjaga sumber daya air,” tuturnya.
Dia menambahkan, salah satu inovasi yang diperkenalkan dalam kegiatan PkM itu adalah teknologi Pipa Resapan Horisontal (PRH). PRH adalah sistem resapan air hujan yang dirancang untuk memperluas area peresapan secara horizontal di bawah permukaan tanah. Berbeda dengan sumur resapan, PRH bekerja efektif pada lapisan tanah yang dangkal, yang seringkali padat dan kurang permeabel.
Di Dusun Demakan, katanya, PRH sangat relevan karena kondisi tanahnya yang rentan genangan. Pemasangan PRH bertujuan untuk mengalirkan air permukaan secara cepat ke dalam tanah, mencegah air tergenang di pekarangan dan jalan.
Air yang meresap ini kemudian mengisi ulang akuifer dangkal, meningkatkan muka air tanah di lingkungan sekitar. Urutan pemasangan PRH dimulai dengan penggalian parit dengan kedalaman dan kemiringan tertentu sesuai kondisi lahan.
Setelah parit siap, pipa PVC berlubang (perforated pipe) diletakkan di dasar parit untuk memaksimalkan kontak air dengan tanah. Pipa ini kemudian dilapisi dengan ijuk atau geotekstil untuk mencegah sedimen menyumbat lubang.
”Selanjutnya, parit diisi dengan kerikil atau material berpori sebagai media penyaring dan peresapan tambahan. Terakhir, parit ditutup kembali dengan tanah, hanya menyisakan saluran masuk air di permukaan. Proses ini memastikan PRH dapat berfungsi sebagai jalan pintas yang efisien bagi air hujan menuju cadangan air tanah,” katanya.
Menurutnya, Pipa Resapan Horisontal (PRH) menawarkan keunggulan signifikan dibandingkan solusi konservasi air tanah konvensional seperti Sumur Resapan dan Biopori.
Secara daya resap, PRH mampu meresapkan air dalam volume besar melalui luas permukaan kontak yang jauh lebih besar secara horizontal. Sumur Resapan memiliki keterbatasan karena hanya berfokus pada satu titik vertikal, sehingga seringkali membutuhkan lahan yang lebih luas untuk dampak yang sama.
”Biopori, meskipun efektif, umumnya memiliki kapasitas resapan yang terbatas dan rentan tersumbat oleh sampah organik jika tidak dirawat. PRH unggul dalam adaptabilitas karena dapat dipasang di lahan sempit, di bawah jalur pedestrian, atau sepanjang batas pekarangan tanpa mengganggu fungsi permukaan tanah,” jelasanya.
Dalam hal pemeliharaan, PRH lebih mudah perawatannya karena desainnya meminimalkan risiko penyumbatan di bagian dalam.
Dari sisi biaya konstruksi, PRH dapat menjadi opsi yang lebih hemat biaya dibandingkan pembangunan Sumur Resapan beton bertulang yang membutuhkan galian dalam. Kecepatan pemasangan PRH juga relatif lebih cepat, memungkinkan implementasi skala besar dalam waktu singkat di Dusun Demakan.
”Dengan demikian, PRH menjadi solusi inovatif yang mengatasi keterbatasan lahan dan kondisi tanah yang ada di daerah padat. Adopsi teknologi PRH ini memperkuat upaya mitigasi banjir sekaligus menjamin keberlanjutan sumber daya air di Banyubiru,” tambahnya.
Dari sudut pandang akademisi, kegiatan PkM pemasangan Pipa Resapan Horisontal ini diharapkan menjadi model keberhasilan intervensi teknologi sederhana.
”Kami berharap data monitoring pasca-implementasi PRH di Dusun Demakan dapat menjadi studi kasus empiris yang berharga. Hasil penelitian ini dapat memperkaya khazanah ilmu rekayasa hidrologi, khususnya dalam konservasi air berbasis komunitas. Kami berharap teknologi PRH ini dapat direplikasi secara luas di wilayah lain di Kabupaten Semarang yang menghadapi masalah serupa,” ungkapnya.
Dia mengatakan, keberhasilan inisiatif ini juga diharapkan mampu memicu kolaborasi riset lanjutan antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. Selain itu, kegiatan tersebut merupakan perwujudan nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yang fokus pada pemberdayaan masyarakat.
”Kami percaya bahwa edukasi dan inovasi adalah kunci utama untuk mewujudkan desa yang tangguh bencana dan mandiri air. Harapan terbesar kami adalah Banyubiru menjadi pionir dalam praktik konservasi air tanah di Jawa Tengah,” tandasnya. St
0



