Oleh: Moh Fatichuddin
ASN BPS Provinsi Bengkulu
JUMAT 5 November 2021, alhamdulillah dapat menikmati segarnya udara pegunungan dan hangatnya air yang keluar dari perut Gunung Slamet di objek wisata Guci. Sebuah pencapaian yang sangat disyukuri, mengingat Guci merupakan objek wisata di Kabupaten Tegal yang sudah dikenal luas, tidak hanya oleh penduduk lokal namun orang jauh.
Terkenalnya objek wisata ini terlihat pada saat hari libur terutama hari raya pemandangan kemacetan jalan menuju Guci sudah terlihat mulai dari jalan utama Tegal-Purwokerto. Kendaraan yang terjebak macet saat itu kebanyakan ber “plat” nomor kendaraan luar Kabupaten Tegal ataupun sekitarnya. Dari gambaran tersebut, dapatkah menjadi indikasi peran Guci dalam pergerakan ekonomi masyarakat Kabupaten Tegal, khususnya Kecamatan Bumijawa dan Bojong pada khususnya.
Guci secara administratif berada di wilayah dua desa yakni Desa Guci Kecamatan Bumijawa dan Desa Rembul Kecamatan Bojong Kabupaten Tegal Provinsi Jawa Tengah. Objek wisata ini memiliki luas 210 Ha, terletak di kaki Gunung Slamet bagian utara dengan ketinggian kurang lebih 1.050 meter. Dari Kota Slawi berjarak sekitar 30 km, sedangkan dari Kota Tegal berjarak tempuh sekitar 40 km ke arah selatan.
Dari arah Semarang, pengunjung dapat menggunakan bus jurusan Semarang – Tegal. Setelah sampai di Terminal Tegal, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkutan umum (minibus) menuju Desa Tuwel, Bojong, Tegal yang memakan waktu sekitar 30 hingga 45 menit. Dari Tuwel, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan bak terbuka menuju Guci. Dengan kendaraan tersebut, perjalanan sekitar 30 menit.
Peran Wisata
Kabupaten Tegal secara geografis sangat berpotensi untuk kegiatan wisata. Di sisi selatan memiliki daerah berbatasan langsung dengan Gunung Slamet. Daerah yang kaya akan potensi wisata agro dan sumber alam. Bertebaran destinasi-destinasi yang mengandalkan alam sebagai modal besarnya, kemudian didukung oleh pertanian hortikultura yang sangat sesuai untuk dinikmati “keindahan” proses bisnisnya dan produk sayur serta buahnya sebagai oleh-oleh. Destinasi-destinasi wisata di sekitar kaki Gunung Slamet tersebut berpusat di Objek Wisata Guci.
Selanjutnya di sisi utara wilayah Kab. Tegal, memiliki destinasi wisata yang tidak kalah menariknya yakni berupa wisata bahari.Destinasi wisata bahari memanjang dari sisi barat setelah Pantai Alam Indah (PAI) nya Kota Tegal, hingga berbatasan dengan sisi pantainya Kab. Pemalang. Destinasi wisata bahari Kab. Tegal terpusatkan pada Pantai Purwahamba Indah (PURIN). Di hari lubur destinasi wisata bahari tidak kalah ramainya dengan destinasi wisata Guci. Indikasi-indikasi tersebut menunjukkan bagaimana peran wisata dalam perekonomian Kab. Tegal, meski masih di bawah sektor dominan lainnya.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kab. Tegal menunjukkan dominasi perekonomian Kab. Tegal dipegang oleh sektor industri pengolahan dengan peran hingga 35,26 persen pada 2020, disusul sektor perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 14,93 persen.
Selanjutnya diikuti sektor pertanian 13,24 persen dengan tanaman pangan memberi peran terbesarnya yakni 12,11 persen. Untuk sektor-sektor yang terkait dengan wisata dapat dikatakan relatif berperan dalam perekonomian Kab Tegal di tahun 2020. Penyediaan akomodasi dan makan minum memberi peran 4,24 persen, Informasi dan komunikasi 3,41 persen, jasa keuangan dan asuransi 2,32 persen serta transportasi dan pergudangan sebesar 2,03 persen.
Kalau wisata dikaitkan dengan sektor yang dominan di Kab. Tegal yakni sektor industri, sektor perdagangan dan sektor pertanian, maka dapat dikatakan kegiatan wisata sangat mungkin menjadi motornya. Di sektor industri, peran terbesar dipegang oleh industri makanan dan minuman hingga 22,89 persen. Industri makanan dan minuman yang berperan sangat mungkin adalah industry mikro kecil yang bergerang di tengah masyarakat, terutama untuk menawarkan oleh-oleh buat wisatawan.
Dari sektor pertanian, terlihat tanaman hortikultura yang berbasis lahan di sekitar destinasi wisata memiliki peranan relatif tinggi jika dibandingkan dengan tanaman atau komoditi pertanian lainnya. Jika melihat sektor perdagangan, meski perlu kajian lebih lanjut namun sangat mungkin kegiatan perdagangan yang terjadi merupakan kelanjutan dari proses kegiatan ekonomi di sektor industri dan pertanian yang mendukung kegiatan wisata.
Jika dicermati dari serapan tenaga kerja yang bergelut dengan kegiatan wisata maka wisata di Kab. Tegal tidak boleh dipandang sebelah mata. Sakernas 2019 yang dipublikasikan oleh BPS Kab. Tegal menyebutkan dari penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja, sekitar 33,99 persennya bekerja di sektor perdagangan, rumah makan dan jasa akomodasi, 19,81 persen di sektor industry dan 17,40 persen di sektor pertanian.
Seperti diuraikan sebelumnya bagaimana ketiga sektor tersebut sangat mungkin menjadi pendukung utama kegiatan wisata. Angka-angka tersebut mungkin dapat menggambarkan bagaiamana pentingnya kegiatan wisata bagi masyarakat Kab. Tegal.
Strategi
Untuk mencapai pemanfaatan kegiatan wisata khususnya di objek wisata Guci agar mampu berperan dalam kesejahteraan masyarakat Kab. Tegal diperlukan strategi “jitu” yang tepat. Pertama unifikasi dari masing-masing destinasi, destinasi wisata yang tersebar di kaki Gunung Slamet hampir semua mengandalkan keunggulan alam dengan air panasnya sebagai faktor utama. Namun demikian masing-masing destinasi dituntut untuk memiliki unifikasi masing-masing, sehingga keberlanjutan dari objek wisata tersebut dapat terjaga.
Jika destinasi tersebut hanya mengandalkan hal yang serupa dengan destinasi utama maka sangat dimungkinkan akan ter”eliminasi” dalam waktu tidak lama. Unifikasi lain yang sangat mungkin adalah berupa oleh-oleh yang khas dari masing-masing destinasi. Kekhasan oleh-oleh yang dibawa pulang oleh pengunjung biasanya menjadi kesan tersendiri dan sangat mungkin menjadi daya tarik untuk kembali mengunjungi bahkan akan mengajak yang lain untuk ikut serta.
Kedua infrastruktur, aksesibilitas dari destinasi wisata sangat penting bagi pengunjung. Keberadaan destinasi wisata yang berada di kaki Gunung Slamet sangat memungkinkan memliki tingkat kesulitan tersendiri. Geografis yang sangat mungkin berupa dataran tinggi, bebatuan, tanah yang rentan dengan air, semua itu menjadi tantangan tersendiri.
Tantangan yang bisa jadi keuntungan jika dapat dikelola dengan optimal. Keberadaan infrastruktur dan geografis tersebut dapat menjadikan juga unifikasi dari destinasi wisata. Unifikasi jenis wisata yang ditawarkan bisa berangkat dari kondisi geografis yang unik tersebut.
Ketiga, setelah aksesibilitas dapat terpenuhi secara infrastruktur, selanjutnya yang tak kalah diperlukan adalah alat transportasi. Kondisi saat ini untuk mencapai objek wisata Guci relatif sangat mudah, banyak alat transportasi yang memungkinkan baik secara konvensional berupa angkutan perkotaan/perdesaan maupun angkutan online.
Namun demikian saat kembali dari lokasi wisata Guci dan sekitarnya, pengunjung relative “direpotkan”, akan menggunakan alat transportasi apa. Kami mencoba melakukan pemesanan angkutan online, ternyata tidak berhasil dan akhirnya terpaksa “meminta” teman untuk menjemput.
Terkait transportasi mugkin perlu menjadi perhatian lebih bagi pihak terkait, salah satu fenomena yang terjadi sangat bergantung pada transportasi. Backpacker atau orang yang suka berpergian ke suatu tempat baik wisata atau lainnya dengan budget minim serta bawaan yang simpel.
Tren Backpacker hingga kini masih digandrungi banyak orang dan mayoritasnya adalah anak muda. Dengan minimnya budget maka sangat memerlukan alat transportasi yang paling efisien.
Strategi yang jitu tidak akan optimal jika komitmen dari pemerintah dan para pihak tidak dimiliki. Terutama komitmen untuk mau dan mampu beradaptasi pada kondisi terkini. Keberadaan jalan tol lintas jawa sangat menguntungkan bagi dunia wisata, termasuk objek wisata Guci dan sekitarnya.
Penduduk metropolitan Jakarta dan sekitarnya, selama ini menyandarkan obyek wisata berkarakter pegunungan pada wilayah Puncak (Bogor) dan Lembang (Bandung). Dengan adanya jalan tol lintas jawa maka Guci dapat menjadi pilihan alternative, waktu tempuh yang sangat mungkin hampir sama dengan Jakarta ke Puncak atau Lembang.
Kondisi tersebut membutuhkan komitmen untuk beradaptasi, pengunjung dari Jakarta selama ini berkunjung ke Puncak atau Lembang telah menikmati berbagai fasilitas yang mungkin telah memenuhi standart. Jika Guci dan sekitarnya belum memenuhi, maka segera beradaptasi menyesuaikan.
Fasilitas akomodasi yang ada di Guci harus mampu pula beradaptasi. Komitmen beradaptasi ini bisa menjadi pemicu ketertarikan investor dari luar Kab. Tegal, untuk itu pemerintah terutama pemerintah Jawa Tengah dan khususnya Kab. Tegal harus mewaspadai “banjirnya” investor dari luar yang minim dampak positif terhadap masyarakat sekita destinasi wisata.
Keberhasilan dan keberlanjutan objek wisata khususnya Guci bagi kesejahteraan masyarakat snagt tergantung pada komitmen bersama para pelaku usaha wisata dan pemerintah serta masyarakt. Komitmen untuk beradaptasi menyesuaikan kondisi, tantangan dan peluang terkini.
Pandemi COVID-19 dapat menjadi momentum peningkatan kemampuan beradaptasi. Adanya jalan tol lintas jawa menambah peluang wisata Kab. Tegal menjadi pemicu peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jatengdaily.com-yds
0



