Malam 1 Suro di Solo, Mengelilingi Keraton dan Laku Bisu

Pusaka milik Pura Mangkunegaran dikirab dengan diangkut memakai jodhang. Foto: ist

SOLO (Jatengdaily.com) – Tradisi malam 1 Suro di Kota Solo masih mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Ribuan orang memadati dua keraton di Solo yakni Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran.

Kedua keraton menggelar acara tradisi dengan waktu yang berbeda namun cuma berselisih jam. Pura Mangkunegaran memulai acara sekitar pukul 19.00 WIB sedangkan Keraton Kasunanan pukul 00.00 WIB. Puncak acara kedua keraton sama yakni kirab pusaka.

Bagi masyarakat, kirab pusaka inilah yang ditunggu. Seperti di Pura Mangkunegaran setelah serangkaian acara seperti jamasan pusaka, dilanjutkan kirab pusaka memutari tembok keraton. Yang unik dari prosesi ini, masyarakat akan mengikuti jalannya kirab di belakang rombongan pembawa pusaka.

Saat prosesi inilah, peserta kirab tanpa menggunakan alas laki dan tak mengeluarkan sepatah kata pun, sering disebut tapa bisu atau laku bisu. Seperti yang terlihat pada Sabtu (31/8/2019), warga dengan khidmat mengikuti kirab di sepanjang jalan. Konon tapa bisu ini sebagai simbol bentuk introspeksi diri terhadap hal-hal yang selama ini kurang baik

Sejumlah orang melakukan prosesi laku bisu atau tapa bisu, mengelilingi tembok Pura Mangkunegaran tanpa berbicara. Foto: ist

Rombongan pembawa pusaka hanya sekali memutari tembok keraton. Namun warga terus melanjutkan prosesi memutari tembok keraton, baik sendirian maupun berkelompok. Saat prosesi ini mereka masih menjalankan tapa bisu, yakni tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Sementara itu prosesi di Keraton Kasunanan yang unik adalah diikutkannya kebo bule keturunan Kyai Slamet, hewan piaraan keraton sejak zaman dulu kala. Kerbau tersebut menjadi pengiring pusaka-pusaka yang dikirab sepanjang jalan.

Para prosesi dinihari tadi, kerbau Kyai Slamet berjalan di awal rombongan. Dan beberapa menit kemudian baru rombongan pembawa pusaka dari para abdi dalem. Masyarakat yang menyaksikan kirab ini relatif lebih banyak, karena rute yang dilewati juga lebih panjang sekitar tujuh kilometar mengitari kawasan Keraton Kasunanan.

Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo, menjelaskan bahwa pergantian tahun ke Wawu 1953 ini digunakan sebagai introspeksi. “Diharapkan masyarakat selalu eling lan waspada dalam menjalani hidup. Selalu ingat kepada Tuhan dan meninggalkan hal buruk yang pernah dilakukan setahun sebelumnya,” kata dia. yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here