Bonus Demografi Lansia


Oleh Diana Dwi Susanti
Pegawai BPS Provinsi Jawa Tengah

HASIL sensus penduduk 2010 menunjukkan bahwa Jawa Tengah, provinsi dengan jumlah penduduk terbesar nomor tiga nasional ini telah memasuki era penuaan penduduk (aging population) dengan persentase jumlah penduduk lanjut usia (lansia) sebesar 10,34 persen (BPS, 2010). Persentase ini lebih tinggi dibandingkan persentase penduduk lansia nasional yang hanya sebesar 7,6 persen. Era penuaan penduduk ditandai dengan kondisi ketika populasi penduduk usia 60 tahun ke atas di atas 10 persen. Tahun 2019 bahkan penduduk lansia Jawa Tengah semakin meningkat hingga mencapai 13,48 persen (BPS,2019). Dan diproyeksikan pada tahun 2045 jumlahnya mencapai hampir dua kali lipatnya.

Penuaan penduduk terjadi akibat adanya peningkatan angka harapan hidup dan penurunan angka kelahiran. Meningkatnya penduduk lansia membawa konsekuensi tersendiri terhadap pembangunan. Di satu sisi, menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menjalan program-programnya terutama upaya peningkatan pelayanan kesehatan dan perencanaan keluarga. Namun di sisi lain, penuaan penduduk berdampak pada aspek kehidupan masyarakat terutama meningkatnya angka rasio ketergantungan penduduk yang berimplikasi dengan aspek ekonomi.

Lansia selama ini dianggap sebagai beban oleh sebagian masyarakat karena dinilai sudah tidak lagi mampu bekerja dan mempunyai resiko yang lebih tinggi untuk sakit. Bagaimana para lansia kerap digambarkan dengan kondisi fisik dan mental yang semakin melemah, kurang mandiri, kesepian, merasa tidak berguna dan tersisih sampai datangnya akhir waktu.

Lansia Aktif, Lansia Produktif

Menua membutuhkan perubahan peran. Hal ini mengakibatkan pengurangan jumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh orang usia lanjut. Dan karenanya perlu mengubah berbagai peran yang masih dilakukan atas dasar keinginan lansia, bukan atas dasar tekanan yang datang dari kelompok sosial. Tetapi pada kenyataannya pengurangan dan perubahan peran ini banyak terjadi karena tekanan sosial. Perasaan tidak berguna dan tidak diperlukan lagi bagi orang yang berusia lanjut menumbuhkan rasa rendah diri dan kemarahan.

Menurut Rowe dan Kahn (1997) dalam Adioetomo 2018, mengubah paradigma penuaan penduduk dari beban menjadi potensi, telah berkembang penuaan aktif dan penuaan sukses. Konsep tersebut mengandung tiga komponen yang saling terkait, yakni pertama, lansia yang tidak mudah terpapar penyakit termasuk disabilitas; kedua, lansia dengan kemampuan kognitif yang masih bagus dan kapasitas fungsional yang tidak terganggu; ketiga, lansia yang masih dapat menjalani kehidupan sehari-hari secara normal. Penuaan sukses tidak hanya sebatas potensi tetapi dibuktikan dengan aktivitas sedangkan untuk melakukan aktivitas lansia harus sehat, berpikir jernih, dan terbebas dari kesulitian fungsional, baik fisik maupun kejiwaan.

Hasil Sakernas tahun 2019 di Jawa Tengah mencatat, ada 52,34 persen penduduk lansia masih aktif dalam angkatan kerja. Diantaranya 99,43 persen masih aktif bekerja dan 0,57 masih mencari kerja (BPS,2019). Bisa dikatakan lebih dari separo penduduk lansia di Jawa Tengah masih aktif mencari nafkah.

Mereka yang masih aktif bekerja ada dua kemungkinan. Pertama memang masih dituntut untuk mencari nafkah bagi keluarganya atau sekedar untuk menghilangkan rasa bosan tinggal di rumah. Apapun alasannya, masih tingginya penduduk lansia yang masih aktif bekerja menandakan kesehatan penduduk lansia di Jawa Tengah cukup baik. Karena hanya mereka yang masih memiliki kesehatan yang baik yang mampu bekerja.

Lansia ini masih produktif, hidupnya masih sehat, bugar dan bermanfaat. Tidak menjadi masalah bagi keluarganya dan tidak menjadi beban bagi daerah. Menurut Trimarjono, 1997 bahwa secara ekonomis keadaan lansia dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) yaitu golongan mantap, kurang mantap dan rawan.

Golongan mantap adalah para lanjut usia yang berpendidikan tinggi, sempat menikmati kedudukan/jabatan. Mapan pada usia produktif, sehingga pada usia lanjut dapat mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain. Sedangkan golongan kurang mantap, lansia kurang berhasil mencapai kedudukan yang tinggi, tetapi sempat mengadakan investasi pada anak-anaknya untuk memperoleh jenjang pendidikan tinggi. Sehingga masa tuanya akan dibantu oleh anaknya. Sedangkan golongan rawan yaitu lansia yang tidak mampu memberi bekal yang cukup kepada anaknya sehingga ketika masa tuanya mendatangkan kecemasan karena terancam kesejahteraan.

Menghadapi Bonus Demografi Lansia

Jawa Tengah pada saat ini sedang berada pada masa bonus demografi dan akan berakhir tahun 2035. Dengan berakhirnya bonus demografi secara otomatis jumlah penduduk lansia juga akan bertambah hingga 2045. Jika dimanfaatkan dengan baik, bonus demografi lansia akan memberikan dampak positif bagi kemajuan wilayah. Dengan catatan, kelompok lansia harus mendapatkan pelatihan untuk tetap produktif. Pemerintah hendaknya melakukan upaya dengan membuat grand desain kependudukan dengan intervensi terbaiknya penanganan usia produktif melalui life skill, mensukseskan pendidikan 12 tahun dan penanganan lansia produktif melalui lansia sehat, bugar, berkiprah dan bermanfaat bagi sesama.

Angka harapan hidup Jawa Tengah terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2019 angka harapan hidup Jawa Tengah mencapai 74,23 dan merupakan angka harapan hidup tertinggi kedua di Indonesia setelah provinsi DI Yogyakarta (BPS,2019). Angka harapan hidup yang tinggi tidak akan bermanfaat jika lansia hanya di rumah dan menganggur.

Kelompok lansia yang tidak produktif akan mengonsumsi tabungannya atau sepenuhnya tergantung pada kelompok usia produktif. Budaya kekeluargaan yang kental di Jawa Tengah adalah tradisi generasi ayah-ibu mengurus generasi kakek-nenek. Ini memang meringankan pembiayaan pemerintah. Persoalan yang cukup serius adalah generasi ayah-ibu mempunyai beban tanggungan tiga lapis yaitu biaya anak-anak, orang tua dan untuk diri sendiri. Termasuk mempersiapkan pensiunnya mereka sendiri.

Pemerintah perlu kreatif memberikan insentif ekonomi, sosial, dan moral kepada pemberi kerja untuk mau mempekerjakan warga lansia. Kalangan swasta juga perlu membuka perspektif human capital sekaligus empati sosial terhadap kalangan lansia. Para lansia sendiri harus membangun kebanggan sebagai pribadi yang mandiri.

Menempatkan lansia sebagai subyek dalam pembangunan kesehatan melalui pengalaman hidup selain sebagai orang yang dituakan dan dhormati di lingkungannya salah satu bentuk penghargaan bagi lansia. Lansia bisa sebagai agen perubahan baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat sekitarnya. Karena dengan semakin banyak karya dan makna beraktivitas membuat hidupnya produktif, sehingga tidak merasakan depresi dan stres yang berkepanjangan.Jatengdaily.com–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here