in

Sesungguhnya Sesudah Kesulitan akan Datang Kemudahan

Prof Dr Masrukhi MPd

Oleh Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd.

Guru Besar PKn Unnes

Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang

OPTIMISME melawan penyebaran wabah virus corona atau yang lebih dikenal dengan covid-19, merupakan sebuah keniscayaan. Sikap optimis akan mampu mengatasi dan meredam penyebaran virus covid-19 ini, sudah tentu dilandasi oleh kedisiplinan untuk mengikuti dan menerapkan protokoler penyebaran virus corona, yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Termasuk fatwa dari berbagai lembaga yang berwenang dan kompeten. Majlis Ulama Indonesia juga telah mengeluarkan fatwa, organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama juga telah mengeluatkan fatwa untuk menjadi tuntutan ummatnya, agar terhindar dari tertularnya covid-19, serta pada akhirnya mampu memutus mata rantai persebaran virus corona.

Dengan demikian, diperlukan kebersamaan antara pemerintah, masyarakat. organisasi sosial, organisasi keagamaan, lembaga pendidikan, dan semua pihak dalam kehidupan bermasyarakat. Kendatipun kita dihimbau untuk tidak panik, akan tetapi kita tidak boleh meremehkan apalagi “ngeyel”terhadap protokoler menghindarkan diri dari penyebaran virus ini. Kita tetap ta’at; tetap tinggal di rumah (kecuali ada kepentingan yang tidak bisa ditinggalkan), rajin mencuci tangan dengan cara yang benar, memakai masker jika keluar rumah, mengindari kerumunan manusia, menjaga jarak antara 1,5 sampai 2 meter ketika berbicara dengan orang lain, sementara tidak berjamaah jumat di masjid diganti dengan shalat dhuhur, termasuk menjelang ramadlan pun, pak Menteri Agama mengharapkan tidak ada taraweh berjamaah di mesjid, tidak ada buka bersama, tidak ada pengajian nuzulul Quran yang mengumpulkan banyak jama’ah.

Pengalaman berharga harus kita ambil hikmahnya, sebagai upaya pencegahan penyebaran virus corona. Mulai dari sebuah seminar di bogor pada akhir Februari 2020, acara keagamaan di hotel lembang asri bandung pada tanggal 5 sampai 14 Maret 2020, dan terakhir yang paling hangat adalah kumpul-kumpul arisan di Semarang. Semua peristiwa itu harus diambil pelajaran, bahwa virus ini tidak memandang apa dan siapa seseorang itu. Manakala tidak berperilaku sesuai protokoler pencegahan penyabaran virus corona, terjadilah tragedi yang tidak diinginkan oleh siapa pun, virus itu menyebar dengan cepat ke sebagian besar orang yang hadir dalam perkumpulan itu.

Jangan dulu bicara takdir, karena hal ini adalah hukum alam (sunnatullah). Hakekatnya baik takdir maupun sunnatullah adalah kepunyaan dan kehendak Allah swt.

Tuhan tidak akan memberlakukan hukum dalam kehidupan ini di luar hukum kausalitas. Suatu akibat terjadi oleh karena suatu sebab, dan itulah sunnatullah. Pada beberapa peristiwa memang Tuhan menunjukkan kekuasaannya, dengan menampakkan fenomena di luar hukum kausalitas, tidak sesuai dengan sunnatullah. Akan tetapi kekuasaan Tuhan ini hanya diberikan kepada orang-orang tertentu yang dipilihNya, yaitu rosul rosul Allah. Peristiwa ini dikenal dengan mukjizat, yang hanya diturunkan pada rosul-rosul Allah.

Itulah sebabnya di dalam salah satu ayat Al Qur’an  ditegaskan, “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dari belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah atas perintah Alla. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”. (Q.S.  13:11).

Ahmad Musthafa al-Maraghi, dalam kitab tafsirnya memaknai ayat ini, bahwa bagi setiap manusia adalah malaikat yang menyertainya: agar diri kita senantiasa menjadi orang baik dan sukses, tercatat amalnya yang baik, tidak dapat dijauhkan dari petunjuk agama dan terbukanya ilmu dari Allah. Selain itu, juga harus melakukan perubahan pola pikiratau mindset, dari buruk sangka menjadi baik sangka, dari pola pikir feodalistik  menuju pola pikir egaliter, pola pikir diskiriminatifmenuju pola pikir persaudaraan yang didasarkan atas sendi-sendi kemanusiaan.

Betapa pentingnya pola pikir positif dan optimis dalam upaya mencegah penularan covid-19, disertai dengan usaha yang keras dan disiplin, sesuai dengan protoker yang ditetapkan oleh pemerintah.

Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai kaum itu sendiri yang akan merubahnya.Pertolongan Allah biasanya akan datang pada masa-masa sulit. Jika kita menelisik kisah-kisah yang terdapat di dalam Al Qur’an, maka akan  banyak dijumpai hal tersebut.

Suatu ketika Siti Maryam binti Imron, mengalami saat yang genting, namun apa yang dikatakan Allah padanya “makan dan mminumlah serta bergembiralah (QS Maryam: 26). Siti Maryam disuruh tetap bergembira dan optimis untuk tetap mengharapkan pertolongan Allah. Pada saat kita bergelimang dosa, apa yang Allah katakan pada kita “jangan kamu berputus asa dari rahmat dan kasih sayang Allah” (QS, 12:87).  Bahkan sebuah hadits rosulullah saw menegaskan. Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu ia berkata“Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Allâh Azza wa Jalla berfirman, ‘Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.”(HR. at-Tirmidzi).

Kita teringat kisah persembunyian nabi Muhammad saw bersama Abu Bakar di sebuah gua di bukit Tsur untuk menghindarkan diri dari kejaran kaum quraisy yang akan membunuhnya. Nabi bersama sahabat Abu Bakar tinggal bersembunyi di gua itu selama tiga hari tiga malam, sebelum melakukan perjalanan hijrah ke Madinah. Musuh-musuh Quraisy yang mengejarnya sudah sampai di depan mulut gua, sehingga sahabat Abu Bakar sangat ketakutan karena pasti akan ketahuan dan dibunuh. Nabi kemudian menghiburnya untuk tetap optimmis, “jangan bersedih sesungguhnya Allah akan terus bersama kita“ (QS, 122: 40)..

Berbagai peristiwa yang direkam Al Qur’an itu memberikan pelajaran kepada kita bahwa pertolongan Allah akan datang pada masa-masa yang sangat genting, ketika berbagai upaya telah dilakukan semikian rupa, ketika kecemasan demi kecemasan sudah menghinggapi kehidupan manusia. Dalam kondisi sesulit apa pun optimisme harus tetap ditumbuhkembangkan, ucapan kebaikan dan ketenangan  harus terus digemakan, dengan penuh keyakinan bahwa dalam kondisi sesulit apa pun, Allah tidak akan meninggalkan kita.

Mari kita berdisiplin menta’ati protokoler pencegahan covid-19, tetap optimis dan tenang, dengan tetap berkeyakinan bahwa Allah akan menolong kita dari penyebaran virus ini. Sesugguhnya, sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan (QS,94 :5-6) Jatengdaily.com-st

Written by Jatengdaily.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

GIPHY App Key not set. Please check settings

One Comment

Kabar Baik, Total 17 PDP COVID-19 Sembuh di Kota Semarang

HUT Ke-12, Bawaslu Demak Gelar Doa Keselamatan Bangsa