Sastrawan, Teks, dan Pembaca


Oleh Gunoto Saparie
Ketua DKJT

UNTUK apakah sastrawan mencipta karya sastra? Jawabannya bisa bermacam-macam. Namun, pada intinya, kalau kita membaca sejumlah proses kreatif para sastrawan Indonesia, kita dapat mengetahui bahwa mereka mencipta karya sastra bukan hanya sekadar untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami maknanya. Dari sudut pandang sastrawan, karya sastra yang mereka cipta dipublikasikan di media massa atau diterbitkan dalam bentuk buku, dimaksudkan agar isi dan pesan karya sastra itu dapat dipahami. Sedangkan dari sudut pandang pembaca, karya sastra untuk dibaca dan ditelaah dengan harapan agar isi dan pesan karya sastra itu dapat dinikmati dan dipahami maknanya.

Akan tetapi, mengapakah para pembaca sering menemui kendala dalam memahami karya sastra? Kita tahu, salah satu lapisan komunikasi dalam memahami karya sastra adalah sastrawan, teks, dan pembaca. Sastrawan dan pembaca adalah dua kutub proses komunikasi sastra yang sedang berperan dalam menghadapi teks atau karya sastra. Karya sastra itu sendiri merupakan seperangkat tanda atau lambang yang ditransmisikan melalui suatu saluran, baik puisi, prosa, atau drama, kepada pembaca. Kode yang dipilih sastrawan harus diketahui oleh pembaca, sehingga memungkinkan pembaca untuk mengenali tanda-tanda tekstual dan mengaitkan makna dengan materi teks.

Tujuan proses komunikasi sastra adalah membaca dan menafsirkan teks sastra berupa pesan yang berisi amanat. Pembacaan dan penafsiran teks sastra itu sangat terbuka bagi setiap pembaca. Oleh karena itu, berbagai gagasan teoretik telah dikemukakan para pakar sastra untuk membantu pembaca dalam memahami karya sastra.

Teori sastra paling dikenal adalah pendekatan yang dikemukakan oleh Abrams pada tahun 1953. Dia menyebutkan empat pendekatan untuk memahami karya sastra, yaitu pendekatan mimetik, pendekatan ekspresif, pendekatan pragmatik, dan pendekatan objektif. Pendekatan mimetik memandang bahwa kenyataanlah yang memberi makna kepada sastra, karena karya sastra dianggap sebagai tiruan (mimesis) kenyataan.

Pendekatan ekspresif memandang bahwa sastrawanlah yang memberi makna kepada karya sastra, karena itu telaah sastra seharusnya memusatkan perhatian kepada sastrawan. Pendekatan pragmatik memandang bahwa pembaca adalah pemberi makna karya sastra. Sedangkan pendekatan objektif memandang bahwa karya sastra bersifat otonom. Ini berarti, karya sastra memberi makna pada dirinya sendiri. Ia tidak perlu ditelaah melalui faktor di luar karya itu.

Pendekatan Paling Benar
Harus kita akui, sampai saat ini masih menjadi perdebatan, pendekatan manakah yang paling benar dalam memahami karya sastra? Teori yang dikemukakan Abrams itu bukan satu-satunya pendekatan, namun dalam perkembangan mutakhir muncul berbagai variasi pemahaman sastra dari beberapa sudut pandang, yaitu sastrawan, pembaca, dan karya sastra itu sendiri sebagai objek kajian. Dalam kaitan ini, meskipun tidak termasuk baru, hermeneutika sebagai pendekatan atau metode kajian teks sastra dipandang tepat untuk membantu pembaca dalam usaha menelaah dan menafsir makna suatu teks sastra.

Istilah hermeneutika awalnya dikaitkan dengan teologi, lebih khusus lagi subdisiplin teologi yang membahas metodologi dan otentifikasi dalam penafsiran teks kitab suci. Perkembangan hermeneutika, khususnya hermeneutika teks-teks, pada mulanya merebak dalam disiplin teologi, dan lebih umum lagi dalam sejarah permikiran teologis Yudio-Krisitiani. Oleh karena itu, hermeneutika sebelumnya memiliki arti sebagai sejumlah pedoman untuk pemahaman teks-teks yang bersifat otoritatif, seperti dogma dan kitab suci. Hermeneutika boleh dikatakan merupakan upaya menafsirkan berdasarkan pemahaman yang sangat mendalam.

Hubungan hermeneutika dengan fenomena dan teks agama sebenarnya telah ada sejak hermeneutika itu lahir. Bahkan pada awal kemunculannya pada abad ke-17, kata hermeneutika merujuk pada prinsip-prinsip interpretasi kitab suci. Pada perkembangannya, peran hermeneutika sebagai prinsip-prinsip interpretasi merambah ke berbagai objek dengan spektrum yang sangat luas. Ia tidak hanya terbatas pada teks agama saja.

Proses mengurai dan memahami makna karya sastra itu merupakan fokus hermeneutika. Karya sastra dipandang sebagai sebuah teks. Teks sebuah karya sastra cenderung dinyatakan sebagai sebuah objek, objek estetik. Oleh karena itu, teks dianalisis dalam pemisahan tegas dari unsur subjek. Analisis teks itu dianggap sebagai interpretasi.

Interpretasi dilakukan, agar sesuatu yang kabur, jauh, dan gelap maknanya dalam karya sastra itu menjadi sesuatu yang jelas, dekat, dan dapat dipahami. Konsep lingkaran hermeneutis (hermeneutical circle) merupakan pijakan dasar dalam menganalisis karya sastra, yaitu interaksi dialektis antara keseluruhan dan bagian, kemudian masing-masing memberikan makna lagi. Dalam kaitan inilah, hermeneutika sebagai teori, metode, dan praksis penafsiran, perlu menjadi bahan pertimbangan.

Perkembangan hermeneutika saat ini memang tidak bisa dilepaskan dengan pascamodernisme. Konsep yang diajukan oleh para tokoh pascamodernis, seperti wacana oleh Foucault dan dekonstruksi oleh Derrida agaknya merasuk ke berbagai bidang kehidupan pada saat ini. Salah satu sumbangan penting kaum pascamodernis adalah upaya untuk mengajukan pluralitas pemikiran dengan cara membongkar pemikiran (besar) yang sudah ada dan biasanya begitu mendominasi.

Dalam situasi keilmiahan seperti itulah hermeneutika dengan berbagai variannya mengambil peran penting. Hermeneutika, terutama dalam versi yang dikembangkan oleh Paul Ricoeur, telah memberikan peluang yang besar bagi setiap orang, kapan pun, di mana pun, dan dari kalangan mana pun untuk melakukan pembacaan dan penafsiran teks. Peluang tersebut membuka berbagai kemungkinan penafsiran yang hasilnya mungkin berbeda dengan yang sudah ada dan mungkin sudah mapan.


Penafsiran Terus-Menerus
Hermeneutika dapat didefinisikan sebagai studi pemahaman karya-karya manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak lepas dari bahasa. Bahasa sebagaimana terwujud dalam kata-kata, kalimat, dan kesatuan gagasan merupakan objektivikasi dari kesadaran manusia tentang realitas. Dalam percakapan manusia senantiasa melakukan penafsiran secara terus-menerus. Hal ini sesuai dengan arti dari hermeneutika itu sendiri.

Teks dalam sebuah karya sastra merupakan teks yang telah mengalami fiksasi atau pembakuan. Makna dari teks itu kemudian menjadi otonom, terpisah dari peristiwa atau konteksnya semula. Teks yang maknanya otonom, berarti tidak tergantung kepada maksud pengarang. Sebab maksud maupun ide pengarang, yang semula mungkin tergantung pada situasi psikologis-emosional pengarang, dapat saja berubah. Sementara maksud teks, yang telah tersusun dalam gramatika tata bahasa tertentu, telah dibuat fix atau dibakukan secara semantik dalam bentuk tulisan.

Otonomi semantik sebuah karya sastra kemudian menjadi rangkap tiga, otonomi makna dari intensi penulisnya, pembaca awal, dan dari situasi budaya asalnya. Dunia teks dalam karya sastra menjadi terbuka ke banyak audiens, melampaui ruang dan waktu dari penulisnya, serta memasuki dan mengalami pemaknaan baru dari waktu ke waktu.

Hermeneutika barangkali bisa menjadi alternatif kritik sastra di Indonesia yang lebih memadai. Ia berusaha menggali makna dengan mempertimbangkan hal-hal yang melingkupi teks tersebut, yaitu teks, sastrawan, dan pembaca. Dengan memperhatikan ketiga hal itu, diharapkan suatu upaya pemahaman atau penafsiran menjadi kegiatan rekonstruksi dan reproduksi makna teks.

Bukan hanya melacak bagaimana suatu teks dimunculkan oleh sastrawannya dan muatan apa yang masuk dan ingin dimasukkan ke dalam teks, ia juga berusaha melahirkan kembali makna sesuai dengan situasi dan kondisi saat teks dibaca atau dipahami. Dengan kata lain, hermeneutika memperhatikan tiga hal itu sebagai komponen pokok dalam upaya penafsiran yaitu teks, konteks, kemudian melakukan upaya kontekstualisasi.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmala. 2013. “Hermeneutika: Mengurai Kebutuhan Metode Ilmu-ilmu Sosial” dalam Belajar Hermeneutika. ed. Nafisul Atho’ dan Arif Fahrudin.Yogyakarta: Diva Press
Eagleton, Terry. 2006. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif. Diterjemahkan Harfiah Widyawati dan Evi Setyarini. Yogyakarta: Jalasutra
Hadi, Abdul W.M. 2004 Hemeneutika, Estetika, dan Relegiuitas. Yogyakarta: Matahari
Palmer, Richard E. 2003. Hemeneutika: Teori Baru Mengenai Interpretasi. Diterjemahkan Masnur Hery dan Damanhuri Muhammad. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Palmer, Richard E. 1969. Hermeneutics: Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer. Illinois: Northwestern University Press
Eagleton, Terry. Teori Sastra: Sebuah Pengantar Komprehensif . Harfiah,
(Yogyakarta: Jalasutra, 2006). st