Usaha Pertanian, Melaju Tak Tersentuh

Oleh: Tri Karjono
ASN BPS Prov. Jateng

HASIL pertanian di samping menjadi kebutuhan primer bagi manusia secara langsung maupun bahan baku bagi lapangan usaha yang lain, selama ini juga menjadi stabilisator perekonomian wilayah. Bisa dibayangkan ketika hasil pertanian, sebut saja beras tidak tersedia dalam jumlah yang cukup dan terjangkau dari sisi harganya. Ketersediaan dari waktu ke waktu akan menentukan tinggi rendahnya gelombang fluktuasi harga.

Sementara kita ketahui bersama, di Jawa Tengah seperti halnya juga di mayoritas wilayah Indonesia, beras sebagai penimbang terbesar dan menjadi faktor terbesar pula dalam menentukan fluktuasi dan stabilitas laju inflasi.

Laju inflasi yang terkendali pada kurun waktu beberapa tahun terakhir yang berkisar antara 1,56 hingga 3,71 persen (2017-2020), sangat dipengaruhi oleh stabilitas harga beras dan produk pertanian lainnya yang lebih disebabkan ketercukupan persediaan di tengah-tengah masyarakat.

Bahkan ketika pandemi melandapun inflasi terlihat sangat terkendali. Dengan nilai konsumsi dan penimbang terbesar, dalam 2 tahun terakhir komoditas beras mampu keluar dari 10 besar dari seluruh komoditas paling berpengaruh terhadap inflasi di Jawa Tengah (BPS).

Tren Ekonomi Saat Pandemi
Di kala pandemi melanda, mayoritas lapangan usaha begitu nyata mengalami fluktuasi yang tidak biasa. Secara signifikan ada yang mengalami perubahan arah atau terdorong untuk lebih tajam tenggelam atau semakin tinggi menjulang.

Sebut saja secara umum lapangan usaha industri manufaktur dengan segala fasilitasnya yang semakin hari semakin berpihak harus mengalami keterpurukan saat pandemi terjadi, kecuali sub sektor kimia dan farmasi. Pun demikian dengan lapangan usaha transportasi dan pergudangan, penyediaan akomodasi/pariwisata, perdagangan serta konstruksi yang sangat terpukul oleh keberadaan COVID-19.

Memang lebih banyak sektor unggulan mengalami masalah dengan kehadiran tamu tak diundang ini, yang menyebabkan secara umum ekonomi terdepresiasi cukup dalam. Namun di balik situasi tersebut, di sisi lain terdapat pula lapangan usaha di antaranya informasi dan komunikasi serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial justru mengalami peningkatan nilai tambah yang cukup tinggi. Walau terasa aneh namun kenyataannya lapangan usaha ini seakan terberkahi oleh pandemi yang menurut khalayak awam menjadi kesulitan yang nyata.

Dengan kondisi mayoritas aktivitas dari rumah, memungkinkan penggunaan teknologi komunikasi lebih sering dengan durasi yang lebih lama. Demikian halnya, keberadaan virus corona memungkinkan usaha bidang kesehatan dan jasa sosial harus meningkatkan kinerjanya demi memenuhi kebutuhan obat, menjaga imunitas dan pelayanan kepada masyarakat, baik dalam rangka penyembuhan akibat terpapar maupun dalam rangka pencegahan.

Tak Tersentuh Pandemi
Ketika lapangan usaha lain, baik secara negatif maupun positif terasa terdampak oleh pandemi ini, dengan ketercukupan jumlah dan stabilitas harga yang ada sepertinya lapangan usaha pertanian seakan tak mampu tersentuh oleh keberadaan COVID-19. Ada atau tidak ada virus corona terlihat dia berjalan tenang apa adanya secara natural. Terlihat pertumbuhan lapangan usaha ini hampir tidak mengalami fluktuasi yang berarti dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Dari sisi produksi semakin meyakinkan ketidaktersentuhan tersebut. Lapangan usaha pertanian tetap mengalami kenaikan saat musimnya tiba. Dan akan mengalami penurunan hasil ketika saat bukan musimnya. Walau pandemi terjadi tetapi tetap mengalami kenaikan ketika musim panen tiba. Data memperlihatkan bahwa ketika virus corona menjangkiti dunia sejak akhir Desember 2019 dan mulai masuk ke Indonesia pada bulan Maret 2020 sehingga menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia tedampak berat pada kuartal kedua 2020.

Di mana ekonomi Jawa Tengah terkontraksi hingga 5,94 persen (y on y), lapangan usaha pertanian tetap mencatatkan diri sebagai lapangan usaha yang mampu bertahan tumbuh 2,15 persen bahkan secara q to q mampu tumbuh 10,69 persen. Ini terjadi karena pada awal kuartal ini, pertanian utamanya tanaman pangan lebih khusus padi masih terjadi panen raya.

Demikian halnya ketika ekonomi telah mengalami tren merangkak menuju perbaikan, di saat bersamaan musim panen telah usai yang berlanjut memasuki musim kemarau dan musim tanam, lapangan usaha pertanian cenderung mengalami tren sebaliknya. Produksi padi yang menurun pada tahun 2019 sebesar 0,84 juta ton dibanding 2018 dan tahun 2020 kembali menurun lebih kecil sebesar 0,17 juta ton, juga lebih disebabkan oleh menurunnya luasan panen.

Ini menunjukkan bahwa lapangan usaha pertanian seakan tak tersentuh oleh keberadaan virus mematikan ini. Lapangan usaha ini tetap mampu beraktivitas secara normal, seakan tak ada apa-apa. Hanya faktor alami seperti kemarau, hujan ekstrim atau bencana alam yang hanya mampu berpengaruh pada luas tanam, luas panen hingga produksinya.

Sang aktor usaha, yaitu petani tetap mampu beraktivitas seperti biasa tanpa rasa takut terhadap pandemi. Dan pada kenyataannya angka keterpaparan masyarakat di desa jauh lebih kecil dibanding perkotaan, walau banyak kita temui tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan di pedesaan lebih rendah dibanding perkotaan (BPS, Agustus 2021).

Tingkat interaksi antar individu yang lebih rendah akibat lebih rendahnya tingkat kepadatan penduduk dan aktivitas yang cenderung individual memungkinkan untuk itu. Keterpaksaan akibat keterbatasan skill di luar pertanian, di mana dengan rata-rata usia petani yang separoh abad lebih dengan tingkat kesederhanaan dan kepasrahan yang lebih tinggi, juga mendorong tetap beraktivitas walau kondisi apapun.

Stimulan
Di sisi lain, ketidaktersentuhan aktivitas pertanian dari paparan COVID-19, sepertinya diikuti oleh minimnya atau bahkan tidak adanya kebijakan pemulihan ekonomi akibat pandemi terhadap usaha pertanian. Di luar fokus penanganan terhadap kesehatan masyarakat untuk kembali dapat beraktivitas seperti sebelumnya, yang pada akhirnya ekonomi kembali pulih, pemulihan ekonomi lebih difokuskan kepada sektor-sektor ekonomi yang terdampak langsung dan masyarakat yang tergerus pendapatannya.

Sebagai masyarakat dengan pendapatan yang rendah, petani mungkin akan dapat menikmati kebijakan yang ada. Namun pertanian sebagai usaha, dimana tujuan akhirnya dalam rangka meningkatkan produktivitasnya, dari kebijakan subsidi sepertinya belum maksimal.

Terhadap akses kreditpun di mana stimulan kebijakan pemulihan ekonomi menjadi wadahnya, sangat sedikit usaha pertanian yang memanfaatkannya. Jikapun ada hanya usaha pertanian berbasis korporasi dan non rumah tangga, sementara mayoritas usaha pertanian adalah skala rumah tangga.

Perlu Perhatian
Dengan uraian di atas, bahwa seakan usaha pertanian dalam kondisi apapun akan tetap melakukan aktivitasnya. Hanya situasi alam, ketersediaan sumberdaya dengan berbagai fasilitas dan kebijakan yang ada selama inilah yang akan menjamin keberlangsungannya. Ada atau tidak ada pandemi, ada atau tidak ada kebijakan terkait dampak pandemi belum banyak berpengaruh terhadap produktivitasnya.

Bukti lain di mana selama beberapa bulan terakhir tercatat nilai tukar petani berada di bawah 100, menunjukkan bahwa usaha pertanian belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi petani (indeks yang diterima petani lebih kecil dibanding indeks yang dibayarkan). Artinya jikapun ada sentuhan terhadap usaha pertanian, pada kenyataannya sentuhan tersebut belum mampu memberi dampak yang signifikan.

Sama halnya sektor-sektor lain, bagaimanapun usaha pertanian menjadi kegiatan ekonomi yang sangat penting dan berpengaruh pada semua lini. Apalagi jika dilihat dari sisi tenaga kerja yang terlibat, usaha ini menjadi yang tertinggi diantara sektor yang lain. Perhatian terhadap keberlangsungan usaha ini akan memberi dampak besar pada kesejahteraan lebih banyak orang. Jatengdaily.com-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here