Dakwah Lewat Sastra Lebih Efektif

Bergambar bersama seusai diskusi acara Bianglala Sastra dengan tema Sastra Sebagai Media Dakwah. Dari kiri: Kang Ujang, Driya Widiana MS, Abra Washista, Sri Boentoro, dan Gunoto Saparie. Foto:dok
SEMARANG (Jatengdaily.com) – Dakwah lewat karya sastra, baik puisi, cerita pendek, novel, maupun naskah drama dinilai lebih efektif katimbang melalui pidato atau khotbah. Sejak zaman dulu para pujangga menggunakan sastra sebagai media dakwah.
Bukan hanya dakwah agama Islam saja, namun juga Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Cu. Kesimpulan itu ditarik dari diskusi pada acara Bianglala Sastra Semarang TV dengan tema Sastra Sebagai Media Dakwah di Ngesrep, Semarang, Minggu malam (16/2).
Sebagai nara sumber Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie dan pegiat sastra Sri Boentoro. Dipandu Ketua Komunitas Kumandang Sastra Driya Widiana MS, kegiatan itu juga menampilkan pembacaan puisi “Embun Terang: oleh Abra Washista dan permainan siter Kang Ujang sekaligus menembang syair-syair Jawa “Ilir-ilir”, “Sluku-sluku Bathok”, “Tanpa Waton:, dan “Suluk Mahardhika”.
Gunoto mengatakan, sejak zaman Walisanga dakwah dilakukan melalui sastra. Sunan Kalijaga, misalnya, menciptakan syair-syair yang dilagukan, misalnya “Ilir-ilir”. Syair lagu ini begitu indah bernuansa dakwah, menggunakan simbol, metafora, irama, dan rima. Dengan tembang itu Sunan Kalijaga mengingatkan umat Islam untuk bangkit melaksanakan salat lima waktu senyampang masih ada kesempatan.
“Memang Sunan Kalijaga berdakwah dengan menggunakan media yang sesuai dan dikenal masyarakat setempat. Bahkan ia memakai wayang sebagai media dakwah. Isitlah-istilah agama diadopsi menjadi bahasa Jawa, misalnya kalimat syahadat menjadi jimat kalimasada,” ujarnya.
Menurut Gunoto, karya-karya sastra sebagai Mahabharata dan Ramayana boleh dikatakan menjadi media dakwah bagi umat Hindu. Dalam karya itu memuat ajaran Hindu, ada soal hubungan manusia dengan dewa, masalah moral, politik, cinta, dan sebagainya. Begitu juga Negara Kertagama dan Serat Pararaton bisa menjadi bukti bagaimana karya sastra juga menjadi media dakwah umat Budha.
Dalam khazanah sastra Melayu Lama, lanjut Gunoto, kita bisa menunjukkan bagaimana Raja Ali Haji dengan Gurindam Duabelas berdakwah kepada umat Islam. Di dalamnya termuat masalah tauhid, syariat, dan budi pekerti. Bahkan di pesantren-pesantren ada tradisi mengajarkan ilmu agama melalui karya sastra dengan nadhom atau syair berbahasa Arab yang dilagukan. Soal akidah dan fikih lebih mudah dipahami para santri melalui sastra.
Boentoro menambahkan, sastra memang sangat berperan dalam dakwah agama. Dalam Kristen, misalnya, Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, apalagi dalam bahasa aslinya, Ibrani, sangat puitis dan bernilai sastra. Ajaran-ajaran Kristiani lebih mudah dimengerti dan diresapi melalui masmur dan kidung.
Dalam sastra Indonesia modern, kata dia, kita bisa melihat karya-karya Rendra sebelum dia masuk Islam yang bernuansa dakwah Kristiani. Misalnya “Balada Penyaliban” dan sejumlah masmur. Beberapa puisi Chairil Anwar pun menunjukkan bagaimana karya sastra bisa menjadi media dakwah Nasrani. Sebutlah, misalnya, puisi-puisi Chairil yang berjudul “Isa” dan “Doa” yang sangat religius dan bernuansa dakwah. Ugl–st