Ramadan Berkah untuk Lingkungan

5 Min Read

Oleh: Sekarsari

SELAMA menjalankan ibadah puasa, tubuh terasa lesu karena seharian harus menahan keinginan untuk makan dan minum. Maka tidak mengherankan apabila saat mendekati jam berbuka puasa, banyak hidangan tersaji sebagai bentuk persiapan dalam membatalkan puasa. Kebahagiaan sederhana hadir lewat dahaga yang terpenuhi dan perut yang kembali terisi.

Tidak mengherakan apabila setiap sore pemandangan pedagang kaki lima turut mewarnai ramainya jalan. Seperti yang terjadi di sepanjang jalan Prof Hamka, jalan Ngaliyan, sampai jalan Bukit Barisan, dari pukul 15:00 atau waktu shalat ashar hingga mendekati maghrib. Dimana akan diwarnai kemacetan dari kalangan pemburu takjil dan karyawan yang baru pulang kerja. Banyak sekali penjaja makanan untuk berbuka yang ditawarkan ditepi-tepi jalan. Lokasi-lokasi pinggir jalananan yang awalnya sepi bahkan tidak pernah ditemui ada penjual makanan di sana, justru penuh dengan lapak-lapak kecil selama bulan Ramadan.

Tidak sedikit yang berjualan, tidak sedikit pula yang turut melariskan dagangan. Makanan yang dijual tadi tentunya kebanyakan terbungkus plastik. Imbasnya tentu saja sudah bisa ditebak, yakni membludaknya sampah plastik sedotan, bungkus makanan, terutama kantong plastik. Seperti pengalaman penulis, dimana setiap kali berbuka puasa bersama kawan-kawan banyak dari mereka pulang dengan membawa buah tangannya masing-masing. Hidangan yang mereka bawa pulang pun beragam, sedang pembungkusnya tetap dominan plastik.

Plastik yang sifatnya sulit terurai sudah pasti menimbulkan kerusakan, tidak hanya di darat bahkan lautan. Seperti yang terjadi di pesisir laut Jawa. Penelitian yang dilakukan oleh Celine van Bijsterveldt bersama timnya, menyebutkan di Demak sendiri 50% area bawah hutan mangrove di sana telah tertutupi tumpukan plastik. Akibatnya, akar bakau menjadi cacat, bahkan lemas kemudian mati. Terlebih ekosistem yang hidup didalamnya pun akan ikut rusak.

Sebenarnya polemik sampah plastik sudah panjang pembahasannya tidak hanya ketika Ramadhan. Data Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sampah di Indonesia setiap tahunnya mencapai 64 juta ton, dan 3,4 juta ton diantaranya merupakan sampah plastik. Disamping itu, riset yang dilakukan oleh Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilakukan pada pertengahan April sampai Mei 2020, mengungkapkan bahwa kenaikan sampah justru berasal dari kebiasaan masyarakat selama Work from Home (WFH), yakni belanja online.

Hanya saja momentum Ramadan rasanya saat yang tepat untuk kembali bertafakur, terlebih soal alam. Menurut Rustam Ibrahim dalam penelitiannya yang membahas konsep ramah lingkungan berdasarkan al Qur’an, Hadist, dan kitab kuning, mengungkapkan bahwa konservensi lingkungan merupakan tugas pokok manusia sebagai khalifah di bumi ini. Sebab menjaga alam sama dengan menjaga eksistensi manusia itu sendiri.

Ramadan adalah bulan yang berkah, namun sampaikah pada lingkungan kita? Islam adalah agama rahmatanlil’alamin atau rahmat bagi seluruh alam, tentu saja hal ini termuat juga dalam ajaran-ajarannya. Manusia sebagai khalifah di bumi, memiliki tanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan dan tidak diperkenanakan untuk menghancurkannya, sebagaimana yang termuat dalam Q.S Al-Baqarah ayat 30. Sebagaimana dalil tersebut, hanya Allah yang lebih mengetahui maksud penunjukan manusia sebagai khalifah di bumi.

Pada akhirnya, perlu adanya kerjasama antara pedagang-pedagang kakilima dengan para pembeli untuk mau disiplin dalam meminimalisir pemakaian kantong plastik. Meskipun awalnya sulit, mengingat kantong plastik yang tersebar di pasaran kisaran harganya terbilang murah atau sekitar kurang lebih Rp 8.000 sampai Rp 20.000 ke atas. Setidaknya langkah sederhana yang dapat kita tanamkan adalah membuat prinsip dan pandangan baru pada diri sendiri untuk menggunakan tas belanja ramah lingkungan. Selain dapat menghemat pengeluaran modal pedagang, tas belanja ramah lingkungan terbilang lebih awet dari pada kantong plastik.

Bayangkan apabila dari umat muslim di Indonesia pada Ramadhan 1442 Hijriyah ini semuanya mau untuk memulai langkah kecil tersebut. Angka penumpukan sampah yang mulanya tercatat ada 3,4 juta ton itu tentunya dapat mengalami penurunan drastis. Dengan demikian, berkah Ramadhan dapat terasa juga pada lingkungan kita.

Sekarsari, Mahasiswa Jurusan Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Santriwati Life Skill Daarun Najaah. Jatengdaily.com-st

0
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.