Oleh: Ahmad Munif
RAMADAN 1442 H sudah berjalan separo. Di bulan yang penuh rahmat dan ampunan ini, setiap muslim tidak hanya dituntut untuk menahan lapar dan dahaga dari fajar hingga matahari terbenam, namun juga diharapkan menyerap pesan-pesan kemanusiaan di dalamnya. Mengapa harus demikian?
Alasan pertama, karena Ramadan sejatinya bengkel rohani dan kejiwaan untuk membentuk manusia yang lebih peka dan peduli kepada sesama. Alasan lainnya karena di bulan Ramadhan pula Alquran diturunkan yang dikenal dengan Nuzulul Qur’an. Di dalam Alquran, berisi beragam tata aturan dan petunjuk bagi manusia (hudan lin naas).
Bagaimana penjelasan bahwa puasa Ramadan bisa membentuk pribadi manusia? Bukannya urusan tidak makan dan minum dalam jangka waktu tertentu merupakan diet fisik untuk kesehatan badan? Memang, dalam sebuah hadis dikatakan, shuumu tashihhuu, berpuasa lah maka kamu akan sehat. Dalam konteks ini benar bahwa puasa merupakan urusan kesehatan jasmani.
Menurut kajian Subrata dan Dewi (2017) misalnya, puasa Ramadan bisa memberi dampak positif terhadap kesehatan atau terapi dari penyakit. Dikatakan bahwa puasa Ramadhan bermanfaat besar bagi kesehatan mata, kesehatan ibu hamil, proses penyembuhan diabetus mellitus, terapi penyakit ginjal, dan terapi penederita gangguan kolestrol dan obesitas.
Namun di hadist dan penjesalan ulama lainnya, banyak sekali keterangan dan penjelasan terkait keutamaan Ramadan. Juga uraian seperti apa hubungan puasa Ramadhan dengan pembentukan pribadi seseorang yang mau menghargai sesama, peduli dengan keadaan sekitar, hingga pribadi yang tidak mudah menghakimi orang lain.
Misalnya hadist yang dikutip oleh Syekh Zainudin al-Malibariy dalam kitab Irsyaadul Ibaad terkait keutamaan berbagi makanan atau minuman kepada orang lain saat Ramadhan. Dalam hadis tersebut, dikisahkan Nabi baru saja menyampaikan kepada sahabat akan kehadiran bulan yang penuh keberkahan, yaitu bulan setelah Sya’ban.
Untuk memompa semangat bagi umatnya agar ‘senang berbagi’ kepada sesama, lantas Nabi menyampaikan, “Barang siapa memberi hidangan berbuka keada orang yang berpuasa, maka akan diberkan ampunan atas seluruh dosanya dan dibebaskan dari api neraka. Juga mendapatkan pahala yang senilai dengan orang yang diberi hidangan berbuka.”
Pada hadist lainnya, masih tentang pembentukan kepribadian, Nabi mengingatkan bahwa bulan Ramadan merupakan bulan kesabaran yang mana kesabaran itu balasannya adalah surga. Di sini Nabi menekankan kalau orang berpuasa Ramadhan dengan baik dan benar, jiwa pribadinya akan dipenuhi dengan kesabaran. Kesabaran ini bermacam-macam, dari kesabaran menahan diri hingga kesabaran dalam melaksanakan berbagai jenis kebaikan kepada sesama manusia dan beribadah kepada-Nya.
Relasi Ramadan Nuzulul Quran
Selanjutnya berkenaan dengan Nuzulul Quran yang disepakati oleh mayoritas ulama diperingati tiap tanggal tujuh belas Ramadan. Alquran pada surat al-Baqarah ayat 185 menjelaskan, bulan Ramadan merupakan bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran. Ternyata tidak hanya Alquran yang nuzuul pada bulan Ramadan, dalam Tafsir Ibnu Katsir diuraikan, seluruh kitab samawi (Taurat, Injil, Zabur, dan Alquran) kali pertama diturunkan kepada para nabi di bulan Ramadhan dengan tanggal yang berbeda-beda.
Kemudian QS al-Baqarah 185 menegaskan bahwa ada tiga fungsi Alquran bagi manusia, yakni hudan (petunjuk), bayyinah (penjelas), dan al-furqaan (pembeda atas yang baik dan buruk). Tiga fungsi tersebut menyatu dalam satu terminologi, pembentuk kepribadian bagi perjalanan hidup manusia.
Kerpibadian manusia perlu dibentuk dan diarahkan oleh Alquran karena manusia dibekali oleh Tuhan dengan akal pikiran dan hawa nafsu. Akal pikiran menjadi senjata manusia untuk berkarya dan berkreasi yang termanifestasi menjadi kebudayaan. Sementara hawa nafsu, menurut ahli hikmah, semacam dorongan kuat untuk berbuat sesuatu. Ilmu tasawuf menyebut dorongan tadi dalam hal positif berupa muthmainnah dan dalam hal negatif berupa ammarah dan lawwamah.
Keduanya harus dikendali dengan mengacu pada Alquran sebagai kalam ilahi.
Pada level ini, bisa dipahami keberadaan Nuzulul Qur’an dan puasa Ramadan sama-sama bertendensi untuk membentuk kepribadian manusia. Pribadi yang penuh dengan kesabaran dan kepedulian, serta pribadi yang dipenuhi dengan hawa muthmainnah yang serba menentramkan.
Dalam berbahasa yang berbeda, Prof Quraish Shihab dalam buku Membumikan Alquran mengingatkan bahwa puasa semestinya bisa mendorong dan membentuk manusia menjadi pribadi yang disinari dengan sifat-sifat ketuhanan. Misalnya, Tuhan memiliki sifat rahman dan rahim yang penuh dengan kasih sayang, manusia hendaknya juga menanamkan dan mengaplikasikan sifat kasih sayang itu dalam kehidupan sehari-hari.
Hanya saja, sekali lagi, manusia yang dibekali akal pikiran dan hawa nafsu sering kali lalai atas tuntunan dan tuntutan Tuhan yang termaktub dalam kitab suci-Nya. Ditambah dengan eksistensi syaitan yang diizinkan Tuhan untuk menggoda manusia, menggoda untuk lalai pada tuhan, menggoda untuk kufur atas nikmat-Nya, menggoda untuk tidak peduli kepada sesama, dan godaan-godaan negatif lainnya.
Oleh karenanya, Ramadan menjadi momentum terbaik untuk mereparasi nilai-nilai kebaikan dalam diri yang terkikis di luar bulan Ramadhan. Satu rintangan berupa syaitan sudah dikurangi di bulan Ramadhan, mereka dibelenggu agar tidak bisa menggoda manusia. Berbagai macam amaliah dan kebakan dilipatgandakan pahalanya untuk memacu manusia tetap ‘stay tune’ berbuat dan menyebarkan kebaikan. Kurang apa lagi coba?
Satu lagi, Alquran juga menginformasikan akan hadirnya Lailatul Qadar di bulan Ramadhan. Sebagaimana diterangkan dalam Alquran Surat al-Qadr, lailatul qadri khairun min alfi syahrin, malam lailatul qadar lebih bernilai dari pada seribu bulan. Seyogyanya setiap detik dalam bulan Ramadhan dijadikan momentum untuk instrospeksi diri (muhasabah) dan meng-up grade perilaku baik dan membawa kebaikan sesama. Selamat menikmati keberkahan Ramadan, selamat memperingati nuzulul quran.
Ahmad Munif, Santri Lifeskill Daarun Najaah Kota Semarang, Dosen FSH UIN Walisongo. Jatengdaily.com–st
0



